Saturday, April 28, 2018

AVENGERS: INFINITY WAR

Bertepatan dengan 10 tahun bergulirnya Marvel Cinematic Universe (MCU) yang dimulai sejak Iron Man (2008) hingga Black Panther yang tayang pada Februari 2018 kemarin, Marvel menghadirkan puncak atau klimaks dari semuanya itu melalui Avengers: Infinity War. Sebanyak 18 film sebelumnya yang sebagian besar ceritanya berkutat seputar Infinity Stones akhirnya menemukan titik terangnya di film ini. Terutama sosok Thanos yang selama ini masih samar-samar bagi penonton. Filmnya sendiri sudah tayang sejak tanggal 25 April kemarin di kawasan Indonesia. Btw, ini merupakan film Avengers pertama yang tidak disutradarai langsung oleh Joss Whedon. Hasil luar biasa dari Captain America: Winter Soldier dan Captain America: Civil War membuat Joe & Anthony Russo mendapatkan kehormatan untuk menyutradarai film ini.

Avengers: Infinity War sejatinya menawarkan horor dan kecemasan bagi kubu Avengers. Walaupun di dalamnya masih terselip humor atau guyonan lucu, secara keseluruhan filmnya kali ini lebih mencekam, gelap dan menakutkan. Terlebih lagi alien sekelas Thanos yang kuat sekaligus menyeramkan sepanjang sejarah MCU, menunjukkan taringnya di sini. Jangan berani macam-macam dengan sosok luar angkasa asal Planet Titan ini. Apa yang dikhawatirkan oleh para superhero, termasuk kita selaku penonton, ternyata benaran terjadi. Ambisi Thanos mengumpulkan semua Infinity Stones agar menjadi kuat setaraf dewa sealam semesta akhirnya terealisasi. Mampukah superhero mengalahkan, menaklukkan bahkan menumbangkan Thanos?

Avengers: Infinity War menghadirkan cerita yang solid, padat dan gampang untuk dipahami. Selain itu juga film ini menguras habis semua emosi yang ada. Jangan lupa siapkan tisu bila hendak menontonnya. Adegan aksi yang dahsyat dalam film ini mampu memanjakan mata penonton, khususnya 1 jam menjelang filmnya berakhir.

Dengan eksekusi yang bagus, serta ekspektasi yang sesuai harapan, film yang total memakan durasi 2,5 jam ini pada akhirnya meninggalkan segudang pertanyaan bagi kita. Teori-teori pun bermunculan. Bila sudah begini, terpaksa kita harus menunggu jawabannya yang mungkin akan terjawab pada film Avengers selanjutnya yang tayang pada tahun depan.

8,5/10

Thursday, March 08, 2018

Pahaga Himba

Tanggal 7 Maret 2018 kemarin, Trvekvli x JeLoDee, duo hip-hop/rapper asal Palangka Raya merilis sebuah debut mini album kolaborasi yang diberi tajuk Pahaga Himba. Pahaga Himba sendiri sejatinya merupakan bahasa Dayak Ngaju yang memiliki arti Penjaga Hutan Dalam. Nama ini dipilih dengan tujuan mampu menggambarkan apa yang sedang disuarakan Trvekvli dan Jelodee. Dengan bahasa yang lugas dan tajam serta diiringi dengan alunan musik terkini yang dibalut nuasa etnic Dayak, mereka mencoba menyuarakan kejadian yang terjadi di Palangka Raya, seperti ketimpangan sosial daerah dengan ibu kota, kemarahan pada penjarahan hutan Borneo, kritik terhadap hoax, hate speech dan problematika di sosial media.

Mini album ini total berisikan 5 buah lagu. Track pertama diisi dengan tembang berjudul Percuma Kita Bukan Jakarta (04:02). Sebuah track pembuka dengan intro serta komposisi musik yang secara keseluruhan manis sekali. Vitra, sang frontman dari Kelinci Pohon, turut memberikan sentuhan vokalnya di bagian reff pada lagu ini. Ini adalah track favorit saya.

