Monday, August 24, 2015

INSIDE OUT

Setelah menunggu lama akhirnya Pixar kembali ke jalan yang benar. Inside Out sebuah film yang cantik, indah dan penuh emosi yang digarap dengan genius. Sangat berkualitas! Karya terakhir Pixar yang menurut saya benar-benar oke ada pada tahun 2010 lalu. Yakni Toy Story 3. Setelah itu melempem. Dan butuh 5 tahun bagi Pixar untuk kembali ke level tertingginya. Gitu dong, Pixar! Well done!

Film-film animasi karya Pixar selalu memiliki ciri khas dan tema tertentu. Toy Story dengan mainannya. Finding Nemo dengan dunia bawah lautnya. Cars dengan mobil-mobil balapnya. Monster, Inc dengan penampakan mahluk seram yang tugasnya menakuti manusia. Nah untuk Inside Out kali ini mengambil tema tentang 5 pikiran/perasaan yang ada. Joy (senang), Sadness (sedih), Fear (takut), Disgust (jijik) dan Anger (amarah). Premisnya sangat rumit dan kompleks jika disimak secara seksama. Namun di tangan Pixar hal tersebut menjadi mudah dimengeri dan dipahami. Anak-anak dijamin tak akan merasa berat dalam menerjemahkan dan mencerna cerita film ini. Banyak sekali pelajaran dan pesan tentang kehidupan yang bisa dipetik dalam film ini. Tidak hanya bagi anak-anak saja, tapi juga bagi orang tua.

Inside Out, sebuah film yang mampu menyentuh hati paling dalam. Menjelaskan kepada kita secara gampang tentang 5 pikiran/perasaan yang ada pada manusia. Semuanya saling berkaitan. Bersinergi. Saling membutuhkan dan mendukung. Tidak ada yang dominan. Contohnya adalah yang menjadi poin utama dalam film ini: Bahwa kebahagiaan tidak akan bisa kita rasakan dan temukan tanpa pernah mengalami, memahami dan memaknai apa itu kesedihan.

Siapkan tisu saat hendak menonton film ini.

9/10.

Tambahan:
- Inside Out sepertinya bakal sukses untuk mendapatkan penghargaan sebagai film animasi terbaik dalam ajang Piala Oscar 2016 mendatang.
- Jangan lupakan juga bahwa Pixar masih akan melemparkan sebuah karyanya lagi tahun ini. Judulnya The Good Dinosaur. Rilis bulan November nanti.
- Seperti kebiasaan Pixar/Walt Disney, sebelum film mulai akan ada sebuah film pendek. Film pendek yang menjadi pembuka Inside Out berjudul Lava. So cute! Pastikan diri kalian jangan terlambat masuk ke dalam studio.

Sunday, August 23, 2015

THE MAN FROM U.N.C.L.E.

Film bertema mata-mata tahun ini cukup banyak. Dimulai dari Kingsman yang keren brutal itu, juga ada Spy yang jago mengocok perut dan terakhir yang hingga saat ini masih tayang, yaitu Mission: Impossible Rogue Nation. Semuanya bagus. Layak tonton. Nah, kali ini ada lagi sebuah film dengan tema yang sama. Judulnya The Man from U.N.C.L.E. Film ini merupakan adaptasi dari serial TV-nya yang sempat tayang di Amerika saat teknologi televisi masih hitam putih. Terus, bagaimana filmnya sendiri?

Melihat dari nama para pemainnya sebenarnya sudah cukup menjanjikan kok. Sebut saja mulai dari Henry Cavill (yang menjadi Superman di Man of Steel), Armie Hammes (yang kemarin sempat menjadi jagoan bertopeng The Lone Ranger) sampai dengan Alicia Vikander, si gadis cantik yang mampu mencuri perhatian lewat film Ex Machina. Dan ini ditambah lagi dengan sutradara Guy Ritchie, yang makin beken dengan karya berupa 2 buah film "Sherlock Holmes"-nya itu. Maka tak ada alasan untuk tidak mencoba mencicipi The Man from U.N.C.L.E. ini.

