Thursday, February 18, 2016

DISTORSI MAXIMUM X

Setelah lama vakum (hampir 2 tahun), DISTORSI MAXIMUM bangkit dari mati surinya. PALANGKA RAYA METAL CORNER (PMC) selaku penyelenggara dengan bangga mempersembahkan event yang sangat ditunggu-tunggu oleh penikmat musik metal kota Palangka Raya, yaitu DISTORSI MAXIMUM X. DISTORSI MAXIMUM X akan dihelat pada hari Sabtu, tanggal 27 Februari 2016 mendatang dan mengambil tempat di Aula Batang Garing.

Seperti kebiasaannya, DISTORSI MAXIMUM X mendatangkan sebuah band yang dirasa cukup untuk mewakili musik metal sebagai headliner utama event cadas ini. Kali ini yang bakal meneror metalhead dengan alunan musik brutalnya adalah band yang berasal dari kota Bekasi, yakni ASPHYXIATE. Bagi metalhead sejati, siapa sih yang tidak mengenal band ini.

Selain headliner, DISTORSI MAXIMUM X juga akan diisi oleh penampilan band-band cadas kota Palangka Raya serta kota-kota lainnya. Sebut saja seperti STONEHEAD, INFEKSI, GRINDBOROKS, AFTER CHAOS, NEW DAY IS OVER, METANIAC, THRASHER, NATURE DEPRAVITY, RIWUT, DEATH CEREMONY, dan masih banyak lainnya.

Sayang rasanya bila acara seperti ini dilewatkan begitu saja. So, buat metalhead Palangka Raya, ditunggu kehadirannya. Apalagi HTM hanya sebesar 15 ribu saja. Dan itu sudah mendapatkan bonus produk.

METAL NYAMAH MAHUTUS!

Tambahan:
Info lanjut, pantau akun Twitter @pmc666.

Thursday, February 11, 2016

DEADPOOL

Deadpool, sebuah film yang memang saya tunggu dan antisipasi perilisannya. Kenapa? Karena tokoh Marvel yang satu ini bisa dibilang merupakan karakter anti-hero yang terhitung unik. Tidak hanya diposisikan sebagai pembunuh yang efektif, efisien, eksentrik serta selera humor satir, juga seorang yang mengidap "kegilaan" karena menegakkan kebenaran dan keadilan dengan caranya sendiri.

Lantas, bagaimana filmnya? Well, Deadpool yang dibesut oleh sutradara tergolong baru namun penuh bakat, yakni Tim Miller, menawarkan kelucuan yang paten mengocok perut, kisah cinta romantis dan penuh dengan aksi memukau. Namun semuanya itu dibalut dengan hal-hal yang sifatnya brutal, sadis, menjijikkan dan penuh kekerasan. Salah besar jika ada yang menganggap bahwa ini adalah film semua umur, apalagi dikatakan sebagai film keluarga. Deadpool adalah film berkategori dewasa. Tak jarang di dalamnya menampilkan konten yang cukup menganggu, baik itu melalui olah kata (verbal) maupun adegan yang vulgar.

Secara alur cerita, Deadpool yang total durasi hanya memakan waktu 100 menit ini relatif gampang untuk dipahami. Mengalir begitu saja. Menggabungkan antara alur yang sekarang dan kilas balik dua tahun sebelumnya. Penokohan karakter yang dibawakan oleh Ryan Reynolds (sebagai Wade Wilson aka Deadpool) patut diberi aplaus. Seakan-akan tidak ada aktor lain yang dapat memerankan Deadpool dengan alami seperti dirinya.

Sebagaimana versi komiknya, di filmnya Deadpool juga dibuat sebagai karakter yang mampu menabrak "dinding ke empat", di mana maksudnya adalah dirinya senantiasa berinteraksi dengan penonton dan menyadari eksistensinya sebagai tokoh utama. Memberikan kredit tersendiri.

Banyak terselip cameo & popular culture reference di film ini. Dengan syarat ya harus memiliki pengetahuan luas. Baik itu seputar film, musik, tokoh, dll. Sebab jika tidak, selamat berbengong-ria aja deh. Lagu-lagu yang menjadi soundtrack di film ini juga layak diacungi jempol karena dapat memberikan kenostalgiaan tersendiri.

Secara keseluruhan, Deadpool wajib untuk disimak. Selain memberikan keseruan dan tawa renyah pada penonton, film Deadpool ini juga mengajarkan kepada kita bahwa segala sesuatunya pasti memiliki perspektif yang berbeda, termasuk dengan apa itu yang namanya superhero.

8/10.

