Thursday, March 08, 2018

Pahaga Himba

Tanggal 7 Maret 2018 kemarin, Trvekvli x JeLoDee, duo hip-hop/rapper asal Palangka Raya merilis sebuah debut mini album kolaborasi yang diberi tajuk Pahaga Himba. Pahaga Himba sendiri sejatinya merupakan bahasa Dayak Ngaju yang memiliki arti Penjaga Hutan Dalam. Nama ini dipilih dengan tujuan mampu menggambarkan apa yang sedang disuarakan Trvekvli dan Jelodee. Dengan bahasa yang lugas dan tajam serta diiringi dengan alunan musik terkini yang dibalut nuasa etnic Dayak, mereka mencoba menyuarakan kejadian yang terjadi di Palangka Raya, seperti ketimpangan sosial daerah dengan ibu kota, kemarahan pada penjarahan hutan Borneo, kritik terhadap hoax, hate speech dan problematika di sosial media.

Mini album ini total berisikan 5 buah lagu. Track pertama diisi dengan tembang berjudul Percuma Kita Bukan Jakarta (04:02). Sebuah track pembuka dengan intro serta komposisi musik yang secara keseluruhan manis sekali. Vitra, sang frontman dari Kelinci Pohon, turut memberikan sentuhan vokalnya di bagian reff pada lagu ini. Ini adalah track favorit saya.

Selanjutnya ada Menentang Sabda (03:27). Diawali dengan orasi yang lantang, lagu ini terasa begitu kental dengan ungkapan dan sindiran pada hal yang sifatnya anti perbedaan dan keberagaman. Basingi (04:04) yang menghadirkan Herman (musisi lokal yang penuh bakat), menjadi lagu ketiga dalam mini album ini. Basingi adalah bahasa Dayak Ngaju yang berarti marah. Lagunya sendiri cukup catchy dengan perpaduan musik etnik, piano dan ornamen musik lainnya yang membuat lagu ini terasa "grande".

Lagu berikutnya yaitu Fobia (03:14), tembang dengan durasi terpendek. Vitra kembali mengisi di lagu ini. Tidak hanya Vitra, tetapi juga ditemani oleh Tere. Sesuai judulnya, lagu ini menceritakan serta menggambarkan situasi yang mengagungkan persatuan (demi kepentingan) namun pada kenyataannya justru fobia perbedaan. Dan Orator (04:36), yang kembali menampilkan Herman, menjadi track penutup mini album ini. Isinya penuh dengan kritik sosial yang sedang marak akhir-akhir ini. It's a very tough song!

Secara keseluruhan, Pahaga Himba bagi saya adalah sebuah debut mini album yang begitu solid dan kuat. Segala pandangan dan unek-unek dari Trvekvli x JeLoDee yang selama ini (mungkin) tertahan, berhasil dimuntahkan melalui rilisan karya ini. Apa yang telah disuarakan oleh mereka layak menjadi perenungan kita bersama.

Maju terus musisi lokal Palangka Raya!

Pahaga Himba dapat disimak dan diunduh di: www.ripstore.asia/pahagahimba

Saturday, February 17, 2018

BLACK PANTHER

Setelah tampil singkat dalam Captain America: Civil War, kembali kita menyaksikan aksi T'Challa alias Black Panther dalam film solonya dengan mengambil timeline beberapa waktu setelah kejadian Civil War. Black Panther adalah film pertama Marvel Cinematic Universe (MCU) di tahun 2018 ini. Menyusul berikutnya nanti adalah Avengers: Infinity Wars dan Ant-Man and the Wasp. Black Panther kali ini lebih menitikberatkan pada pendalaman karakter T'Challa, sang Raja Wakanda. Di sini juga digambarkan secara detail apa itu yang disebut dengan Wakanda, sebuah negeri "tersembunyi" di benua hitam Afrika dan jauh dari peradaban namun justru memiliki pengetahuan dan teknologi yang lebih maju dari negara mana pun.