Secara keseluruhan, The Man from U.N.C.L.E. sebuah film yang cukup seru, asyik, lucu serta menghibur. Perpaduan antara aksi dan humornya cukup bagus dan seimbang. Bahkan tak kadang humor segar yang kebanyakan hadir dalam bentuk verbal dan mimik sanggup membuat penonton terpingkal-pingkal. Yang juga membuat film ini oke adalah karena memiliki gaya tersendiri, dengan mengambil suasana era tahun 1960-an. So stylish & elegant! Bisa mengajak kita untuk bernostalgia sejenak dengan film-film James Bond jadul.

Karakter-karakter utamanya kuat. Henry Cavill sebagai mata-mata Amerika. Sedangkan Armie Hammes berperan menjadi mata-mata Rusia. Demi misi khusus, kedua mata-mata ini harus bersatu dan bekerja sama. Padahal antara Amerika Serikat dan Rusia layaknya anjing dan kucing. Di sinilah uniknya. Dua orang mata-mata yang jago juga rupawan ini kerap bertengkar lagaknya anak kecil. Keras kepala dan tak mau mengalah. Selalu ada perselisihan. Namun seiring berjalannya misi, mereka berdua pun akhirnya bahu membahu saling membantu dan malah memiliki ikatan emosional. Sebuah film bernuansa bromance yang sayang untuk dilewatkan.

Sinematografinya bagus. Scoring dan soundtrack juga oke, terutama dalam pemilihan lagu-lagunya. Tak ada lagi yang bisa saya sampaikan. Tonton aja lah pokoknya.

7/10.

Saya kurang tahu kapan akan tayang reguler di bioskop. Rabu ini mungkin?

Saturday, August 22, 2015

Konser Iwan Fals di Kasongan

Hari ini, Sabtu, tanggal 22 Agustus 2015, Iwan Fals mengadakan pertunjukan musik di kota Kasongan, kabupaten Katingan, provinsi Kalimantan Tengah. Pertunjukan yang dihelat di Lapangan Sport Centre ini merupakan salah rangkaian acara yang diadakan oleh pemerintah daerah (pemda) setempat. Dan mengundang Iwan Fals untuk mengisi acara puncaknya. Saya sendiri yang menggemari lagu-lagu Iwan sudah barang tentu tidak mau melewatkan kesempatan ini begitu saja. Terlebih lagi estimasi waktu dari kota Palangka Raya menuju ke kota Kasongan hanya sekitar 60-90 menit saja. Tergolong dekat. Saya pun berangkat!

Saya berangkat dari Palangka Raya pada pukul 14.00 WIB. Dan sampai di lokasi konser pada pukul 15.20 WIB. Tak perlu menunggu lama, Iwan bersama musisi pendukung (terlihat ada Totok Tewel) akhirnya hadir di atas panggung dan segera memulai aksinya. Masyakarat kota Kasongan terlihat begitu antusias untuk menyaksikan performa dari sang maestro Indonesia yang berkharisma ini.

Membuka konsernya, Iwan membawakan lagu berjudul Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi. Sebuah lagu yang berbicara banyak tentang alam, khususnya hutan. Selesai itu dilanjutkan dengan Balada Orang-orang Pedalaman dan Nelayan. Tensi penonton mulai naik saat Iwan cs menampilkan lagu Serdadu, sebuah lagu tribute untuk para prajurit TNI. Diakhir lagu Iwan dengan lantang mengucapkan terima kasih atas jasa-jasa TNI yang selama ini menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia.

Iwan mulai menawarkan lagu-lagu bertemakan cinta. Dimulai dari Antara Aku, Kau dan Bekas Pacarmu. Yang diamini penonton dengan ber-sing-a-long-ria. Berikutnya ada lagu Pesawat Tempur. Lagu yang bertempo cepat. Terlihat tidak nyambung dengan judulnya, namun lagu ini sebenarnya merupakan lagu bertemakan romansa. Pada bagian reff-nya yang berbunyi "Penguasa, penguasa, berilah hambamu uang, beri hamba uang...." secara spontan sebagian penonton yang ada di bawah melemparkan uang koin ke arah panggung di mana Iwan berdiri. Memang sudah menjadi tradisi tiap Iwan mendendangkan lagu ini penonton pasti dan selalu melemparkan uang koin. Saya tentu saja turut serta mengikuti ritual ini dengan melempar koin bernilai seribu rupiah.

