Bertepatan dengan 10 tahun bergulirnya Marvel Cinematic Universe (MCU) yang dimulai sejak Iron Man (2008) hingga Black Panther yang tayang pada Februari 2018 kemarin, Marvel menghadirkan puncak atau klimaks dari semuanya itu melalui Avengers: Infinity War. Sebanyak 18 film sebelumnya yang sebagian besar ceritanya berkutat seputar Infinity Stones akhirnya menemukan titik terangnya di film ini. Terutama sosok Thanos yang selama ini masih samar-samar bagi penonton. Filmnya sendiri sudah tayang sejak tanggal 25 April kemarin di kawasan Indonesia. Btw, ini merupakan film Avengers pertama yang tidak disutradarai langsung oleh Joss Whedon. Hasil luar biasa dari Captain America: Winter Soldier dan Captain America: Civil War membuat Joe & Anthony Russo mendapatkan kehormatan untuk menyutradarai film ini.
Avengers: Infinity War sejatinya menawarkan horor dan kecemasan bagi kubu Avengers. Walaupun di dalamnya masih terselip humor atau guyonan lucu, secara keseluruhan filmnya kali ini lebih mencekam, gelap dan menakutkan. Terlebih lagi alien sekelas Thanos yang kuat sekaligus menyeramkan sepanjang sejarah MCU, menunjukkan taringnya di sini. Jangan berani macam-macam dengan sosok luar angkasa asal Planet Titan ini. Apa yang dikhawatirkan oleh para superhero, termasuk kita selaku penonton, ternyata benaran terjadi. Ambisi Thanos mengumpulkan semua Infinity Stones agar menjadi kuat setaraf dewa sealam semesta akhirnya terealisasi. Mampukah superhero mengalahkan, menaklukkan bahkan menumbangkan Thanos?
Avengers: Infinity War menghadirkan cerita yang solid, padat dan gampang untuk dipahami. Selain itu juga film ini menguras habis semua emosi yang ada. Jangan lupa siapkan tisu bila hendak menontonnya. Adegan aksi yang dahsyat dalam film ini mampu memanjakan mata penonton, khususnya 1 jam menjelang filmnya berakhir.
Dengan eksekusi yang bagus, serta ekspektasi yang sesuai harapan, film yang total memakan durasi 2,5 jam ini pada akhirnya meninggalkan segudang pertanyaan bagi kita. Teori-teori pun bermunculan. Bila sudah begini, terpaksa kita harus menunggu jawabannya yang mungkin akan terjawab pada film Avengers selanjutnya yang tayang pada tahun depan.
8,5/10
Showing posts with label ironman. Show all posts
Showing posts with label ironman. Show all posts
Saturday, April 28, 2018
Thursday, April 28, 2016
CAPTAIN AMERICA: CIVIL WAR
Captain America: Civil War berhasil membuka fase ketiga dari Marvel Cinematic Universe (MCU) dengan apik dan memukau. Total fun! Duo sutradara yang memiliki hubungan adik kakak, yakni Anthony Russo dan Joe Russo, yang sebelumnya juga menggarap Captain America: The Winter Soldier, sekali lagi menampilkan sebuah karya yang layak untuk diacungi jempol. Sama seperti The Winter Soldier, Civil War kental dengan "tone" dan pendekatan yang berbau politik serta berbumbu thriller.
Secara kasat mata, Civil War adalah film yang mengisahkan "tawuran" antar superhero yang melibatkan tim Captain America dan tim Iron Man. Namun jelas ini bukan sekadar asal tawuran. Karena di dalamnya begitu banyak menampilkan permainan ego, idealisme, sarat akan emosi dan intrik. Duo sutradara berhasil menggali dan mengembangkan satu per satu karakter yang ada di film ini dengan sukses. Terlebih karakter utama yang berperan dalam konflik ini. Yaitu Captain America dan Iron Man. Didasari latar belakang militer, Captain America/Steve Rogers berpikir dengan logika dan etika. Sedangkan Iron Man/Tony Stark adalah pebisnis atau pengusaha, wajar bila ia seorang oportunis. Perselisihan dan perbedaan cara pandang antara dua orang "pemimpin" ini, serta tentunya juga campur tangan pihak ketiga yang memanfaatkan situasi inilah yang menjadi tema dalam film Civil War kali ini. Dan penonton dipaksa untuk memilih untuk mendukung di pihak yang mana.
