Jack Reacher kembali hadir pada sekuelnya kali ini yang mengambil sub-judul Never Go Back. Dimana film terdahulunya tayang tahun 2012 lalu. Tom Cruise,
aktor tampan yang sudah mulai termakan usia, kembali hadir untuk
memerankan Jack Reacher, seorang mantan polisi militer penuh penghargaan
yang tidak memiliki apa-apa (homeless). Walaupun sudah tidak
aktif lagi di militer, Jack kerap dimintai bantuan untuk mengusut suatu
kasus. Premis sekuelnya kali ini adalah ia diminta kembali ke markas.
Namun di sana ia dituduh terlibat atas pembunuhan yang terjadi 16 tahun
silam. Maka dimulailah aksi Jack untuk mengungkap kebenaran dibalik
konspirasi pemerintah. Di luar dugaan, dalam pelariannya Jack akan
berurusan dengan sesuatu yang menyangkut masa lalunya.
Bila
dibandingkan dengan film pertamanya, dimana lebih berfokus pada
kemampuan Jack menyelidiki dan menggali sebuah kejadian, sekuelnya kali
ini lebih mengedepankan sisi aksi (action) dan kemampuan
fisiknya. Aksinya berupa kelahi tangan kosong dan senjata cenderung
keras. Mungkin akan mengakibatkan rasa ngilu bagi sebagian penonton.
Ceritanya minim kejutan, namun tetap berjalan intens sampai akhir. Unsur
dramanya sedikit terasa dengan adanya seorang tokoh yang memiliki
hubungan spesial dengan Jack. Kehadiran Cobie Smulders (berperan sebagai Susan Turner)
dinilai sangat berhasil dan memberikan warna baru pada filmnya. Karena
kehadirannya tidak hanya sebagai pelengkap, tapi juga mampu mengimbangi
Jack dalam sisi aksi dan deduksi. Percaya deh, kalian bakal jatuh cinta
sama karakter yang satu ini. Sama seperti terdahulunya juga, film yang
kurang lebih berdurasi 2 jam ini sesekali menampilkan kelucuan-kelucuan
yang segar.
Jack Reacher: Never Go Back sendiri disutradarai oleh Edward Zwick, yang sebelumnya pernah bekerja sama dengan Tom Cruise pada film The Last Samurai. Film ini juga merupakan adaptasi dari versi novel (seri ke 18) buah karya dari Lee Child.
Secara
keseluruhan, bagi saya Jack Reacher: Never Go Back cukup menghibur.
Adegan aksinya entah kenapa mengingatkan saya dengan film-film aksi
tahun '90-an. Tidak bertele-tele dan tepat ke sasaran. Enjoy then.
7/10
Wednesday, October 19, 2016
Saturday, October 15, 2016
THE ACCOUNTANT
Secara garis besar, film ini tidak menampilkan sesuatu hal yang luar biasa. Berhubung diperankan oleh Ben Affleck yang memang memiliki pesona dan daya tarik tersendiri, terlebih saat dia terpilih oleh Warner Bros untuk memerankan tokoh Batman, maka The Accountant boleh saya bilang sebagai film yang cukup layak untuk ditonton.
Menonton film ini ibarat kita yang sedang menyusun puzzle. Awalnya serba ribet dan sedikit membingungkan. Alur ceritanya memang terkesan tidak rapi dan melompat ke sana ke mari. Namun pada akhirnya, sebuah benang merah berhasil menyusun semuanya itu menjadi satu rangkaian jelas yang dapat membuat penonton bergumam "Oooh, gitu toh". Mungkin problemnya adalah waktu penjabarannya itu yang cukup lama. Sehingga tak ayal bagi sebagian penonton film ini terasa melelahkan, membosankan bahkan sedikit mengakibatkan kantuk. TIDAK APA-APA, LANJUTKAN SAJA....
Premis dari film yang berdurasi dua jam lebih dikit ini adalah seorang autis yang memiliki keistimewaan di bidang Matematika. Masa kecilnya dilalui dengan latihan fisik serta militer yang sangat keras. Dengan harapan agar di masa depannya nanti ia dapat mempersiapkan dirinya. Berprofesi sebagai akuntan, secara tidak sengaja ia terlibat dengan suatu masalah yang pada nantinya akan memberikan kejutan tersendiri baginya.
