Saturday, August 24, 2019

Tugu Dewan Nasional Saksi Bisu Kalteng Calon Ibu Kota

Bisa dibilang jejak sejarah Kalteng sebagai lokasi ibu kota Indonesia tidak hanya berupa Tugu Pemancangan Tiang Pertama Pembangunan Kota Palangka Raya oleh Presiden Soekarno di Jl. S. Parman itu saja. Tetapi juga dibuktikan dengan keberadaan Tugu Dewan Nasional yang bisa dijumpai di halaman Museum Balanga Jl. Tjilik Riwut Km 2,5 Palangka Raya. Tugu ini memiliki tinggi kurang lebih 5 meter dengan maskot sebuah guci. Tugu inilah yang menjadi gagasan awal pembangunan calon ibu kota masa depan oleh Soekarno.

Sejarah tentang tugu ini ada di dalam buku berjudul Kronik Kalimantan (ditulis oleh Nila Riwut) dan pernyataan dari almarhum Prof. Dr. Roeslan Abdulgani yang saat itu menjadi Wakil Dewan Nasional dan menjadi atasan Gubernur Kalteng Tjilik Riwut. Pernyataan dalam bentuk video tersebut diabadikan oleh cucu Tjilik Riwut, Clara Anindita.

Penetapan calon ibu kota ditetapkan dalam sebuah rapat atau kongres Dewan Nasional yang diketuai oleh Presiden Soekarno. Tjilik Riwut yang saat itu adalah Gubernur Kalteng menjadi salah satu anggota Dewan Nasional (bahkan mewakili Kalimantan). Dengan membawa data-data dan peta sebagai pelengkap, Tjilik Riwut mengusulkan agar ibu kota harus dipindahkan ke luar Jakarta. Selain karena Jakarta sudah banyak diisi oleh kepentingan asing, juga karena Kalteng  berada persis di tengah-tengah Indonesia dan tidak akan diganggu oleh kekuatan-kekuatan luar. Gagasan dari Tjilik Riwut ini langsung diterima oleh seluruh anggota Dewan Nasional dan sepakat Kalteng akan menjadi ibu kota.

Kemudian Bung Karno membentuk panitia untuk menindaklanjuti usulan tersebut. Presiden Soekarno juga memerintahkan Prof. Roeslan Abdulgani untuk meresmikan Tugu Dewan Nasional sebagai penanda kesepakatan. Tugu tersebut dibangun di Jl. Tangkiling Km 2,5 yang kini posisinya ada di halaman Museum Balanga Jl. Tjilik Riwut, Palangka Raya.

Dirangkum dari berbagai sumber: Nila Riwut, Esau A. Tambang, Kalteng Pos, dan Tabengan Online.

Sunday, August 18, 2019

Upacara Bendera HUT RI di Lokasi Kebakaran Lahan

Pada peringatan HUT ke-74 Republik Indonesia kemarin (Sabtu, 17/8/2019), saya bersama dengan kawan-kawan dari berbagai komunitas mengikuti upacara bendera di lokasi kebakaran lahan. Adapun lahan yang menjadi lapangan upacara tersebut bertempat di Jl. G. Obos X, Palangka Raya. Warga Kota Palangka Raya kerap menyebut daerah sini dengan istilah "lingkar dalam". Seperti yang saya saksikan dengan mata kepala sendiri, wilayah tersebut sepanjang kiri dan kanan jalan telah mengalami kebakaran yang tergolong parah. Asap tebal dan tipis sesekali api juga masih keluar dari gambut. Sesuai dengan karakteristik gambut, gambut ini memang susah sekali untuk dipadamkan. Memadamkannya memang memerlukan trik tersendiri. Atau bisa juga dengan membasahi gambut secara terus-terusan hingga rongga-rongga gambut di bawahnya terendam habis oleh air. Sebab, bila tidak begitu, walaupun api berhasil dipadamankan, dipastikan dalam beberapa waktu kemudian api akan kembali naik dan menyala kembali. Luar biasa sekali memang yang namanya gambut ini.

