Thursday, June 22, 2017

TRANSFORMERS: THE LAST KNIGHT

Menonton Transformers itu ibarat menonton pertandingan sepak bola timnas. Kita sudah tahu hasilnya akan jelek, tapi tetap saja kukuh untuk membeli tiket dan menontonnya. Well, maafkan saya jika analogi di atas terdengar cukup kasar. Tapi kenyataannya memang berbicara seperti itu. Makin ke belakang kualitas film-film Transformers makin menyedihkan dan mengecewakan. Bahkan mendapatkan kritikan yang tajam sampai dengan caci maki. Namun anehnya, walau seperti itu film ini selalu masuk dalam box office, yang diartikan memperoleh jumlah penonton dan pendapatan yang luar biasa. Dan itu belum termasuk keuntungan lainnya seperti merchandise, dll. Tak bisa dipungkiri, ditilik dari sisi lain Transformers merupakan salah satu franchise terbesar dan tergemilang Hollywood.

Sekuel keempatnya kali ini, Transformers: The Last Knight, juga bisa disebut kurang memuaskan. Mungkin kalo bahasa teknisnya film ini masuk dalam kategori "popcorn movie". Di mana di dalamnya tidak ada alur cerita, momen maupun drama yang penting. Pesan-pesan yang disampaikan juga tidak terlihat secara eksplisit. Adegan-adegan aksi selalu mengalami pengulangan seperti terdahulunya (tak ada kejutan baru). Dan ditambah lagi dengan durasinya yang terlalu kelamaan. Transformers: The Last Knight ini dapat dibilang sebagai sebuah tontonan sekadar penghibur saja yang menawarkan aksi pertarungan antar robot dan ledakan demi ledakan yang memanjakan mata penonton. Namun satu poin plus yang ada dalam film ini adalah penggabungan antara science fiction dengan sejarah, yakni kisah legenda dari daratan Inggris, yaitu King Arthur. Cukup menarik.

Franchise ini sudah berada pada titik jenuh. Dan rasanya sudah layak untuk diremajakan kembali. Bisa berupa reboot, remake, dll. Terserah mau pakai cara apa. Tak mungkin franchise besar ini dihentikan begitu saja karena pihak studio menyadari sekali bahwa menghentikan franchise ini sama saja artinya dengan menutup ladang duit. Dan faktor terpenting dalam peremajaan film ini adalah sang sutradara. Saya rasa Michael Bay sudah cukup perannya sampai di sini.

Transformers: The Last Knight sepertinya akan menjadi film Transformers terakhir yang saya tonton di bioskop. Saya sudah merasa ogah untuk menyaksikan sekuelnya lagi.

Akhir kata, sangat disarankan menonton film ini dengan penuh rasa ikhlas tanpa harus kecewa dan merasa rugi karena telah mengeluarkan duit membeli tiket. Pokoknya enjoy saja. Terlebih bila menontonnya bersama gebetan atau pasangan.

5/10

Friday, June 09, 2017

KRKT CENDOKUR (CENDOLIN 2017) YUK!

Pada hari Jumat, tanggal 9 Juni 2017, Kaskus Regional Kalimantan Tengah (KRKT) menggelar aksi bagi-bagi cendol secara gratis yang diberi tajuk "KRKT CENDOKUR (CENDOLIN 2017) YUK!" Ini merupakan rutinitas tahunan yang diadakan oleh Kaskus Pusat dalam rangka bulan suci Ramadan. Kegiatan ini telah berlangsung sejak tahun 2015 kemarin dan melibatkan seluruh regional yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Bukan hanya Indonesia, tetapi juga sampai ke luar negeri (Malaysia). Nah, untuk tahun ini selain membagikan cendol secara gratis, Kaskus juga membagikan donat dan kurma. Tentu saja ini sebuah bekal berbuka puasa yang sudah terbilang lumayan mengenyangkan perut.

Sekitar Pkl. 15.30 WIB, anggota KRKT tiba di titik kumpul yang telah disepakati, yaitu Taman Kota Yos Sudarso (seberang TVRI Kalimantan Tengah). Tak perlu membuang-buang waktu, semuanya langsung bergerak mempersiapkan segala macam persiapan. Mulai dari menuangkan cendol ke dalam gelas, memasukkan donat dan kurma ke dalam plastik terus membungkusnya, sampai dengan menentukan siapa yang bertugas membagikan cendol.

Tepat pada pukul 17.00 WIB, pembagian cendol, donat serta kurma gratis dimulai. Secara terkoodinasi anggota KRKT membagi-bagikan cendol, donat dan kurma kepada pengguna jalan yang melintas di Jl. Yos Sudarso. Tampak warga Kota Palangka Raya antusias dengan aksi ini. Saking antusiasnya, menyebabkan antrian yang cukup panjang. Untung saja tidak menyebabkan kemacetan. Hanya dalam kurun waktu selama 15 menit, 200 gelas cendol, 200 donat dan 200 kurma ludes tak bersisa. Sukses!