Tambahan:
Begitu film selesai, jangan lekas beranjak dulu. Karena akan ada ending tambahan (post credit).

Monday, January 25, 2016

THE HATEFUL EIGHT

Menurut saya, The Hateful Eight adalah salah satu film terbaik yang pernah dimiliki oleh Quentin Tarantino. Secara total, film yang semula hendak dijadikan Tarantino sebagai sekuelnya Django Uchained ini, memakan durasi waktu kurang lebih 2,5 jam. Dengan tema cowboy (cowboy), sebuah tema film yang kurang saya minati sebenarnya, The Hateful Eight diisi oleh jajaran aktor kaliber. Sebut saja mulai dari Samuel L. Jackson, Kurt Russel, Walton Goggins, dll.

Film ini bukanlah film aksi tembak-tembakan atau kuda-kudaan khas cowboy seperti pada umumnya. Melainkan sebuah drama berlatar misteri yang dibumbui dengan teka-teki. Menampilkan banyak dialog-dialog panjang. Entah dengan orang-orang, namun bagi saya obrolan-obrolan yang ada dalam film ini sama sekali tidak mendatangkan rasa suntuk, jenuh bahkan bosan. Justru membawa keasyikan dan keseruan tersendiri seiring durasi berjalan karena memang dibarengi dengan materi yang menarik. Bahkan tanpa sadar penonton sudah diajak masuk ke dalam suatu permasalahan atau konflik cerita pada film ini. Walaupun terkesan serius, intens serta tensi yang cukup tinggi, joke-joke verbal kerap dijumpai di sini. Itu sudah lebih dari cukup untuk menggelitik penonton sembari melepas ketegangan.

Bukan Tarantino namanya bila tidak memasukkan unsur kekerasan yang ngeri, brutal, sadis serta berdarah-darah yang menjadi ciri khasnya (layaknya Kill Bill). Bagi yang lambungnya lemah, dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi film ini. Karena siapa tahu saja dapat mengakibatkan datangnya rasa mual. Nuansa mencekam film semakin terasa dengan scoring yang juga ikut-ikutan suram.

The Hateful Eight film bertema cowboy (western) yang berada di luar kelaziman. Tetapi karena di luar kelaziman itulah yang menjadikan film ini memiliki daya tarik tersendiri dan unik. Dengan didukung oleh pendalaman karakter yang apik dari para aktor/aktris-nya serta sinematografi yang hebat, wajar sih bila film ini masuk dalam 3 buah nominasi ajang Oscar 2016 yang acara pengumumannya akan dihelat pada bulan Februari mendatang.

8/10.

Friday, January 22, 2016

SELAMAT TAHUN BARU 2016

Wah, sudah lama sekali blog saya ini tidak diupdate. Oke, sebagai postingan pembukaan di tahun baru ini saya secara pribadi mengucapkan Selamat Tahun Baru 2016 bagi kita semua. Semoga di tahun monyet api ini kita tetap diberi kesehatan, murah rezeki dan juga berkah. Amin.

Omong-omong, beberapa hari kemarin saya ada menonton beberapa buah film. Akan saya buat review singkatnya. Dimulai dari Star Wars: The Force Awakens. Film ini ternyata laris banget. Saking larisnya, menjadi film nomor 1 di kawasan Amerika Utara. Mengalahkan Avatar-nya James Cameron. Untuk dunia (worldwide), Star Wars: The Force Awakens masih belum bisa untuk menumbangkan Avatar. Secara keseluruhan, filmnya memang bagus kok. Terlihat klise layaknya Star Wars Episode IV (A New Hope). Namun seperti yang dibilang oleh sang sutradara J.J. Abrams, film ini memang merupakan film penghormatan dan semacam tribut ke Star Wars yang fenomenal itu. Saya yakin pada Star Wars Episode 8 nanti J.J. Abrams akan berbuat lebih banyak. Tidak sabar menunggunya.

Ada yang sudah menyaksikan film India yang judulnya Dilwale? Film yang dibintangi oleh duo hebat Shah Rukh Khan dan Kajol ini di negaranya sendiri memperoleh pendapatan yang luar biasa besarnya. Hanya 2 hari tayang sukses meraup puluhan milyar. Gila! Dilwale akhirnya dinobatkan sebagai film dengan pendapatan tertinggi sepanjang sejarah perfilman India. Karena Dilwale pula lah Star Wars: The Force Awakens memutuskan untuk mengundurkan jadwal tayangnya seminggu di India. Takut bersaing. Seperti kita ketahui, masyarakat India memang cinta sekali dengan film-film lokalnya. Sesuatu hal yang mesti dipelajari oleh orang-orang Indonesia sini.