Lagu berikutnya adalah Galang Rambu Anarki. Sebuah lagu yang familier sekali di telinga masyarakat. Lagu yang liriknya menceritakan kegundahan orang tua kepada anaknya. Tak mampu beli susu karena BBM naik tinggi. Terdengar menggelitik namun ini sebuah sentilan yang keras. Selesai lagu tersebut, dilanjutkan dengan Mata Indah Bola Pingpong yang liriknya begitu menggoda.

Sisi emosional mulai diperlihatkan Iwan saat mempersembahkan lagu Ibu. Sebuah lagu yang didedikasikan untuk kaum ibu maupun calon ibu di mana saja berada. Penonton turut menyenandungkan lagu dan hanyut dalam buaian lagu balada yang isinya menceritakan bagaimana perjuangan dan pengorbanan ibu kepada anaknya ini. Selesai Ibu, diteruskan dengan Aku Bukan Pilihan, sebuah lagu yang diciptakan oleh Pongki Barata (Jikustik). Di mana pada saat itu lagu ini berhasil menjadi jawara di berbagai program musik baik di TV, radio, dll.

Semangat penonton kembali menanjak saat intro lagu Bongkar mulai dimainkan. Sebuah lagu yang dulunya sering dibawakan oleh mahasiswa dalam aksi demonstrasi pergerakan reformasi pada tahun 1998 silam. Tak cukup sampai di situ. Iwan kembali memanaskan suasana dengan lagu berikutnya, lagu yang sangat terkenal, yaitu Bento. Tak ayal menciptakan crowded tersendiri di lapangan. Masih kurang. Iwan kembali "menghajar" penonton melalui lagu Oemar Bakrie yang sangat nge-beat dan kental dengan aroma country (sebuah genre musik yang aslinya berasal dari Amerika Serikat). Dan 2 buah mobil pemadam kembali menyemburkan air ke arah penonton untuk menurunkan adrenalin. 

Yang Terlupakan adalah lagu berikutnya. Lagu yang berhasil mengajak penonton untuk bercooling-down sejenak. Hari pun mulai gelap. Dan Iwan memutuskan bahwa lagu Surat Buat Wakil Rakyat menjadi lagu terakhir dalam pertunjukannya kali ini. Penonton kompak menyanyikan lagu yang sangat populer di masyarakat ini. Khususnya pada bagian "Wakil rakyat seharusnya merakyat, jangan tidur waktu sidang soal rakyat, wakil rakyat bukan paduan suara, hanya tahu nyanyian lagu setuju...."

Tepat pada pukul 17.30 WIB, konser Iwan Fals pun usai. Total selama 2 jam Iwan membawakan 15 buah lagu hits-nya. Iwan mengucapkan terima kasih kepada penonton yang hadir dengan cara bersujud menghadap penonton. Diikuti dengan musisi pendukung lainnya. Cukup unik. Dan akhirnya satu per satu dari mereka mulai meninggalkan panggung.

Saya, bersama teman-teman lainnya, segera bergegas keluar dari lapangan acara. Dan kembali pulang ke kota Palangka Raya dengan perasaan penuh suka cita. Sebab akhirnya kesampaian juga untuk menyaksikan penampilan Iwan Fals secara langsung di depan mata. And now I can die peacefully....

Oiiiii!!!!

Thursday, August 13, 2015

FANTASTIC FOUR

Berbagai situs film (IMDb, Rotten Tomatoes, Metacritic, dll) sepakat untuk memberikan nilai atau rating kurang bagus untuk film Fantastic Four ini. Dengan bekal itulah saya mencoba berekspektasi rendah saja terhadap film yang secara durasi memakan waktu kurang lebih 90-100 menit ini. Selain berekspektasi rendah, menonton Fantastic Four bukan lagi untuk mencari tahu seberapa bagus filmnya. Melainkan seberapa dan segimana kurang bagusnya film ini. Juga di mana letak kegagalannya? Dan selepas menyaksikan filmnya, well, ternyata memang kurang bagus sih. Saat masih belum beranjak dari kursi studio, saya cuma bisa bergumam dalam hati: "Lah, cuman segini doang?!"