Filmnya sendiri bisa dikatakan tanggung, apakah ini film film drama atau aksi. Walau begitu, film ini menawarkan nuansa thriller yang bagus. Akting Ben Affleck yang memukau sayangnya tidak diimbangi dengan penampilan dari aktor dan aktris lainnya. Bahkan bisa dibilang mubazir. Padahal di situ ada J.K. Simmons, Anna Kendrick dan John Lithgow yang bisa dikatakan pemain kelas Oscar.
Akhirnya, walaupun The Accountant tidak terlalu menonjol namun oke lah untuk disimak. Filmnya saya rasa sangat berprospek bagus bila dibuatkan lanjutannya (sekuel) namun dengan syarat fokus pada aksinya saja. Melalui film ini entah kenapa saya berkeyakinan bahwa akuntansi itu bisa menjadi alat membunuh yang berbahaya. Anak akuntansi mesti nonton nih! Hehe.
7/10
Menonton film ini ibarat kita yang sedang menyusun puzzle. Awalnya serba ribet dan sedikit membingungkan. Alur ceritanya memang terkesan tidak rapi dan melompat ke sana ke mari. Namun pada akhirnya, sebuah benang merah berhasil menyusun semuanya itu menjadi satu rangkaian jelas yang dapat membuat penonton bergumam "Oooh, gitu toh". Mungkin problemnya adalah waktu penjabarannya itu yang cukup lama. Sehingga tak ayal bagi sebagian penonton film ini terasa melelahkan, membosankan bahkan sedikit mengakibatkan kantuk. TIDAK APA-APA, LANJUTKAN SAJA....
Premis dari film yang berdurasi dua jam lebih dikit ini adalah seorang autis yang memiliki keistimewaan di bidang Matematika. Masa kecilnya dilalui dengan latihan fisik serta militer yang sangat keras. Dengan harapan agar di masa depannya nanti ia dapat mempersiapkan dirinya. Berprofesi sebagai akuntan, secara tidak sengaja ia terlibat dengan suatu masalah yang pada nantinya akan memberikan kejutan tersendiri baginya.
Filmnya sendiri bisa dikatakan tanggung, apakah ini film film drama atau aksi. Walau begitu, film ini menawarkan nuansa thriller yang bagus. Akting Ben Affleck yang memukau sayangnya tidak diimbangi dengan penampilan dari aktor dan aktris lainnya. Bahkan bisa dibilang mubazir. Padahal di situ ada J.K. Simmons, Anna Kendrick dan John Lithgow yang bisa dikatakan pemain kelas Oscar.
Akhirnya, walaupun The Accountant tidak terlalu menonjol namun oke lah untuk disimak. Filmnya saya rasa sangat berprospek bagus bila dibuatkan lanjutannya (sekuel) namun dengan syarat fokus pada aksinya saja. Melalui film ini entah kenapa saya berkeyakinan bahwa akuntansi itu bisa menjadi alat membunuh yang berbahaya. Anak akuntansi mesti nonton nih! Hehe.
7/10
Wednesday, October 12, 2016
INFERNO
Inferno, merupakan sekuel dari The Da Vinci Code dan Angels & Demons. Sudah barang tentu mengisahkan seorang ahli simbol yang bernama Robert Langdon. Dalam Inferno kali ini, ia menjadi target dari pemburuan beberapa pihak. Didera sedikit hilang ingatan, Langdon berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Sama seperti dua buah film sebelumnya, Inferno juga mengambil tema film yang sama. Yaitu aksi dan misteri. Keseruan serta kenikmatan dari film ini bisa didapat dari bagaimana memecahkan dan menyusun puzzle atau teka-teki hingga akhirnya menjadi suatu rangkaian yang dapat memecahkan kebuntuan masalah. Puzzle dan teka-teki tersebut tentunya dihubung-hubungkan dengan sejarah maupun mitos yang ada. Hal ini yang membuat menarik dari film-film yang diadaptasi dari novel-novel miliknya Dan Brown. Karena selalu menghadirkan trivia yang setidaknya bisa menjadi pengetahuan bagi kita. Saya baru tahu istilah "karantina" itu diambil dari bahasa Italia, yakni "quarante", yang saat itu sedang wabah kasus Black Death di Eropa. Menyaksikan Inferno, penonton dituntut untuk terus fokus dan konsentrasi dengan alur cerita yang ada. Sebab bila lengah sedikit tentunya akan kehilangan beberapa poin.