Bisa dibilang Black Panther adalah sisi lain yang begitu unik dari MCU. Anggap saja ini adalah versi "tribal"-nya Marvel. Karakter-karakter di dalamnya yang begitu kuat, cerita yang berlapis, visual yang bagus plus disisipi dengan keeksotisan Afrika nan cantik makin menambah daya pesona film ini. Pemilihan lagu yang menjadi backsound film ini juga sangat terasa pas sekali. Kadar humor yang ditampilkan juga cukup oke untuk mengocok perut penonton. Menjadikan Black Panther adalah tontonan yang direkomendasikan buat kalian.

Namun jangan berharap di sini akan dijumpai adegan aksi yang super luar biasa layaknya pertarungan antar superhero di airport dalam film Civil War. Karena filmnya sendiri lebih manusiawi. Walaupun begitu, akan ada beberapa adegan aksi yang bisa memukau penonton. Intrik-intrik yang ditawarkan pun cukup asyik disimak hingga tak terasa durasi sudah hampir mencapai 2 jam.

Yang membuat film ini makin manis adalah banyaknya pesan-pesan terselubung di dalam film ini. Pesan untuk tidak menjadikan ras ataupun perbedaan bukan sebagai bahan olok-olokan. Banyak kepentingan-kepentingan minoritas budaya kulit hitam ditampilkan di sini yang diharapkan memang dapat membuka mata hati siapa saja yang menontonnya.

Wakanda Forever!

8/10

Thursday, November 16, 2017

JUSTICE LEAGUE

Berkaca dari Batman v Superman: Dawn of Justice yang dianggap terlalu serius dan berat serta mendapat banyak cemooh dari kritikus, sang sutradara Zack Snyder mulai menunjukkan perubahannya melalui Justice League ini. Justice League ibarat penebusan dosa. Kali ini Zack Snyder mendengar saran dari orang-orang bagaimana seharusnya film superhero yang baik dan benar itu. Fans berat dari superhero DC Comics mungkin akan sedikit mengomel karena film ini terkesan mainstream, bahkan mirip Marvel Cinematic Universe. Walaupun masih ada beberapa kekurangan dan hal yang belum memuaskan, tak ayal Justice League sukses menjadi sebuah tontonan yang menyenangkan.

Memakan total waktu 120 menit, Justice League menawarkan alur yang lurus-lurus saja, gampang dicerna dan jauh dari intrik-intrik berat. Sejak awal Justice League langsung menyajikan segudang aksi-aksi yang seru serta menegangkan. Tak ada lagi namanya itu dialog-dialog panjang nan menjemukan.

Secara lini masa, Justice League mengambil setting setelah kejadian dalam Batman v Superman: Dawn of Justice. Dunia masih berduka atas kematian Superman. Di tengah-tengah kedukaan itu, muncul ancaman bagi umat manusia. Untuk menghadapi ancaman tersebut, Batman dan Wonder Woman berusaha untuk mengumpulkan para metahuman lainnya, seperti Aquaman, The Flash dan Cyborg. Embrio lahirnya Justice League. Berhasilkah mereka mengatasi ancaman tersebut?

Walaupun durasi tidak panjang, latar belakang dari masing-masing metahuman berhasil dijabarkan secara jelas. Aquaman yang enggan kembali ke kerajaan Atlantisnya, The Flash yang digambarkan seorang bocah yang masih perlu belajar banyak dan juga Cyborg yang galau akan “kebangkitan” dirinya. Tak perlu detail karena toh nantinya mereka akan dibuatkan film solonya.

Yang membuat film ini terasa lebih enjoy adalah candaan-candaan renyah dalam wujud verbal yang terselip di dalamnya. Beberapa candaan bahkan dapat memancing gelak tawa penonton tanpa harus mengganggu keepikan aksi tarungnya.

Satu kekurangan yang fatal menurut saya di sini adalah kembalinya Superman tidak digambarkan secara wah, megah maupun emosional. Kesannya biasa saja. Sangat disayangkan, karena kita tahu sendiri bahwa sosok ini merupakan arti sesungguhnya dari "harapan".

7,5/10

Terdapat dua buah credit scene, yaitu pada mid-credit dan post-credit. Silakan ditonton. Terutama yang post-credit, karena menampilkan clue menarik akan kelanjutan film ini.

Monday, November 13, 2017

SIKSAKUBUR Mengguncang Palangka Raya!