Waktu yang tersisa dipakai untuk beristirahat santai sejenak sambil menunggu adzan magrib berkumandang alias beduk masjid tanda waktunya buka puasa. Selepas melepas dahaga dengan menikmati minuman cendol yang memang sengaja disisakan untuk panitia dan anggota KRKT, akhirnya anggota KRKT membubarkan diri. Ada yang langsung pulang ke rumah, dan ada juga yang melanjutkan dengan makan bersama di warung makan terdekat.

Demikianlah aksi Cendolin 2017 yang dilakukan oleh KRKT. Tentunya pasti ada dong kekurangan di dalam pelaksanaan aksi tersebut. Namun secara keseluruhan, acara ini dapat berjalan lancar dan aman. Terima kasih sebesar-besarnya diucapkan kepada seluruh kawan-kawan anggota KRKT yang telah sudi meluangkan waktu untuk datang serta berpartisipasi dalam kegiatan ini. Saya selaku Aktivis Regional Kalteng juga mengucapkan terima kasih khusus kepada rekan-rekan dari Palangka Raya Clean Action, adik-adik dari SMK Negeri 2 Palangka Raya dan Es Dawet Ayu Family Khas Banjarnegara yang sudah turut membantu dalam kegiatan ini.

Akhir kata, sampai ketemu lagi pada kegiatan-kegiatan KRKT lainnya. Berbeda-beda tapi tetap nyendol juga!.

 
 
 

Thursday, June 08, 2017

THE MUMMY

Semenjak Marvel Studio sukses dengan menciptakan alur Marvel Cinematic Universe (MCU)-nya, beberapa studio dan produser besar Hollywood langsung terbelalak dan melihat ini sebagai peluang bisnis yang menggiurkan. Dan akhirnya Warner Bros turut serta dengan DC Extended Universe (DCEU)-nya. Tak ketinggalan Legendary Pictures yang ikut bersaing dengan ide menggabungkan antara King Kong dan Godzilla dalam suatu wadah bernama MonsterVerse. Dan kali ini yang paling terbaru adalah Dark Universe, sebuah usaha miliknya Universal Studios yang mengambil konsep karakter/monster/mahluk dari film-film horor klasik yang pernah ada dalam Universal Studios. Seperti Dracula, Frankenstein, Mummy, Invisible Man, Wolfman, Phantom of the Opera, Creature from the Black Lagoon, dan masih banyak lagi. The Mummy yang rilis mulai Rabu (7/6/2017) kemarin di wilayah Indonesia diberi kepercayaan sebagai film pembuka dalam alur Dark Universe.

Film yang disutradarai oleh Alex Kurtzman dan dibintangi oleh aktor besar seperti Tom Cruise, Russell Crowe dan Sofia Boutella ini memang sebuah reboot dari film dengan judul yang sama tahun 1997 silam. Yang bikin beda adalah kali ini gender Mummy-nya yang mengambil sosok wanita. Selain itu, versi rebootnya lebih mengedepankan unsur horor, walaupun masih tetap dalam nuansa action. Berbeda dengan versi terdahulu (diperankan Brendan Fraser, Rachel Weisz) yang memang lebih ke arah action comedy. Jadi siap-siap saja dengan beberapa jump scare yang dapat membuat jantung penonton berhenti dalam sekian detik.

Secara keseluruhan, bagi saya The Mummy cukup layak buat ditonton. Tom Cruise, seorang aktor yang sangat menjual dengan kharismanya itu, tampil oke dan prima mengingat usianya yang tak muda lagi. Namun dalam film ini, jujur kita masih melihat Tom Cruise yang identik dengan Ethan Hunt dalam seri Mission Impossible. Susah melepaskan bayang-bayang itu. Beberapa kelemahan dalam film ini mungkin adalah kurang menyatunya hubungan antar karakter, proses editing antar scene-nya yang terasa janggal, beberapa aksi yang kurang greget, dan lain-lainnya. Tapi apapun itu semua, The Mummy masih bisa dibilang solid sebagai sebuah origin story serta film pembuka dari Dark Universe mengingat banyak sekali nama-nama besar yang terlibat di dalamnya. Cukup menarik untuk diikuti dan melihat sepak terjang Dark Universe ke depannya.

6,5/10

Setelah The Mummy, akan diteruskan dengan Bride of Frankenstein yang rencananya rilis pada Februari 2019.