Setengah jam pertama alur Civil War berjalan lambat. Bisa dimaklumi karena "plot" sedang dibangun. Setelah itu barulah film mulai berjalan dengan intens. Dan puncaknya adalah saat pertarungan maha megah serta hancur-hancuran antara tim Captain America dan tim Iron Man di airport. Saya yakin siapapun orangnya pasti terkesima dengan rentetan aksi di bagian ini. Bahkan bisa dibilang ini merupakan adegan aksi TERBAIK dari semua adegan aksi yang pernah ada di Marvel Cinematic Universe hingga saat ini!
Dan tentu saja, kehadiran pendatang baru Spider-Man dan Black Panther di Civil War ini benar-benar mencuri perhatian audiensi. Bahkan hebat! Kredit layak disematkan kepada Tom Holland dan Chadwick Boseman. Di mana Tom Holland berhasil memerankan Peter Parker yang aneh, kikuk, canggung dan jago guyon. Serta Chadwick Boseman yang sukses menokohkan seorang T'Challa yang memiliki kharisma pemberani, agung dan berinteligensi. Pihak Marvel/Disney melakukan casting pemain yang benar dan jenius! Kehadiran dua tokoh ini selain menjadi pelengkap yang pas, juga menawarkan kedinamisan yang seimbang bagi tim.
Bukan Marvel namanya bila tidak menghadirkan joke-joke yang menggelitik perut, baik itu yang datangnya dari verbal maupun bahasa tubuh yang konyol. Setidaknya dapat memberikan penyegaran di tengah seru dan derasnya konflik yang terjadi di Civil War ini.
Civil War akhirnya menjadi penyempurna bagi trilogi Captain America yang sudah dimulai sejak tahun 2011 lalu. Masih belum ada trilogi terbaik yang dimiliki oleh Marvel Cinematic Universe selain triloginya Captain America ini (trilogi Iron Man masih kalah jauh!). Semoga hal positif ini dapat menular ke film-film superhero Marvel Cinematic Universe lainnya.
Sebagai konklusi, Captain America: Civil War yang total berdurasi sekitar 2,5 jam ini sukses menjadi penghantar yang menawan bagi kehadiran Avengers: Infinity War. Menarik untuk diikuti konflik-konflik serta intrik apalagi yang akan terjadi di Marvel Cinematic Universe. Juga akan seperti apa dan bagaimana taktik Marvel/Disney berikutnya untuk memberikan tontonan superhero yang memuaskan bagi penonton awam maupun fanboy.
8,5/10.
Akan ada dua adegan tambahan. Yaitu di mid-credit dan post-credit. Tak terlalu penting sih. Jika malas menunggu, silakan diabaikan dan langsung keluar meninggalkan studio saja. Hehe.
Secara kasat mata, Civil War adalah film yang mengisahkan "tawuran" antar superhero yang melibatkan tim Captain America dan tim Iron Man. Namun jelas ini bukan sekadar asal tawuran. Karena di dalamnya begitu banyak menampilkan permainan ego, idealisme, sarat akan emosi dan intrik. Duo sutradara berhasil menggali dan mengembangkan satu per satu karakter yang ada di film ini dengan sukses. Terlebih karakter utama yang berperan dalam konflik ini. Yaitu Captain America dan Iron Man. Didasari latar belakang militer, Captain America/Steve Rogers berpikir dengan logika dan etika. Sedangkan Iron Man/Tony Stark adalah pebisnis atau pengusaha, wajar bila ia seorang oportunis. Perselisihan dan perbedaan cara pandang antara dua orang "pemimpin" ini, serta tentunya juga campur tangan pihak ketiga yang memanfaatkan situasi inilah yang menjadi tema dalam film Civil War kali ini. Dan penonton dipaksa untuk memilih untuk mendukung di pihak yang mana.
