Saturday, September 27, 2014

DEATH VOMIT - Forging a Legacy

Akhirnya penantian panjang itu usai juga. DEATH VOMIT, band beraliran brutal death metal asal kota gudeg Yogyakarta, pada tanggal 25 Agustus 2014 kemarin menelurkan album terbarunya yang diberi tajuk Forging a Legacy. Secara diskografi ini merupakan album full-length mereka yang kedua. Sebelumnya adalah The Prophecy (rilis tahun 2006 silam). Banyak pihak, termasuk saya, yang menunggu-nunggu album terbaru dari DEATH VOMIT ini. Di akun Twitter resmi DEATH VOMIT, pernah disebutkan bahwa sebenarnya mereka memang niat untuk meluncurkan album terbaru pada 2-3 tahun kemarin. Namun mereka mengaku belum puas untuk mendapatkan kualitas sound yang pas untuk merekam album tersebut. Tapi syukurlah, album terbarunya hadir juga. Saya tanpa ragu-ragu ikut memesan CD album tersebut. Album bagus memang layak diapresiasi dan dihargai dengan cara membelinya.

Album Forging a Legacy ini total berisikan 9 buah track lagu. Memakan durasi waktu kurang lebih 33 menit untuk menyimak track pembuka hingga track penutup. Album dibuka dengan sebuah lagu berjudul Decadence of Life (04:05). Menampilkan permainan riff-riff gitar yang berat serta berdistorsi. Memancing pendengar untuk menghentakkan kepala naik turun. Vokal dari Sofyan Hadi terasa cukup mumpuni dan tegas. Saya merasakan bahwa makin lama makin matang saja kualitas vokalnya. Di lagu ini bisa disimak permainan solo gitar Dennis Munoz (SOLSTICE) yang membuat Decandece of Life terdengar manis dan cantik di tengah-tengah gempuran irama yang kencang.

Next song is Evil Rise (03:23). Pada track kedua inilah perjalanan album dimulai. Sangat nge-brutal death metal. Tabuhan drum Roy Agus (juga memiliki project band bernama VENOMED, eks CRANIAL INCISORED, eks DEVOURED) yang hyper-blast ditambah dengan raungan-raungan gitar layaknya angin ribut. Sebuah track yang layak dijadikan highlight dari album ini. Mulai menit ke 01:43 hingga ke 02:20 menjadi momen favoritku di lagu ini. Selesai Evil Rise, dilanjutkan dengan Emerged Rage (03:36) yang juga tidak kalah cadasnya. Sesekali Sofyan Hadi menampilkan aksi menyeringainya. Kickass song!

Chained in Agony (03:50), lagu yang liriknya cukup saya sukai. Tetap menampilkan irama musik yang menderu-deru dari awal hingga akhir. Lagu yang menjadi highlight saya pribadi. Berikutnya ada lagu berjudul Transgression (03:38). Agak variatif dan kompleks secara musik. Love this song too. Berikutnya ada Redemption (03:41). Sama halnya dengan Transgression, lagu ini sudah pernah diluncurkan pada tahun 2011 lalu dalam bentuk promo demo. Redemption menampilkan permainan yang sangat agresif dari ketiga personil DEATH VOMIT. Sangat wajar jika dijadikan sebagai highlight album. Saat saya menjadi penyiar radio di salah satu radio swasta di kota Palangka Raya ini, lagu Redemption banyak sekali mendapatkan rekues. Hanya sekedar intermezzo.

Berikutnya, Dark Ancient (04:06). Lagu dengan durasi terpanjang yang ada dalam album ini. Dahsyat sekali! Demikian pula Murder (04:00). Bedanya, pada Murder terlihat aksi vokal yang bersahut-sahutan antara Sofyan Hadi dan Oki Haribowo (VENOMED, eks BRUTAL CORPSE, eks MORTAL SCREAM). Mengingatkan saya dengan DYING FETUS saja. Murder is another kickass song in this album! Feel free to headbang your fucking head! Dan akhirnya lagu yang beruntung terpilih sebagai penutup album adalah Imposing Decade Remains (03:10). Saya merasa lagu ini merupakan kelanjutan dari track pembuka tadi, yaitu Decadence of Life. Lagu ini didedikasikan kepada Dwi Wulan Agung Widodo yang meninggal tahun 2000 silam. Saya belum dapat informasi siapa orang itu. Sepertinya memiliki hubungan yang sangat emosional dengan para personil DEATH VOMIT. Bisa disimak melalui permainan musiknya yang sedikit suram dengan tempo yang sedang sambil diiringi petikan gitar yang menambah kelamnya lagu tersebut. Salut!

