Saturday, September 13, 2014

X JAPAN - THE WORLD

Pada tanggal 17 Juni 2014 kemarin, X JAPAN merilis sebuah album kompilasi yang diberi tajuk THE WORLD. Album ini merupakan sebuah album yang menandakan 25 tahun mereka telah berkarir di dunia musik sejak tahun 1989 silam. Di dalamnya sendiri berisikan lagu-lagu terbaiknya X JAPAN. Dan semua lagu tersebut telah melalui proses remastering untuk kesekian kalinya. Dan beruntunglah kita yang tinggal di Indonesia ini. THE WORLD dirilis oleh perusahaan Warner Music Indonesia pada awal bulan September kemarin dengan harga Rp. 115.000,- (tergolong mampu dijangkau oleh siapa saja, khususnya penggemar berat X JAPAN). Dan kebetulan saya telah memesan secara online (via Creative Disc) dan mendapatkan album ini.

Album kompilasi THE WORLD terdiri atas 2 buah keping CD. CD 1 merupakan kumpulan-kumpulan lagu, diantaranya: WEEK END, SCARS, Rusty Nail, Silent Jealousy, ENDLESS RAIN, DAHLIA, Forever Love, Kurenai, Amethyst (LIVE VERSION), X (LIVE VERSION) dan terakhir sebuah lagu yang didedikasikan untuk HIDE, Without You (LIVE VERSION). Sedangkan CD 2 adalah Art of Life (yang termuat dari sebuah mini album berjudul sama).

Dari komposisi di atas, THE WORLD menurut saya cukup oke buat dimiliki. Pemilihan lagu-lagunya sudah lumayan pas. Hanya sayangnya, beberapa lagu X JAPAN favorit saya seperti Tears dan CRUCIFY MY LOVE tidak tercakup di dalamnya. But, it's okay.

Demikian.

WE ARE X!

Tuesday, September 09, 2014

LUCY

Lucy adalah sebuah karya terbaru dari sutradara Luc Besson yang dikenal para penikmat dan pecinta film melalui The Fifth Element yang sempat beken itu. Rilis pada akhir bulan Juli kemarin. Film ini diperankan oleh aktris cantik nan sexy Scarlett Johansson. Tentunya kita tidak asing lagi dengan wanita ini, yang kerap kali mengundang decak kagum dalam aksinya sebagai Black Widow di film-film Marvel Studio milik Disney.

Secara garis besar, film ini berceritakan tentang seorang wanita yang secara tidak sengaja terlibat dengan mafia obat terlarang/narkoba. Ia pun dipaksa menjadi seorang kurir dimana barang obat terlarang/narkoba tersebut diselundupkan pada bagian dalam tubuhnya. Suatu ketika, obat terlarang/narkoba itu pecah. Memberikan efek pada Lucy. Efek tersebut adalah meningkatkan kinerja kapasitas otak. Rata-rata manusia hanya bisa menggunakan kapasitas otak cuma 10%, maka Lucy mampu mencapai 100%. Dari sinilah kisah bermulai.

Dapat saya katakan bahwa film Lucy ini sangat science-fiction sekali (there you go, sci-fi freaks!). Premisnya sudah dapat. Sayang eksekusinya saja yang agak lemah. Namun setidaknya kita bisa mempelajari dan menambah pengetahuan tentang apa itu yang namanya otak dan cara memanfaatkannya. Walaupun relatif, penampilan Johansson yang hot turut memberikan kredit tersendiri bagi film ini. Adegan aksi cukup banyak. Cuma agak disayangkan Johansson kurang terlalu terlibat dalam adegan aksi yang hand-to-hand combat.

Banyak pesan yang terkandung di dalam film ini. Contohnya bahwa manusia itu terlalu sibuk memiliki (having) ketimbang menjadi (being). Juga, film ini mengajarkan bahwa manusia itu sebenarnya mahluk spiritual saat ia mampu mengatasi dan melampui dirinya sendiri. Ending dari Lucy mungkin bagi sebagian orang terbilang jelek, nanggung ataupun mengagetkan. Namun saya rasa itu sudah pas, sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan oleh Luc Besson.

Jadi, tidak ada salahnya sih untuk menonton film ini.

Semoga berkenan.