Setengah jam pertama alur Civil War berjalan lambat. Bisa dimaklumi karena "plot" sedang dibangun. Setelah itu barulah film mulai berjalan dengan intens. Dan puncaknya adalah saat pertarungan maha megah serta hancur-hancuran antara tim Captain America dan tim Iron Man di airport. Saya yakin siapapun orangnya pasti terkesima dengan rentetan aksi di bagian ini. Bahkan bisa dibilang ini merupakan adegan aksi TERBAIK dari semua adegan aksi yang pernah ada di Marvel Cinematic Universe hingga saat ini!
Dan tentu saja, kehadiran pendatang baru Spider-Man dan Black Panther di Civil War ini benar-benar mencuri perhatian audiensi. Bahkan hebat! Kredit layak disematkan kepada Tom Holland dan Chadwick Boseman. Di mana Tom Holland berhasil memerankan Peter Parker yang aneh, kikuk, canggung dan jago guyon. Serta Chadwick Boseman yang sukses menokohkan seorang T'Challa yang memiliki kharisma pemberani, agung dan berinteligensi. Pihak Marvel/Disney melakukan casting pemain yang benar dan jenius! Kehadiran dua tokoh ini selain menjadi pelengkap yang pas, juga menawarkan kedinamisan yang seimbang bagi tim.
Bukan Marvel namanya bila tidak menghadirkan joke-joke yang menggelitik perut, baik itu yang datangnya dari verbal maupun bahasa tubuh yang konyol. Setidaknya dapat memberikan penyegaran di tengah seru dan derasnya konflik yang terjadi di Civil War ini.
Civil War akhirnya menjadi penyempurna bagi trilogi Captain America yang sudah dimulai sejak tahun 2011 lalu. Masih belum ada trilogi terbaik yang dimiliki oleh Marvel Cinematic Universe selain triloginya Captain America ini (trilogi Iron Man masih kalah jauh!). Semoga hal positif ini dapat menular ke film-film superhero Marvel Cinematic Universe lainnya.
Sebagai konklusi, Captain America: Civil War yang total berdurasi sekitar 2,5 jam ini sukses menjadi penghantar yang menawan bagi kehadiran Avengers: Infinity War. Menarik untuk diikuti konflik-konflik serta intrik apalagi yang akan terjadi di Marvel Cinematic Universe. Juga akan seperti apa dan bagaimana taktik Marvel/Disney berikutnya untuk memberikan tontonan superhero yang memuaskan bagi penonton awam maupun fanboy.
8,5/10.
Akan ada dua adegan tambahan. Yaitu di mid-credit dan post-credit. Tak terlalu penting sih. Jika malas menunggu, silakan diabaikan dan langsung keluar meninggalkan studio saja. Hehe.
Wednesday, April 22, 2015
AVENGERS: AGE OF ULTRON
Tepat di Hari Bumi, 22 April 2015, Avengers: Age of Ultron tayang perdana di Indonesia. Kita mesti bangga. Karena di kawasan Amerika Utara film yang berdurasi 2 jam 30 menit ini akan ditayangkan mulai tanggal 1 Mei mendatang. Indonesia memang sudah dianggap sebagai pemasok penghasilan terbesar bagi beberapa perusahaan film, termasuk Walt Disney (Marvel Comics merupakan perusahaan di bawah bendera Disney). Oleh karena itulah Indonesia mendapat jatah pertama untuk menayangkannya. Antara Hari Bumi dan Age of Ultron ternyata memiliki benang merah. Yaitu Ultron yang berniat menghancurkan Bumi mesti berhadapan langsung dengan tim Avengers yang mencoba menyelamatkan dan melindungi Bumi. Kelahi!
Age of Ultron adalah sebuah konklusi dari Marvel Cinematic Universe (MCU) fase 2. MCU fase 2 dimulai sejak Iron Man 3, Thor: The Dark World dan bermuara ke Captain America: The Winter Soldier. Age of Ultron sudah barang tentu mengambil timeline setelah Captain America: The Winter Soldier. Masih ingat dengan kisahnya? Lupa? Tak apa sih. Dan MCU fase 3 akan dimulai tahun depan melalui film Captain America: Civil War, yang gosipnya akan menengahkan pertikaian antara Captain America dan Iron Man (seperti komiknya).