Aksi dari SIKSAKUBUR (death metal band from Jakarta) dalam event bertajuk DISTORSI MAXIMUM XI yang diselenggarakan oleh PALANGKA RAYA METAL CORNER kemarin malam (Sabtu, 11 November 2017) di Halaman Gedung KONI Provinsi, Palangka Raya, benar-benar luar biasa garangnya!

Memang betul kata orang. SIKSAKUBUR adalah salah satu band ekstrim metal yang tak perlu diragukan lagi nama serta kualitasnya. Dengan mengusung genre brutal death metal, SIKSAKUBUR menggempur metalhead Palangka Raya habis-habisan dengan sembilan buah lagu yang super brutal bak angin badai menderu-deru tiada henti. Komposisi dan struktur lagunya cukup kompleks serta terkesan rumit namun terkonsep dengan matang juga rapi. Sehingga walau kedengarannya kusut, lagu-lagunya sebenarnya memiliki alur.


Kurang lebih sejam SIKSAKUBUR menghadirkan tembang-tembang andalannya, dibuka mulai dari Anak Lelaki dan Srigala, Industri Monster Distorsi, Selera Neraka, Burung Bangkai, Merah Hitam Hijau, Surga Temaram, Pasukan Jiwa Terbelakang, Renounce Me hingga ditutup dengan Memoar Sang Pengobar.

Semoga dengan hadirnya SIKSAKUBUR makin menambah gairah metalhead Kota Palangka Raya untuk tetap eksis dan berkarya melalui arus bawah tanah (underground) yang akhir-akhir ini sepertinya mulai memudar. Layar pergerakan kita boleh kecil, tapi kita harus konsisten. Kita tunjukkan bahwa scene metal di Kota Palangka Raya itu selalu ada!

METAL NYAMAH MAHUTUS. HAIL!

Thursday, October 26, 2017

THOR: RAGNAROK

Thor: Ragnarok menjadi penutup Marvel Cinematic Universe (MCU) untuk tahun 2017 ini, di mana sebelumnya dibuka oleh Guardians of the Galaxy Vol. 2 (Mei) dan dilanjutkan dengan Spider-Man: Homecoming (Juli). Berbeda dengan Thor: The Dark World yang terbilang gelap, edisi Ragnarok kali ini menampilkan petualangan kosmis yang penuh warna serta kemegahan. Tidak hanya itu saja, filmnya sendiri benar-benar asyik dan menyenangkan. Terlebih unsur komedinya yang dapat memancing gelak tawa penonton untuk tertawa selepas-lepasnya. Walaupun plotnya tidak ringan, secara keseluruhan Thor: Ragnarok gampang untuk dicerna dan diikuti.

Kita mesti berterima kasih kepada sang sutradara Taika Waititi karena sineas asal Selandia Baru ini berhasil meramu sedemikian rupa sehingga memiliki visi yang jelas mau diapakan dan mau dibawa ke mana Thor: Ragnarok ini. Lewat sentuhan tangannya pula terjadi pengembangan pada karakter-karakternya. Dari sekian film MCU, baru kali ini Hulk diberikan porsi lebih dalam menangani konflik kepribadiannya. Begitu juga dengan Thor yang sedih atas apa yang menimpa sang ayah tercinta, Odin, namun menyadari bahwa kekuatan sejatinya bukan berasal dari palu Mjolnir-nya semata. Walaupun tidak eksplisit, jelas bahwa film ini juga memiliki sisi emosional.

Bisa dikatakan Thor: Ragnarok ini mirip dengan seri Guardians of the Galaxy. Film yang "tidak serius" namun digarap dengan serius. Itu terlihat dari kebanyolan verbal tiada henti, kekonyolan slapstick sampai dengan pemilihan soundtrack yang funk rock tapi pas dengan momen. Dan sudah pasti dong film ini menawarkan aksi yang memukau, seru dan menegangkan. Terlebih saat baku hantam antara Thor vs Hulk.

Jangan lupa, seperti kebiasaan film-filmnya Marvel Studio, Thor: Ragnarok juga memiliki dua buah after credit. Yaitu mid-credit dan post-credit. Untuk mid-credit memberikan pertanyaan besar apa yang sedang terjadi. Dan sepertinya akan terjawab pada Avengers: Infinity War yang rencananya tayang pada Mei 2018 mendatang. Wuoooh!

8/10

The sun's going down....