Bila dibandingkan dengan dua film pendahulunya, Inferno bagi saya lebih ramping, straight to the point, cukup intens dan menarik. Memang sih tidak se-kontroversial The Da Vinci Code, tapi sudah cukup baik bagi saya. Inferno menampilkan berbagai kejutan-kejutan. Termasuk dengan plot twist-nya yang tak diduga itu. Dari segi pemain, selain Tom Hanks, entah kenapa hanya Irrfan Khan dan Sidse Babett Knudsen saja yang mencuri perhatian. Untuk aksi terasa sekali agak berkurang, tapi masih bisa membuat fim ini greget untuk diikuti, terlebih lagi ketegangannya.
Akhir kata, Inferno sebuah film yang layak untuk disimak dan memiliki potensi besar untuk dibuat lanjutannya. Sebisa mungkin jangan membandingkan film ini dengan novelnya, karena film dan buku adalah media yang sangat berbeda. Buku mampu membuat para pembacanya untuk berfantasi sebebas-bebasnya, sedangkan dalam film fantasi tersebut hanya sebatas fantasi si pembuat film saja, selain itu keterbatasan durasi juga membuat film dan buku tidak bisa dibandingkan begitu saja. Jadi ada baiknya untuk lebih bisa menikmati film ini, sebaiknya jangan terlalu dibandingkan dengan novelnya. Fair enough?
6,5/10
Tambahan:
Ini merupakan film ketiga Tom Hanks di tahun 2016 ini setelah A Hologram for the King dan Sully.
Sama seperti dua buah film sebelumnya, Inferno juga mengambil tema film yang sama. Yaitu aksi dan misteri. Keseruan serta kenikmatan dari film ini bisa didapat dari bagaimana memecahkan dan menyusun puzzle atau teka-teki hingga akhirnya menjadi suatu rangkaian yang dapat memecahkan kebuntuan masalah. Puzzle dan teka-teki tersebut tentunya dihubung-hubungkan dengan sejarah maupun mitos yang ada. Hal ini yang membuat menarik dari film-film yang diadaptasi dari novel-novel miliknya Dan Brown. Karena selalu menghadirkan trivia yang setidaknya bisa menjadi pengetahuan bagi kita. Saya baru tahu istilah "karantina" itu diambil dari bahasa Italia, yakni "quarante", yang saat itu sedang wabah kasus Black Death di Eropa. Menyaksikan Inferno, penonton dituntut untuk terus fokus dan konsentrasi dengan alur cerita yang ada. Sebab bila lengah sedikit tentunya akan kehilangan beberapa poin.
Bila dibandingkan dengan dua film pendahulunya, Inferno bagi saya lebih ramping, straight to the point, cukup intens dan menarik. Memang sih tidak se-kontroversial The Da Vinci Code, tapi sudah cukup baik bagi saya. Inferno menampilkan berbagai kejutan-kejutan. Termasuk dengan plot twist-nya yang tak diduga itu. Dari segi pemain, selain Tom Hanks, entah kenapa hanya Irrfan Khan dan Sidse Babett Knudsen saja yang mencuri perhatian. Untuk aksi terasa sekali agak berkurang, tapi masih bisa membuat fim ini greget untuk diikuti, terlebih lagi ketegangannya.
Akhir kata, Inferno sebuah film yang layak untuk disimak dan memiliki potensi besar untuk dibuat lanjutannya. Sebisa mungkin jangan membandingkan film ini dengan novelnya, karena film dan buku adalah media yang sangat berbeda. Buku mampu membuat para pembacanya untuk berfantasi sebebas-bebasnya, sedangkan dalam film fantasi tersebut hanya sebatas fantasi si pembuat film saja, selain itu keterbatasan durasi juga membuat film dan buku tidak bisa dibandingkan begitu saja. Jadi ada baiknya untuk lebih bisa menikmati film ini, sebaiknya jangan terlalu dibandingkan dengan novelnya. Fair enough?
6,5/10
Tambahan:
Ini merupakan film ketiga Tom Hanks di tahun 2016 ini setelah A Hologram for the King dan Sully.
Sunday, September 25, 2016
Ratusan Anggota Komunitas Palangka Raya Antre Donor Darah
Ratusan anak muda dari sekitar 40
komunitas yang ada di Kota Palangka Raya sejak pagi antusias mengantre
untuk mengikuti aksi donor darah massal, yang diinisiasi dari salah satu
pengusaha kuliner muda Bobby Rahman bersama rekannya pengelola akun
Info Palangka Raya (@infoPLK) Anthony Sinaga.