Agak berbeda dengan The Avengers yang dirilis tahun 2012 lalu itu, Age of Ultron mengambil pendekatan yang agak serius. Joke-joke yang segar memang masih tetap dipertahankan oleh Joss Whedon (sang sutradara). Hanya saja kadarnya dikurangi. Selain itu juga nuansa film terlihat lebih gelap dan suram. Tapi bagi saya bukan menjadi persoalan yang berarti. Alur cerita mengalir lancar apa adanya tanpa memiliki twist-twist yang dapat menyerengitkan dahi.
Adegan aksi cukup memanjakan penonton meskipun, yah tidak ada inovasi baru. Didukung oleh berhamburnya CGI dan spesial efek yang dapat memberikan rasa kagum pada penonton. Terutama saat adegan baku hantam yang serba hancuran-hancuran antara Iron Man vs Hulk. Menjadikan adegan tersebut sebagai adegan favorit saya di film ini.
Selain aksi, sisi emosional juga tampak jelas. Mulai dari complicated-nya kisah asmara Bruce Banner/Hulk dan Natasha Romanova/Black Widow sampai dengan keinginan Clint Baron/Hawk Eye untuk lebih fokus hidup bersama keluarganya. Romansa seperti ini menjadi penyeimbang yang pas di filmnya.
Akan hadir beberapa karakter baru yang tampaknya perannya cukup penting di film-film Avengers berikutnya. Karena melalui karakter baru ini akan muncul bibit-bibit cerita yang dapat dikembangkan ke depannya. Terlebih lagi di ending filmnya nanti kita bisa melihat anggota Avengers terbaru dengan komposisi yang fresh. Tidak sabar rasanya untuk menonton kelanjutan dari kisah Avengers ini.
AVENGERS ASSEMBLE!!!
8/10.
Tambahan:
- Post-credit scene tidak ada. Namun untuk mid-credit scene-nya tetap ada. Dan menurut saya tidak terlalu penting. Biasa saja.
- Banyak cameo di sini. Salah satunya Stan Lee.
Age of Ultron adalah sebuah konklusi dari Marvel Cinematic Universe (MCU) fase 2. MCU fase 2 dimulai sejak Iron Man 3, Thor: The Dark World dan bermuara ke Captain America: The Winter Soldier. Age of Ultron sudah barang tentu mengambil timeline setelah Captain America: The Winter Soldier. Masih ingat dengan kisahnya? Lupa? Tak apa sih. Dan MCU fase 3 akan dimulai tahun depan melalui film Captain America: Civil War, yang gosipnya akan menengahkan pertikaian antara Captain America dan Iron Man (seperti komiknya).
Agak berbeda dengan The Avengers yang dirilis tahun 2012 lalu itu, Age of Ultron mengambil pendekatan yang agak serius. Joke-joke yang segar memang masih tetap dipertahankan oleh Joss Whedon (sang sutradara). Hanya saja kadarnya dikurangi. Selain itu juga nuansa film terlihat lebih gelap dan suram. Tapi bagi saya bukan menjadi persoalan yang berarti. Alur cerita mengalir lancar apa adanya tanpa memiliki twist-twist yang dapat menyerengitkan dahi.
Adegan aksi cukup memanjakan penonton meskipun, yah tidak ada inovasi baru. Didukung oleh berhamburnya CGI dan spesial efek yang dapat memberikan rasa kagum pada penonton. Terutama saat adegan baku hantam yang serba hancuran-hancuran antara Iron Man vs Hulk. Menjadikan adegan tersebut sebagai adegan favorit saya di film ini.
Selain aksi, sisi emosional juga tampak jelas. Mulai dari complicated-nya kisah asmara Bruce Banner/Hulk dan Natasha Romanova/Black Widow sampai dengan keinginan Clint Baron/Hawk Eye untuk lebih fokus hidup bersama keluarganya. Romansa seperti ini menjadi penyeimbang yang pas di filmnya.