Selanjutnya ada Menentang Sabda (03:27). Diawali dengan orasi yang lantang, lagu ini terasa begitu kental dengan ungkapan dan sindiran pada hal yang sifatnya anti perbedaan dan keberagaman. Basingi (04:04) yang menghadirkan Herman (musisi lokal yang penuh bakat), menjadi lagu ketiga dalam mini album ini. Basingi adalah bahasa Dayak Ngaju yang berarti marah. Lagunya sendiri cukup catchy dengan perpaduan musik etnik, piano dan ornamen musik lainnya yang membuat lagu ini terasa "grande".

Lagu berikutnya yaitu Fobia (03:14), tembang dengan durasi terpendek. Vitra kembali mengisi di lagu ini. Tidak hanya Vitra, tetapi juga ditemani oleh Tere. Sesuai judulnya, lagu ini menceritakan serta menggambarkan situasi yang mengagungkan persatuan (demi kepentingan) namun pada kenyataannya justru fobia perbedaan. Dan Orator (04:36), yang kembali menampilkan Herman, menjadi track penutup mini album ini. Isinya penuh dengan kritik sosial yang sedang marak akhir-akhir ini. It's a very tough song!

Secara keseluruhan, Pahaga Himba bagi saya adalah sebuah debut mini album yang begitu solid dan kuat. Segala pandangan dan unek-unek dari Trvekvli x JeLoDee yang selama ini (mungkin) tertahan, berhasil dimuntahkan melalui rilisan karya ini. Apa yang telah disuarakan oleh mereka layak menjadi perenungan kita bersama.

Maju terus musisi lokal Palangka Raya!

Pahaga Himba dapat disimak dan diunduh di: www.ripstore.asia/pahagahimba

Saturday, February 17, 2018

BLACK PANTHER

Setelah tampil singkat dalam Captain America: Civil War, kembali kita menyaksikan aksi T'Challa alias Black Panther dalam film solonya dengan mengambil timeline beberapa waktu setelah kejadian Civil War. Black Panther adalah film pertama Marvel Cinematic Universe (MCU) di tahun 2018 ini. Menyusul berikutnya nanti adalah Avengers: Infinity Wars dan Ant-Man and the Wasp. Black Panther kali ini lebih menitikberatkan pada pendalaman karakter T'Challa, sang Raja Wakanda. Di sini juga digambarkan secara detail apa itu yang disebut dengan Wakanda, sebuah negeri "tersembunyi" di benua hitam Afrika dan jauh dari peradaban namun justru memiliki pengetahuan dan teknologi yang lebih maju dari negara mana pun.

Bisa dibilang Black Panther adalah sisi lain yang begitu unik dari MCU. Anggap saja ini adalah versi "tribal"-nya Marvel. Karakter-karakter di dalamnya yang begitu kuat, cerita yang berlapis, visual yang bagus plus disisipi dengan keeksotisan Afrika nan cantik makin menambah daya pesona film ini. Pemilihan lagu yang menjadi backsound film ini juga sangat terasa pas sekali. Kadar humor yang ditampilkan juga cukup oke untuk mengocok perut penonton. Menjadikan Black Panther adalah tontonan yang direkomendasikan buat kalian.

Namun jangan berharap di sini akan dijumpai adegan aksi yang super luar biasa layaknya pertarungan antar superhero di airport dalam film Civil War. Karena filmnya sendiri lebih manusiawi. Walaupun begitu, akan ada beberapa adegan aksi yang bisa memukau penonton. Intrik-intrik yang ditawarkan pun cukup asyik disimak hingga tak terasa durasi sudah hampir mencapai 2 jam.

Yang membuat film ini makin manis adalah banyaknya pesan-pesan terselubung di dalam film ini. Pesan untuk tidak menjadikan ras ataupun perbedaan bukan sebagai bahan olok-olokan. Banyak kepentingan-kepentingan minoritas budaya kulit hitam ditampilkan di sini yang diharapkan memang dapat membuka mata hati siapa saja yang menontonnya.

Wakanda Forever!

8/10