NB: Kredit buat Deetopia atas beberapa pandangannya akan film ini.

Wednesday, September 03, 2014

HERCULES

SEE THE TRUTH BEHIND THE MYTH. Bila dicermati dengan seksama, maka kalimat tadi bisa dikatakan merupakan gambaran secara keseluruhan dari film Hercules yang dibintangi oleh Dwayne "The Rock" Johnson ini.

Sang sutradara, Brett Ratner, yang juga sempat mengerjakan trilogi Rush Hour dan menggarap X-Men: The Last Stand sukses menceritakan kisah Hercules dengan pendekatan yang sangat membumi. Membuat penonton bertanya penasaran apakah benar Hercules itu setengah dewa, anak dari Zeus? Atau hanya seonggok daging saja layaknya kita-kita ini? Terus, apakah benar Hercules mengalahkan Lernaean Hydra (ular berkepala banyak) dan juga Nemean Lion (singa raksasa) itu? Juga, apakah Cerberus (anjing berkepala tiga) itu benar-benar ada? Sekilas akan ada jawabannya di filmnya nanti.

Di film ini jangan berharap bakal ada penampakan dari dewa-dewi mitologi Yunani sebagaimana film-film Hercules sebelumnya. Jangan juga berpikiran akan ada perang sihir/magic yang di luar nalar. Pokoknya serba masuk akal. Sampai dengan adegan pertempurannya yang tidak terkesan lebay.

Ceritanya sendiri cukup ringan. Tidak perlu berpikir keras untuk mencerna isi cerita Hercules ini. Just enjoy it. Adegan aksi cukup banyak dengan koreografi laga yang apik. Sayangnya, adegan violence dan gore-nya tidak kentara. Bisa dimaklumi karena ratingnya saja PG-13 (aman untuk dikonsumsi remaja). Terdapat sedikit drama pada ceritanya. Oh ya, saya agak terkejut dengan ceritanya karena terdapat twist plot yang tidak disangka-sangka. Boleh lah.

Lantas apakah filmnya bagus? Apakah layak tonton? Jujur jika saya diberikan pertanyaan seperti ini maka saya merasa sukar untuk menjawabnya. Jawaban diplomatis yang bisa saya berikan adalah bahwa pada dasarnya selera itu relatif. Yang namanya bagus itu juga sama-sama relatif. Ada baiknya ditonton dulu filmnya, barulah bisa dan dipersilakan untuk menilai seperti apa filmnya itu sendiri.

Kalo saya sih film ini fine-fine saja untuk ditonton. Setidaknya Hercules merupakan satu-satunya film musim panas ter-oke yang menampilkan pria kekar berotot penuh dengan hormon testosteron.

Salam.

Tambahan:
Film Hercules ini didasari oleh grafik novel berjudul Hercules: The Thracian Wars.

Friday, August 22, 2014

Gitaris dan Doktor Fisika

Awalnya, Brian May adalah seorang fisikawan. Ia memulai menyusun disertasinya pada tahun 1974. Namun karena pada waktu itu Queen, grup band legendaris yang digawanginya, tengah naik daun, proyek itu ia hentikan. Pada 1991, ketika Freddie Mercury, sang vokalis, meninggal akibat HIV/AIDS yang diidapnya, ia tetap mencoba untuk tampil eksis di dunia musik. Ia sempat menciptakan beberapa lagu Queen, membuat album kompilasi dan bermusik dengan beberapa grup band yang ada.

Pada 2006, niat untuk kembali menyelesaikan disertasinya muncul. Dan pada Agustus 2007 lalu, ia resmi menjadi seorang Doktor. Pada Februari 2008 ia diangkat menjadi seorang Rektor di sebuah kampus bernama Liverpool John Moores University, Inggris. Sebelumnya jabatan itu dipegang oleh Charie Blair, istri dari Tony Blair, mantan perdana menteri Inggris.

Ketika menjadi gitaris Queen, ia merancang gitarnya bersama ayahnya. Gitar tersebut diberi nama Red Special. Brian May adalah seorang gitaris yang tidak pernah berhenti berinovasi untuk menciptakan sound yang unik dan sulit ditiru oleh gitaris lain. Ketika gitaris lain menggunakan pick gitar agar dapat memainkan melodi dengan lebih cepat, ia justru menggunakan sebuah koin uang lawas. Ia mengaku memiliki ribuan koin, hanya sekedar jaga-jaga agar tidak khawatir kehabisan.