Akan hadir beberapa karakter baru yang tampaknya perannya cukup penting di film-film Avengers berikutnya. Karena melalui karakter baru ini akan muncul bibit-bibit cerita yang dapat dikembangkan ke depannya. Terlebih lagi di ending filmnya nanti kita bisa melihat anggota Avengers terbaru dengan komposisi yang fresh. Tidak sabar rasanya untuk menonton kelanjutan dari kisah Avengers ini.
AVENGERS ASSEMBLE!!!
8/10.
Tambahan:
- Post-credit scene tidak ada. Namun untuk mid-credit scene-nya tetap ada. Dan menurut saya tidak terlalu penting. Biasa saja.
- Banyak cameo di sini. Salah satunya Stan Lee.
Sunday, June 02, 2013
OBLIVION, IRON MAN 3 & STAR TREK INTO DARKNESS
Wow, lama banget saya tidak meng-update blog ini. Seperti biasa. Perpaduan antara rasa malas dan tidak memiliki waktu. Haha. Alasan tipis. Padahal kalo ngetwit (main Twitter) sering banget. Okeh, sekedar mengasah kemampuan jari untuk mengetik di papan ketik alias keyboard, kali ini saya akan mereview secara singkat ketiga buah film yang telah saya tonton beberapa waktu kemarin. Yaitu Oblivion, Iron Man 3 dan Star Trek Into Darkness.
Yang pertama, Oblivion. Sebuah film science fiction (saya suka dengan genre film seperti ini) yang dibintangi oleh aktor tampan dan kenamaan, yakni Tom Cruise. Ceritanya memang simple, namun sedikit rumit dan membutuhkan konsentrasi. Terlebih lagi didominasi dengan suasana sepi dan hening. Namun memberikan hasrat yang menggebu-gebu dari menit ke menitnya. Dan klimaks bisa didapat saat ending film. Twist film benar-benar mengejutkan penonton. Film dengan jenis seperti ini tidak bisa dilihat dari story-nya. Melainkan dari segi story development. Special effect yang memukau turut membantu penonton terhibur. Ditambah lagi dengan music scoring-nya yang juga bagus. Alhasil, film ini oke lah untuk ditonton.
Yang kedua, Iron Man 3. Dikatakan sebagai serial terakhir dari trilogi yang direncanakan. Beberapa teman saya, baik itu yang offline maupun online, banyak yang mengatakan bahwa film Iron Man 3 ini sangatlah bagus. Hmm, sedikit berbeda dari saya. Menurutku filmnya biasa saja. Alurnya di agak sedikit lambat di awal film. Menjelang pertengahan barulah alur mulai sedikit ngebut. Dari ceritanya, Iron Man 3 menggambarkan seorang Tony Stark yang sebenarnya juga adalah manusia biasa. Memiliki kelemahan dan juga kekurangan. Namun dengan kelemahan dan kekuranganya itulah bisa memberikan yang terbaik bagi kehidupan manusia. Memberikan kita sebuah pandangan bahwa menjadi superhero itu tidaklah enak. Tidak mudah. Justru memiliki beban dan tanggung-jawab yang harus dihadapi. Dari segi action, Iron Man 3 menawarkan sesuatu yang lebih dibandingkan prekuelnya. Banyak aksi hancur-hancuran. Terlebih lagi, penonton akan dimanjakan dengan banyaknya kehadiran armor Iron Man yang diciptakan oleh Tony Stark. Itu bisa disaksikan saat adegan pamungkas film. Sayang, adegan-adegan yang membutuhkan bantuan CGI justru dihadirkan dalam setting malam hari. Mungkin maksudnya untuk menutup kekurangan CGI, mungkin? Begitu juga dengan karakter villain bernama Mandarin. Tidak sesuai dengan versi komiknya (yang diidam-idamkan oleh fan boy). Yah, apapun itu, Iron Man 3 tetap oke kok untuk dijajal.