Forging a Legacy bagi saya merupakan sebuah album yang sangat direkomendasikan sekali untuk disimak, khususnya penikmat sejati musik beraliran death metal/brutal death metal. Secara teknis dan kualitas sound albumnya tidak perlu diragukan lagi! Untuk sementara saya anggap sebagai album metal terbaik sampai dengan bulan September 2014 ini. Silakan dapatkan albumnya ini. Tidak terlalu mahal. Dengan membeli karyanya langsung berarti turut mensupport band ini. Dan tentunya membantu mengisi perut mereka.

IN DEATH WE TRUST, IN BRUTAL WE BLAST! HORNS UP!!!

Saturday, September 13, 2014

X JAPAN - THE WORLD

Pada tanggal 17 Juni 2014 kemarin, X JAPAN merilis sebuah album kompilasi yang diberi tajuk THE WORLD. Album ini merupakan sebuah album yang menandakan 25 tahun mereka telah berkarir di dunia musik sejak tahun 1989 silam. Di dalamnya sendiri berisikan lagu-lagu terbaiknya X JAPAN. Dan semua lagu tersebut telah melalui proses remastering untuk kesekian kalinya. Dan beruntunglah kita yang tinggal di Indonesia ini. THE WORLD dirilis oleh perusahaan Warner Music Indonesia pada awal bulan September kemarin dengan harga Rp. 115.000,- (tergolong mampu dijangkau oleh siapa saja, khususnya penggemar berat X JAPAN). Dan kebetulan saya telah memesan secara online (via Creative Disc) dan mendapatkan album ini.

Album kompilasi THE WORLD terdiri atas 2 buah keping CD. CD 1 merupakan kumpulan-kumpulan lagu, diantaranya: WEEK END, SCARS, Rusty Nail, Silent Jealousy, ENDLESS RAIN, DAHLIA, Forever Love, Kurenai, Amethyst (LIVE VERSION), X (LIVE VERSION) dan terakhir sebuah lagu yang didedikasikan untuk HIDE, Without You (LIVE VERSION). Sedangkan CD 2 adalah Art of Life (yang termuat dari sebuah mini album berjudul sama).

Dari komposisi di atas, THE WORLD menurut saya cukup oke buat dimiliki. Pemilihan lagu-lagunya sudah lumayan pas. Hanya sayangnya, beberapa lagu X JAPAN favorit saya seperti Tears dan CRUCIFY MY LOVE tidak tercakup di dalamnya. But, it's okay.

Demikian.

WE ARE X!

Tuesday, September 09, 2014

LUCY

Lucy adalah sebuah karya terbaru dari sutradara Luc Besson yang dikenal para penikmat dan pecinta film melalui The Fifth Element yang sempat beken itu. Rilis pada akhir bulan Juli kemarin. Film ini diperankan oleh aktris cantik nan sexy Scarlett Johansson. Tentunya kita tidak asing lagi dengan wanita ini, yang kerap kali mengundang decak kagum dalam aksinya sebagai Black Widow di film-film Marvel Studio milik Disney.

Secara garis besar, film ini berceritakan tentang seorang wanita yang secara tidak sengaja terlibat dengan mafia obat terlarang/narkoba. Ia pun dipaksa menjadi seorang kurir dimana barang obat terlarang/narkoba tersebut diselundupkan pada bagian dalam tubuhnya. Suatu ketika, obat terlarang/narkoba itu pecah. Memberikan efek pada Lucy. Efek tersebut adalah meningkatkan kinerja kapasitas otak. Rata-rata manusia hanya bisa menggunakan kapasitas otak cuma 10%, maka Lucy mampu mencapai 100%. Dari sinilah kisah bermulai.

Dapat saya katakan bahwa film Lucy ini sangat science-fiction sekali (there you go, sci-fi freaks!). Premisnya sudah dapat. Sayang eksekusinya saja yang agak lemah. Namun setidaknya kita bisa mempelajari dan menambah pengetahuan tentang apa itu yang namanya otak dan cara memanfaatkannya. Walaupun relatif, penampilan Johansson yang hot turut memberikan kredit tersendiri bagi film ini. Adegan aksi cukup banyak. Cuma agak disayangkan Johansson kurang terlalu terlibat dalam adegan aksi yang hand-to-hand combat.

Banyak pesan yang terkandung di dalam film ini. Contohnya bahwa manusia itu terlalu sibuk memiliki (having) ketimbang menjadi (being). Juga, film ini mengajarkan bahwa manusia itu sebenarnya mahluk spiritual saat ia mampu mengatasi dan melampui dirinya sendiri. Ending dari Lucy mungkin bagi sebagian orang terbilang jelek, nanggung ataupun mengagetkan. Namun saya rasa itu sudah pas, sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan oleh Luc Besson.

Jadi, tidak ada salahnya sih untuk menonton film ini.

Semoga berkenan.

NB: Kredit buat Deetopia atas beberapa pandangannya akan film ini.