Brian May adalah sosok pembelajar. Gitaris dan doktor Fisika ini tidak ingin berdiam diri dalam memaknai kehidupannya. Usia tak pernah menjadi rintangan dan hambatan untuk mencari ilmu, mengembangkan diri dan mencari cara agar hidupnya mendatangkan manfaat bagi orang lain.

Satu hal yang bisa dipetik dari tulisan di atas adalah bahwa yang namanya belajar itu tidak mengenal usia. Dan juga tidak ada belajar yang sia-sia.

Salam.

Credit to Sidik Nugroho.

Tuesday, August 19, 2014

GUARDIANS OF THE GALAXY

Jujur, sebelum ada film ini saya sama sekali tidak tahu persis apa itu Guardians of the Galaxy. Komiknya saja belum pernah saya baca. Jadi agak sedikit buta apakah ini nama sebuah tim/kelompok yang berisikan superhero atau bagaimana. Namun setelah menyaksikan film ini, akhirnya saya, dan kalian juga tentunya nanti, tahu dengan sendirinya.

Guardians of the Galaxy merupakan film untuk kesekian kalinya yang diproduksi oleh Marvel Studio. Tapi tenang. Film ini sifatnya masih berdiri sendiri. Dalam artian kalian tidak perlu bersusah payah untuk mengingat cerita dari film-film Marvel Studio sebelumnya (khususnya Marvel Cinematic Universe), seperti Iron Man 3, Thor: The Dark World maupun Captain America: The Winter Soldier. Film Guardians of the Galaxy masih sebatas perkenalan dan pendalaman beberapa karakternya saja.

Lantas, secara keseluruhan bagaimanakah filmnya? Saya sih suka banget! Seru dan menghibur mulai dari awal hingga akhir durasi. Selain spesial efeknya yang top notch itu serta adegan aksi yang memberikan keseruan tersendiri, filmnya juga memiliki sisi drama yang manis serta komedi yang tak jarang bisa membuat penonton tertawa renyah. Kelucuan-kelucuan datang dari karakter bernama Groot (sejenis manusia pohon) yang lugu polos dan Rocket Raccoon (binatang mirip kucing) yang tingkah polanya kocak. Tak ayal, Groot dan Rocket menjadi bintangnya dalam film ini. Oh iya. Saya kemarin sempat baca di sebuah situs komik luar, gegara film ini penjualan komik Rocket Raccoon (karakter yang satu ini ada komiknya sendiri loh) naik drastis. Wow!

Tidak banyak yang bisa saya ceritakan lagi di sini. Pada intinya silakan ditonton filmnya. Direkomendasikan banget. Anda yang bukan penggemar komiknya pun saya rasa layak untuk menyaksikan film yang disutradarai oleh James Gunn ini. Bila tidak ada aral melintang filmnya akan tayang secara reguler mulai hari Kamis besok, tanggal 20 Agustus 2014. Saya berniat ingin menonton filmnya lagi. Soalnya saat nonton midnight kemarin ada beberapa adegan yang tidak saya saksikan akibat tertidur (sekitar 5-10 menitan). Maklum, kecapekan. LOL!

Oh iya, salah satu hal lainnya yang juga membuat film ini keren adalah semua soundtracknya mengambil lagu-lagu lama, sekitar tahun '70 dan '80-an. Berkelas! Akan saya buru album soundtracknya.

Ada 2 buah adegan tambahan setelah filmnya selesai. Pada mid-credit scene dan post-credit scene (paling akhir). Untuk post-credit scene saya rasa tidak terlalu penting-penting amat. Jadi saya sarankan mending langsung pulang saja daripada harus dipelototin sama petugas securitynya.

Semoga berkenan.

Tambahan:
Berapa trivia yang saya comot dari situs IMDb:
- The cassette player used by Peter Quill was the Sony TPS-L2. It was the first personal cassette player released in 1979. It was originally called the "Soundabout", then changed to "Walkman".
- The soundtrack album "Awesome Mix, Vol. 1" reached number one on the US Billboard 200 chart, the first film soundtrack ever to reach number one without a single original song.