Terakhir adalah Star Trek Into Darkness. Jujur, saya bukan seorang penggemar berat Star Trek. Walaupun dulu saya mengikuti serial TV-nya yang pernah ditayangkan oleh salah satu stasiun swasta Indonesia, saya agak buta Star Trek. Karakter-karakternya juga kurang begitu saya kenal. Namun itu tidak menyurutkan saya untuk menonton filmnya. Secara keseluruhan, bisa saya katakan bahwa Star Trek Into Darkness merupakan film yang bagus sekali. Bagi yang buta Star Trek tidak perlu merasa khawatir. Silakan ditonton. Cuma di sini penonton diminta untuk fokus pada dialognya. Sebab bila tidak, akan menghasilkan tanda tanya besar mengapa bisa begini, dan kenapa bisa begitu. Btw, tidak ada yang ingin kursus bahasa Klingon nih?
Yang pertama, Oblivion. Sebuah film science fiction (saya suka dengan genre film seperti ini) yang dibintangi oleh aktor tampan dan kenamaan, yakni Tom Cruise. Ceritanya memang simple, namun sedikit rumit dan membutuhkan konsentrasi. Terlebih lagi didominasi dengan suasana sepi dan hening. Namun memberikan hasrat yang menggebu-gebu dari menit ke menitnya. Dan klimaks bisa didapat saat ending film. Twist film benar-benar mengejutkan penonton. Film dengan jenis seperti ini tidak bisa dilihat dari story-nya. Melainkan dari segi story development. Special effect yang memukau turut membantu penonton terhibur. Ditambah lagi dengan music scoring-nya yang juga bagus. Alhasil, film ini oke lah untuk ditonton.
Yang kedua, Iron Man 3. Dikatakan sebagai serial terakhir dari trilogi yang direncanakan. Beberapa teman saya, baik itu yang offline maupun online, banyak yang mengatakan bahwa film Iron Man 3 ini sangatlah bagus. Hmm, sedikit berbeda dari saya. Menurutku filmnya biasa saja. Alurnya di agak sedikit lambat di awal film. Menjelang pertengahan barulah alur mulai sedikit ngebut. Dari ceritanya, Iron Man 3 menggambarkan seorang Tony Stark yang sebenarnya juga adalah manusia biasa. Memiliki kelemahan dan juga kekurangan. Namun dengan kelemahan dan kekuranganya itulah bisa memberikan yang terbaik bagi kehidupan manusia. Memberikan kita sebuah pandangan bahwa menjadi superhero itu tidaklah enak. Tidak mudah. Justru memiliki beban dan tanggung-jawab yang harus dihadapi. Dari segi action, Iron Man 3 menawarkan sesuatu yang lebih dibandingkan prekuelnya. Banyak aksi hancur-hancuran. Terlebih lagi, penonton akan dimanjakan dengan banyaknya kehadiran armor Iron Man yang diciptakan oleh Tony Stark. Itu bisa disaksikan saat adegan pamungkas film. Sayang, adegan-adegan yang membutuhkan bantuan CGI justru dihadirkan dalam setting malam hari. Mungkin maksudnya untuk menutup kekurangan CGI, mungkin? Begitu juga dengan karakter villain bernama Mandarin. Tidak sesuai dengan versi komiknya (yang diidam-idamkan oleh fan boy). Yah, apapun itu, Iron Man 3 tetap oke kok untuk dijajal.
Terakhir adalah Star Trek Into Darkness. Jujur, saya bukan seorang penggemar berat Star Trek. Walaupun dulu saya mengikuti serial TV-nya yang pernah ditayangkan oleh salah satu stasiun swasta Indonesia, saya agak buta Star Trek. Karakter-karakternya juga kurang begitu saya kenal. Namun itu tidak menyurutkan saya untuk menonton filmnya. Secara keseluruhan, bisa saya katakan bahwa Star Trek Into Darkness merupakan film yang bagus sekali. Bagi yang buta Star Trek tidak perlu merasa khawatir. Silakan ditonton. Cuma di sini penonton diminta untuk fokus pada dialognya. Sebab bila tidak, akan menghasilkan tanda tanya besar mengapa bisa begini, dan kenapa bisa begitu. Btw, tidak ada yang ingin kursus bahasa Klingon nih?
Subscribe to:
Posts (Atom)