Saya kemarin juga menyaksikan The Revenant, sebuah film drama yang diambil dari kisah nyata. Di dalamnya terdapat aktor yang tidak perlu diragukan lagi namanya, Leonardo DiCaprio. Kalian mesti nonton film ini. Sebab film ini luar biasa sekali bagusnya. Filmnya juga relatif sadis, brutal dan mengerikan. Namun dibarengi dengan panorama dan lanskap yang indah. Belum lagi secara teknis, baik itu sinematografi, akting, kamera, dll. Top notch! Dan wajar saja jika The Revenant kemarin diganjar sebagai Film Terbaik dan Aktor Terbaik dalam ajang Golden Globes 2016 yang diumumkan pertengahan Januari kemarin. Untuk ajang Oscar 2016, The Revenant meraih 12 nominasi. Pengumuman akan dihelat pada pertengahan Februari nanti.

Oh iya, tidak ketinggalan pula sebuah film yang juga layak untuk disimak. Yaitu In the Heart of the Sea. Film yang juga diangkat dari kisah nyata. Sebuah kisah yang melatari terbitnya sebuah buku berjudul Moby-Dick. Sebuah film yang bertemakan survival (bertahan hidup). Filmnya banyak memberikan pesan ke penonton. Walaupun akting dari pemainnya masih kurang terasa menyentuh dan sedikit dangkal, In the Heart of the Sea tidak boleh dilewatkan begitu saja.

Well, segini aja dulu. Catch you later....

Saturday, November 21, 2015

THE HUNGER GAMES: MOCKINGJAY PART 2

The Hunger Games: Mockingjay Part 2 rilis serentak di Indonesia mulai hari Jumat, 20 November 2015 kemarin. Menjadi rangkaian penutup kisah film The Hunger Games yang telah dimulai sejak tahun 2012 lalu. Merupakan adaptasi dari novel terlaris yang mengambil tema/genre dystopia (post apocalypse). Apakah film Mockingjay Part 2 berhasil menjadi penutup yang baik?

Saya memiliki keyakinan bahwa film bagus itu memiliki formula yang simple seperti ini: Dimulai dari pembentukan latar belakang, kemudian dilanjutkan dengan tensi yang membangun sebuah cerita. Setelah memperkenalkan permasalahan, barulah dilampiaskan dengan bagian klimaks (titik puncak ketegangan). Jangan lupa selingi dengan humor dan aspek emosional di dalamnya. Bahkan lebih bagus lagi bila diselipi dengan pesan-pesan kemanusiaan, kehidupan serta filosofi membangun.

Kita tahu bahwa Mockingjay untuk filmnya dibelah menjadi dua bagian. Part 1 dan Part 2. Biasalah, masalah bisnis demi mengeruk banyak duit. Part 1 yang tayang tahun kemarin sudah menampilkan pembangunan cerita yang cukup kuat dan enak disimak. Nah, karena itulah orang-orang cenderung berekspektasi bahwa Part 2-nya nanti bakal hadir gila-gilaan dan hancur-hancuran dengan aksi yang banyak dan spektakuler. Memang begitu sih seharusnya. Tapi ternyata apa, saudara-saudara? Biasa saja. Relatif datar dan miskin aksi.

Mockingjay Part 2 sepertinya begitu kesulitan untuk mengembangkan kisahnya seperti apa lagi.  Untung saja sudah tertolong karena konsep yang bagus. Ekspektasi saya langsung kendur saat 60 menit pertama Mockingjay Part 2 masih saja repot dan bertele-tele dengan alurnya. Entah berapa kali saya menguap. Untunglah di pertengahan film kengantukan saya bisa disentak dengan beberapa adegan yang cukup intens dan seru. Salah satunya tengok saja aksi dikejar-kejar mahluk mutasi di terowongan air bawah tanah yang super menegangkan itu. Sayangnya, selepas itu tensi kembali turun walaupun menjelang bagian akhir nanti terdapat peningkatan karena adanya plot twist yang sebenarnya gampang ditebak.

Secara keseluruhan, Mockingjay Part 2 tetap oke lah buat ditonton walaupun sebenarnya saya masih berharap lebih. Saya pikir harusnya Mockingjay ini tak perlu dibuat Part 1 dan Part 2. Cukup jadikan satu film saja. Pasti oke deh. Masa seri film The Hunger Games yang memakan waktu selama 4 tahun dan total durasi waktu 9 jam harus ditutup dengan yang terlalu biasa dan kurang greget?

6/10.

Real or not real? Propaganda!

NB: Jennifer Lawrence cantik banget!