Untuk storynya, agak berantakan sedikit karena kurang fokus. Padahal di bagian awal saya sudah merasa nyaman dengan sentuhan drama dari para tokoh-tokoh utamanya, lengkap dengan sisi emosinya. Plotnya terlampau biasa bila tak mau dikatakan bertele-tele. Kurang lebih mirip dengan FTV-FTV yang ditayangkan oleh TV-TV swasta Indonesia. Selama 1 jam lebih durasi film dihabiskan hanya untuk membangun plot yang ada. Sang sutradara, Josh Trank, rupanya mencoba untuk membuat Fantastic Four ini menjadi seperti Batman Begins-nya Christopher Nolan. Namun apa daya. Keasyikan membangun plot dengan nuansa yang serius serta gelap, ia lupa kalau film ini adalah film superhero yang memerlukan adegan aksi yang cukup banyak. Akhirnya apa saudara-saudara? Adegan aksi cuman hadir sekitar 15-20 menit saja. Dan itu ada menjelang film usai.

Yang perlu disayangkan juga adalah visual effect-nya yang juga biasa-biasa saja. Apa karena masalah budget sehingga tidak bisa menghasilkan kualitas visual yang top notch atau ada faktor lain? Mengherankan sekali.

Untung saja semuanya itu masih dapat tertolong oleh penokohan karakter yang menurut saya cukup apik. Thanks to Miles Teller, Michael B. Jordan, Kata Mara & Jamie Bell. Seandainya saja film ini dimainkan oleh aktor/aktris yang berbeda, sepertinya saya bakal menonton film ini dengan mata tertutup. Oh iya, hal lain yang saya suka dari film ini adalah filmnya yang fiksi-ilmiah banget! Sempat lupa kalau ternyata ini adalah film superhero.

20th Century Fox, selaku pihak pemegang lisensi Fantastic Four harus lebih berhati-hati ke depannya nanti. Salah satu hal yang juga menyebabkan film ini "flop" adalah dikarenakan tidak mau mengikuti pakem aslinya, yakni versi komik Fantastic Four itu sendiri. Bagaimana bisa Johnny Storm dibuat berkulit hitam seperti itu? Dan Susan Storm merupakan anak adopsi? Penampilan Dr. Doom yang jauh dari seharusnya. Dan lain-lain. Bagi penonton awam mungkin tidak terlalu mempermasalahkan. Beda halnya dengan kaum fanboy (sebutan untuk penggemar komik sejati). Ini ibarat sebuah ajakan perang. Terlebih lagi Fantastic Four adalah grup/tim superhero pertama miliknya Marvel Comics (sejak tahun 1961). Lebih dulu ada dari The Avengers (1963). So, jangan main-main dan diutak-atik sembarangan! Stick to the original!

Fantastic Four kali ini bisa dikatakan sebagai film adaptasi komik Marvel terlemah dari yang pernah ada. Fantastic Four (2005) dan Fantastic Four: Rise of the Silver Surfer (2007) besutan Tim Story justru masih lebih unggul. Saya kurang yakin apakah jadi dibuat sekuelnya atau tidak. Namun info resmi yang didapat mengatakan bahwa Fox akan merilis sekuelnya tahun 2017 mendatang. So, dilihat saja nanti. Dan saya percaya sekuelnya bisa berbicara lebih.

Akhir kata, Fantastic Four bukanlah sebuah film yang bagus. Jauh dari yang diharapkan. Namun tak separah itu. Tak ada salahnya untuk mencoba menonton film ini terlebih dulu. Sebab yang namanya selera itu relatif. Dan jangan lupa untuk menurunkan kadar ekspektasi anda. Biar bahagia.

5/10.

Tambahan:
- No after credit end scene. Begitu film selesai, langsung pulang saja.
- Tidak ada cameo Stan Lee di sini. Dikabarkan beliau merasa kurang sreg dengan film ini. Ntah di mananya. Padahal Stan Lee ini co-creator (pencipta) dari Fantastic Four.

Monday, August 03, 2015

MISSION: IMPOSSIBLE ROGUE NATION