Oke, kembali ke topik. Aksi upacara bendera di lokasi kebakaran lahan ini dilaksanakan sebagai bentuk kegelisahan atas kondisi Kota Palangka Raya yang semakin hari semakin disesaki asap kebakaran lahan gambut. Kegiatan yang diinisiasi oleh kawan-kawan dari Institut Tingang Borneo Teater berjalan dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Mungkin sekitar 20-30 menit. Upacara langsung diawali dengan pengibaran bendera merah putih, dimana yang bertugas membawakan, menggerek, danmengibarkan bendera adalah siswa dari SMA 5 Palangka Raya. Setelah itu dilanjutkan dengan pembacaan naskah Teks Proklamasi. Disusul kemudian dengan menyanyikan lagu "Hari Merdeka" oleh seluruh peserta upacara, termasuk saya sendiri. Sebuah lagu yang sudah lama tidak saya dendangkan namun untungnya saya masih tetap hafal dengan liriknya. Dan akhirnya upacara bendera ini ditutup dengan pembacaan puisi oleh Abdul Hafidz berjudul "Bhinneka Tunggal ISPA". Sebuah puisi yang diciptakan oleh teman saya juga, yakni Arif Rosidin. Isinya begitu luar biasa. Siapapun yang membacanya saya yakin akan merasa tertampar.

Di sela-sela upacara bendera tersebut, helikopter water bombing kerap melintas di atas kepala kami. Maklum, karena lahan di sebelah tempat kami mengadakan upacara mengalami kebakaran. Bahkan beberapa orang polisi dari satuan Brimob juga tampak membantu memadamkan api dengan modal mobil water canon. Dari sini saya berkaca, bahwa upaya memadamkan kebakaran lahan itu tidak semudah dan seenak yang kita bayangkan. Berjibaku menghadapi api serta terpapar asap itu sungguh
menguras tenaga. Bahkan secara keras dapat saya katakan bahwa itu juga mempertaruhkan nyawa. Jadi ini mungkin menjadi pembelajaran bagi kita agar kita setidaknya sedikit memberikan apresiasi dan pengertian kepada seluruh petugas pemadam kebakaran hutan dan lahan. Tidak ada salahnya juga bila kita mengiringi tugas mereka dengan doa-doa memohon keselamatan dan permohonan kesehatan yang prima.

Kebakaran hutan dan lahan yang melanda Kalimantan Tengah tahun 2019 ini bila tidak serius ditangani dan dibenahi maka jangan heran bila tragedi tahun 2015 akan terulang kembali. Oleh karena itu diperlukan kerjasama dan koordinasi yang apik antara pemerintah, masyarakat, dll agar jangan membakar hutan dan lahan secara sembarangan. Edukasi, usaha pencegahan, dan pengawasan jauh lebih baik ketimbang penanganan atau memadamkan kebakaran.

Semoga Kalimantan Tengah di masa-masa mendatang baik-baik saja. Jangan lengah dan terlena. Itu saja kuncinya.

Foto: Denar/Kalteng Pos

Saturday, January 05, 2019

(Visual-kei) NAZARE

Lama tidak mendengarkan lagu-lagu dari band Jepang beraliran visual-kei. Iseng mampir ke website JaME World, eh ada tajuk utama  yang menampilkan sebuah wawancara bersama band baru bernama NAZARE. Saya baca sedikit ulasannya, cukup menarik. Hingga akhirnya saya mencoba untuk mendengarkan PV (video klip) pertama mereka yang berjudul Koufukuron. Nice! Walaupun memang terasa sangat mirip DIR EN GREY, setidaknya band ini memiliki prospek asalkan mereka mampu mempertunjukkan jati diri sebenarnya. Dalam artian, bermain musik yang sesuai dengan karakter bandnya, bukan sekadar band copycat. Sebab band ini sudah didukung oleh personil yang secara skill bisa dikatakan di atas rata-rata. Diberitakan juga bahwa bulan Januari ini NAZARE akan merilis sebuah album yang berisikan 16 buah lagu. Gila, gak tanggung-tanggung! 