Thursday, June 01, 2017

WONDER WOMAN

Wonder Woman is Gal Gadot. And Gal Gadot is Wonder Woman. Perempuan asal Israel berdarah Yahudi ini tak bisa dipungkiri lagi betul-betul berhasil menyatu dengan karakter dan jiwa Diana Prince, salah satu trinity dalam skuad Justice League. Siapa yang tak menyangka. Beberapa tahun sebelumnya saat Gal Gadot ditunjuk sebagai pemeran Wonder Woman banyak suara-suara sumbang yang meragukan kemampuan dan kapasitas gadis yang sempat terpilih menjadi Miss Israel 2004 ini untuk memerankan tokoh ikonik tersebut. Namun pada akhirnya, penampilan Gal Gadot dalam Batman v Superman: Dawn of Justice berhasil mencuri perhatian dan mematahkan keraguan orang-orang, khususnya fanboy. Dan kejutan ternyata berlanjut pada film Wonder Woman yang saya tonton kemarin. What can I say? Kecantikan, karisma dan pesonanya semakin berbinar. Dalam segi aksi, pengalaman Gal Gadot yang sempat bergabung dan ditempa dalam Israeli Defence Forces (IDF, TNI-nya Israel) sangat mendukung dirinya untuk melakukan beberapa adegan dalam film secara gesit dan luwes. Sudah selayaknya kita memuja perempuan tangguh ini.

Wonder Woman adalah film ke-empat dalam alur DC Extended Universe (DCEU). Sebelumnya ada Man of Steel, Batman v Superman: Dawn of Justice dan Suicide Squad. Ketiga film ini memiliki kesamaan. Yaitu gagal dan mendapat kritikan serta review negatif nan pedas. Hal ini diakibatkan mulai dari terlalu banyaknya campur tangan pihak studio, kontinuitas cerita yang membingungkan, terlalu serius, terkesan gloomy sampai dengan gelap. Nah, poin inilah yang dilihat oleh sutradara Wonder Woman, yakni Patty Jenkins. Dengan berbagai perubahan yang cukup signifikan dan tak mau terjebak dengan film-film DCEU sebelumnya, Wonder Woman berhasil menjadi sebuah tontonan yang apik dan epik! Cukup simple dengan editing yang baik. Gampang dimengerti tanpa harus berpikir keras. Filmnya terlihat natural, terlebih lagi disisipi dengan sisi humor yang jenaka, membuat penonton semakin terbius dan jatuh cinta dengan keluguan dari seorang Wonder Woman. Secara cerita, film ini mengambil konsep origin story. Dimana menjelaskan secara detail asal usul Diana Prince selaku pejuang dari suku Amazon hingga menjadi Wonder Woman.

Tak dapat disangkal lagi, Wonder Woman adalah film DCEU terbaik hingga saat ini! Semoga baik itu pihak DC maupun Warner Bros bisa memetik hikmah dari keberhasilan dan kesuksesan film Wonder Woman ini untuk dapat menampilkan film-film DCEU lainnya lebih bagus lagi sesuai dengan yang diharapkan. Dan ini juga menandakan bahwa persaingan antara DC dan Marvel kembali bergulir. Siapa yang diuntungkan? Tentunya kita selaku penonton.

8/10

Penampilan Gal Gadot masih bisa kita simak kembali dalam film Justice League yang rencananya tayang pada bulan November nanti.

Tuesday, May 23, 2017

Penghargaan dari Mongabay Indonesia

Saat sesi talk show di @america, Pacific Place Mall lt. III
Suatu kebanggaan tersendiri bagi saya karena bisa bertatap muka langsung dengan Rhett A. Butler selaku founder & CEO Mongabay dalam acara Mongabay Indonesia 5th Anniversary, Kamis, 18 Mei 2017, di @atamerica Pacific Place Mall, Jakarta Selatan, kemarin. Pada kesempatan itu, selain sharing dan talk show, saya juga diberi penghargaan oleh Mongabay Indonesia, yaitu Penghargaan Pegiat dan Pelestari Lingkungan 2017 Kategori Sosial Budaya (Digital Activist).

Adapun saya mendapatkan penghargaan tersebut karena pihak Mongabay Indonesia melihat dan menganggap bahwa saya berperan penting dalam penyampaian informasi saat Kalimantan Tengah, khususnya Kota Palangka Raya, dilanda kabut asap yang hebat tahun 2015 kemarin. Foto-foto seputar kabut dan kebakaran hutan yang saya posting melalui akun Twitter @infoplk ternyata justru dapat membuka mata orang-orang di luar, termasuk media, akan kondisi sebenarnya bahwa kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kalimantan Tengah sudah demikian parahnya.

Tampak juga pada foto di atas adalah Tuan Guru Hasanain Juaini (mengenakan peci) dan Prof. Tukirin Partomihardjo, di mana kedua orang ini memang dapat dikatakan sebagai pakar lingkungan yang sudah banyak melakukan penelitian dan riset.

Berita lebih lanjut terkait Mongabay Indonesia 5th Anniversary bisa diakses dan baca di:
Mongabay Indonesia Genap 5 Tahun: Terima kasih atas Dukungan Para Pembaca
Foto: Kemeriahan Perayaan HUT ke-5 Mongabay Indonesia