Wednesday, September 03, 2014

HERCULES

SEE THE TRUTH BEHIND THE MYTH. Bila dicermati dengan seksama, maka kalimat tadi bisa dikatakan merupakan gambaran secara keseluruhan dari film Hercules yang dibintangi oleh Dwayne "The Rock" Johnson ini.

Sang sutradara, Brett Ratner, yang juga sempat mengerjakan trilogi Rush Hour dan menggarap X-Men: The Last Stand sukses menceritakan kisah Hercules dengan pendekatan yang sangat membumi. Membuat penonton bertanya penasaran apakah benar Hercules itu setengah dewa, anak dari Zeus? Atau hanya seonggok daging saja layaknya kita-kita ini? Terus, apakah benar Hercules mengalahkan Lernaean Hydra (ular berkepala banyak) dan juga Nemean Lion (singa raksasa) itu? Juga, apakah Cerberus (anjing berkepala tiga) itu benar-benar ada? Sekilas akan ada jawabannya di filmnya nanti.

Di film ini jangan berharap bakal ada penampakan dari dewa-dewi mitologi Yunani sebagaimana film-film Hercules sebelumnya. Jangan juga berpikiran akan ada perang sihir/magic yang di luar nalar. Pokoknya serba masuk akal. Sampai dengan adegan pertempurannya yang tidak terkesan lebay.

Ceritanya sendiri cukup ringan. Tidak perlu berpikir keras untuk mencerna isi cerita Hercules ini. Just enjoy it. Adegan aksi cukup banyak dengan koreografi laga yang apik. Sayangnya, adegan violence dan gore-nya tidak kentara. Bisa dimaklumi karena ratingnya saja PG-13 (aman untuk dikonsumsi remaja). Terdapat sedikit drama pada ceritanya. Oh ya, saya agak terkejut dengan ceritanya karena terdapat twist plot yang tidak disangka-sangka. Boleh lah.

Lantas apakah filmnya bagus? Apakah layak tonton? Jujur jika saya diberikan pertanyaan seperti ini maka saya merasa sukar untuk menjawabnya. Jawaban diplomatis yang bisa saya berikan adalah bahwa pada dasarnya selera itu relatif. Yang namanya bagus itu juga sama-sama relatif. Ada baiknya ditonton dulu filmnya, barulah bisa dan dipersilakan untuk menilai seperti apa filmnya itu sendiri.

Kalo saya sih film ini fine-fine saja untuk ditonton. Setidaknya Hercules merupakan satu-satunya film musim panas ter-oke yang menampilkan pria kekar berotot penuh dengan hormon testosteron.

Salam.

Tambahan:
Film Hercules ini didasari oleh grafik novel berjudul Hercules: The Thracian Wars.

Friday, August 22, 2014

Gitaris dan Doktor Fisika

Awalnya, Brian May adalah seorang fisikawan. Ia memulai menyusun disertasinya pada tahun 1974. Namun karena pada waktu itu Queen, grup band legendaris yang digawanginya, tengah naik daun, proyek itu ia hentikan. Pada 1991, ketika Freddie Mercury, sang vokalis, meninggal akibat HIV/AIDS yang diidapnya, ia tetap mencoba untuk tampil eksis di dunia musik. Ia sempat menciptakan beberapa lagu Queen, membuat album kompilasi dan bermusik dengan beberapa grup band yang ada.

Pada 2006, niat untuk kembali menyelesaikan disertasinya muncul. Dan pada Agustus 2007 lalu, ia resmi menjadi seorang Doktor. Pada Februari 2008 ia diangkat menjadi seorang Rektor di sebuah kampus bernama Liverpool John Moores University, Inggris. Sebelumnya jabatan itu dipegang oleh Charie Blair, istri dari Tony Blair, mantan perdana menteri Inggris.

Ketika menjadi gitaris Queen, ia merancang gitarnya bersama ayahnya. Gitar tersebut diberi nama Red Special. Brian May adalah seorang gitaris yang tidak pernah berhenti berinovasi untuk menciptakan sound yang unik dan sulit ditiru oleh gitaris lain. Ketika gitaris lain menggunakan pick gitar agar dapat memainkan melodi dengan lebih cepat, ia justru menggunakan sebuah koin uang lawas. Ia mengaku memiliki ribuan koin, hanya sekedar jaga-jaga agar tidak khawatir kehabisan.

Brian May adalah sosok pembelajar. Gitaris dan doktor Fisika ini tidak ingin berdiam diri dalam memaknai kehidupannya. Usia tak pernah menjadi rintangan dan hambatan untuk mencari ilmu, mengembangkan diri dan mencari cara agar hidupnya mendatangkan manfaat bagi orang lain.

Satu hal yang bisa dipetik dari tulisan di atas adalah bahwa yang namanya belajar itu tidak mengenal usia. Dan juga tidak ada belajar yang sia-sia.

Salam.

Credit to Sidik Nugroho.