Berdasarkan pantauan Antara, di Palangka Raya, Minggu, Kedai Kopihan milik Bobby sudah terlihat ramai sejak pukul 09.00 WIB. Para pendonor darah terus berdatangan silih berganti, yang kebanyakan adalah anak muda yang merupakan fans atau para pecinta bola dan kendaraan bermotor.
"Kegiatan ini sudah kami rencananya jauh-jauh hari, dan kebetulan para anggota komunitas bola yang sering nongkrong di Kopihan juga menyambut baik acara tersebut, sehingga dengan dukungan beberapa sponsor donor darah massal ini bisa terselenggara," kata Bobby.
Kemudian, kebetulan Korps Sukarela PMI Palangka Raya juga mendukung kegiatan tersebut sehingga program kemanusiaan tersebut bisa berjalan dengan lancar. Bahkan jumlah pendonor yang hadir itu diluar perkiraan panitia pelaksana.
Untuk diketahui, karena begitu antusiasnya dalam kegiatan tersebut pendonor yang datang juga tidak hanya dari kalangan komunitas bola, tapi ada juga komunitas kendaraan bermotor, komunitas musik, komunitas pecinta binatang, bahkan masyarakat umum karena tertarik dengan keramaian donor darah massal tersebut.
Ketua Panitia Pelaksana Donor Darah, Anthony Sinaga mengungkapkan, kegiatan sosial tersebut sebagai salah satu upaya membuat masyarakat muda untuk juga peduli dengan program kemanusiaan. Sehingga perlu adanya pancingan dan motivatasi dalam menggerakan untuk berpartisipasi dalam program sosial, salah satunya adalah donor darah.
"Kami ingin terus memberikan kontribusi yang positif, dan aktif melaksanakan program-program sosial sehingga masyarakat muda sebagai generasi penerus bangsa nantinya juga dapat memberikan pemahaman yang sama kepada generasi mendatang," ujarnya.
Sementara itu, Ketua PMI Kota Palangka Raya, Rusliansyah memberikan apresiasi yang luar biasa dari kegiatan tersebut, sebab tidak disangka ratusan orang malah mengantre untuk ikut mendonorkan darahnya.
"Kami sangat senang dan bangga, masih ada kalangan pemuda yang mau menggerakan kawan-kawannya untuk melaksanakan program kemanusiaan tersebut. Semoga saja hal ini bisa terus berlanjut dan menjadi agenda rutin mereka, dan PMI siap mendukung program tersebut," ujar Rusli.
Melalui kegiatan tersebut, Rusli juga berharap bahwa itu dapat menjadi contoh bagi masyarakat Kota Palangka Raya pada umumnya, sehingga dengan banyaknya pendonor diharapkan nantinya stok kantong darah dapat selalu tersedia ketika orang membutuhkan.
"Saat ini kami juga berupaya melakukan terobosan, bagaimana caranya agar persediaan kantong darah di unit pelayanan PMI tersebut bisa terus tersedia, sehingga masyarakat tidak kesulitan mencari darah," demikian Rusli.
Sumber: http://www.antarakalteng.com/berita/257530/ratusan-anggota-komunitas-palangka-raya-antre-donor-darah
Berdasarkan pantauan Antara, di Palangka Raya, Minggu, Kedai Kopihan milik Bobby sudah terlihat ramai sejak pukul 09.00 WIB. Para pendonor darah terus berdatangan silih berganti, yang kebanyakan adalah anak muda yang merupakan fans atau para pecinta bola dan kendaraan bermotor.
"Kegiatan ini sudah kami rencananya jauh-jauh hari, dan kebetulan para anggota komunitas bola yang sering nongkrong di Kopihan juga menyambut baik acara tersebut, sehingga dengan dukungan beberapa sponsor donor darah massal ini bisa terselenggara," kata Bobby.
Kemudian, kebetulan Korps Sukarela PMI Palangka Raya juga mendukung kegiatan tersebut sehingga program kemanusiaan tersebut bisa berjalan dengan lancar. Bahkan jumlah pendonor yang hadir itu diluar perkiraan panitia pelaksana.
Untuk diketahui, karena begitu antusiasnya dalam kegiatan tersebut pendonor yang datang juga tidak hanya dari kalangan komunitas bola, tapi ada juga komunitas kendaraan bermotor, komunitas musik, komunitas pecinta binatang, bahkan masyarakat umum karena tertarik dengan keramaian donor darah massal tersebut.