Well, penasaran seperti apa NAZARE itu? Silakan ditonton video klip pertama mereka, Koufukuron di bawah ini.

Monday, September 17, 2018

Terima Kasih, Path!

Setelah beberapa hari yang lalu warganet diramaikan dengan isu Path akan segera tutup, akhirnya siang ini isu tersebut terjawab sudah. Melalui aplikasi dan akun Twitter resminya, Path mengumumkan bahwa platform media sosial yang telah beroperasi sejak tahun 2010 ini akan resmi menghentikan layanannya per tanggal 18 Oktober 2018 mendatang. Path tidak lantas pergi begitu saja. Sebagai tanggung jawabnya, Path memberikan kesempatan kepada semua pemilik akun untuk memback-up data (baik itu berupa video, foto, dll) dengan cara mengisi alamat e-mail. Kemungkinan besar data back-up tersebut akan dikirim via e-mail dalam berupa tautan dan pengguna tinggal mengunduhnya saja.

Saya kurang mengetahui apa alasan Path memutuskan untuk menutup layanannya. Namun satu hal yang pasti, Path memang mulai sepi belakangan ini. Saat kejayaannya (sekitar tahun 2013-2014) Path begitu digetoli oleh penggunanya. Saking bekennya saat itu, beberapa persen saham aplikasi ini sempat dibeli oleh perusahaan milik Bakrie Global Group.

Banyak alasan yang melatari kenapa orang-orang mulai enggan bermain Path. Mulai dari sistemnya yang terlalu privacy, banyak yang nge-spam/nyampah, monoton, dikatakan sebagai tempat ajang pamer juga caper, bobot aplikasi yang terlalu berat di hape/gadget, hingga dirasa kalah canggih dan kreatif dibandingkan platform media sosial lainnya, contoh nyatanya seperti Instagram.

Karena sepi itulah kepopuleran Path jadi jauh berkurang. Tidak heran bagi saya apabila akhirnya Path memutuskan untuk menghentikan layanannya. Itu memang hal biasa yang harus dilakukan. Apabila tidak dapat lagi memberikan keuntungan secara finansial, bahkan malah banyak kerugiannya, buat apa dipertahankan lagi.

Walau begitu, bagi saya Path sempat menjadi salah satu tempat favorit untuk bercerita, berbagi, menulis review, maupun sekadar nongkrong sambil memperhatikan aktivitas-aktivitas dari sahabat, teman serta rekan. Banyak fitur dari Path yang menjadi favorit penggunanya. Mulai dari mendengarkan musik, menonton film bioskop atau serial TV, membaca buku, check-in place, #pathdaily, hingga sleep/awake-nya itu. Rasa sedih akan kepergian Path sudah jelas pasti ada. Sangat beralasan mengingat Path merupakan salah satu media sosial yang begitu banyak menyimpan kenangan.

Sayonara, Path. Terima kasih atas waktunya selama ini.

Sunday, September 02, 2018

Heart of Borneo

Apa itu Heart of Borneo? Borneo adalah pulau terbesar ketiga di dunia serta memiliki keanekaragaman hayati global di hutan tropisnya yang kaya. Setidaknya ada 13 spesies pritama, 350 spesies burung, dan 15.000 spesies tumbuhan. Termasuk di dalamnya spesies karismatik, Orangutan, Badak Sumatera, dan Gajah Borneo, serta floranya yang beragam yaitu Kantong Semar, Anggrek Hitam dan Bunga Rafflesia.

Heart of Borneo (HoB) atau yang juga dikenal sebagai Jantung Borneo merupakan inisiatif tiga negara yaitu Brunei Darussalam, Indonesia dan Malaysia untuk pengelolaan kawasan hutan tropis Borneo berdasarkan prinsip pembangunan berkelanjutan dan konservasi. Tujuannya untuk mempertahankan dan memelihara keberlanjutan manfaat salah satu kawasan hutan hujan terbaik yang masih tersisa di Borneo bagi kesejahteraan generasi sekarang dan mendatang. Ikut menjaga kelestarian kawasan Heart of Borneo berarti kita juga melindungi bumi