Ketua Panitia Pelaksana Donor Darah, Anthony Sinaga mengungkapkan, kegiatan sosial tersebut sebagai salah satu upaya membuat masyarakat muda untuk juga peduli dengan program kemanusiaan. Sehingga perlu adanya pancingan dan motivatasi dalam menggerakan untuk berpartisipasi dalam program sosial, salah satunya adalah donor darah.
"Kami ingin terus memberikan kontribusi yang positif, dan aktif melaksanakan program-program sosial sehingga masyarakat muda sebagai generasi penerus bangsa nantinya juga dapat memberikan pemahaman yang sama kepada generasi mendatang," ujarnya.
Sementara itu, Ketua PMI Kota Palangka Raya, Rusliansyah memberikan apresiasi yang luar biasa dari kegiatan tersebut, sebab tidak disangka ratusan orang malah mengantre untuk ikut mendonorkan darahnya.
"Kami sangat senang dan bangga, masih ada kalangan pemuda yang mau menggerakan kawan-kawannya untuk melaksanakan program kemanusiaan tersebut. Semoga saja hal ini bisa terus berlanjut dan menjadi agenda rutin mereka, dan PMI siap mendukung program tersebut," ujar Rusli.
Melalui kegiatan tersebut, Rusli juga berharap bahwa itu dapat menjadi contoh bagi masyarakat Kota Palangka Raya pada umumnya, sehingga dengan banyaknya pendonor diharapkan nantinya stok kantong darah dapat selalu tersedia ketika orang membutuhkan.
"Saat ini kami juga berupaya melakukan terobosan, bagaimana caranya agar persediaan kantong darah di unit pelayanan PMI tersebut bisa terus tersedia, sehingga masyarakat tidak kesulitan mencari darah," demikian Rusli.
Sumber: http://www.antarakalteng.com/berita/257530/ratusan-anggota-komunitas-palangka-raya-antre-donor-darah
Wednesday, September 14, 2016
PETE'S DRAGON
Pete's Dragon merupakan sebuah film remake dari film berjudul sama yang rilis tahun 1977 silam. Dan tentu saja film ini masih digarap oleh Walt Disney Pictures selaku pemilik lisensi resminya. Lazimnya film-film Walt Disney lainnya, Pete's Dragon juga menawarkan sebuah tontonan yang ceria, riang, penuh pesan dan tentunya mengedukasi. Secara keseluruhan, Pete's Dragon adalah film yang layak untuk ditonton oleh siapa saja. Bahkan sangat bagus dijadikan sebagai tontonan keluarga karena banyaknya pesan-pesan moral positif yang disampaikan.
Pete's Dragon adalah sebuah drama keluarga. Namun tenang saja, dijamin tidak akan menyebabkan kebosanan maupun kejenuhan. Karena alurnya sederhana dan dibekali dengan kisah petualangan yang seru juga menyentuh serta mengharukan/emosional. Dan itu ditambah lagi dengan kualitas spesial efek berupa CGI yang tergolong halus dan bersih.
Film ini semakin hangat di hati dan terasa enjoyable dengan hadirnya beberapa tembang-tembang lagu (soundtrack) yang luar biasa indahnya. Salah satunya adalah yang berjudul Something Wild, dibawakan oleh Lindsey Stirling (feat. Andrew McMahon in the Wilderness). Cakep banget lagunya!
7/10
Tambahan:
Kisah Pete's Dragon sempat diterbitkan dalam bentuk buku di Indonesia sini. Judulnya Naga si Pit.
Pete's Dragon adalah sebuah drama keluarga. Namun tenang saja, dijamin tidak akan menyebabkan kebosanan maupun kejenuhan. Karena alurnya sederhana dan dibekali dengan kisah petualangan yang seru juga menyentuh serta mengharukan/emosional. Dan itu ditambah lagi dengan kualitas spesial efek berupa CGI yang tergolong halus dan bersih.
Film ini semakin hangat di hati dan terasa enjoyable dengan hadirnya beberapa tembang-tembang lagu (soundtrack) yang luar biasa indahnya. Salah satunya adalah yang berjudul Something Wild, dibawakan oleh Lindsey Stirling (feat. Andrew McMahon in the Wilderness). Cakep banget lagunya!
7/10
Tambahan:
Kisah Pete's Dragon sempat diterbitkan dalam bentuk buku di Indonesia sini. Judulnya Naga si Pit.
Subscribe to:
Posts (Atom)