Saya sudah menonton film RoboCop ini sejak tanggal 12 Februari lalu. Baru kali ini saya bisa memberikan reviewnya. Sekedar review singkat saja ya. Seperti yang kita ketahui bersama, ini merupakan sebuah film reboot dengan judul yang sama pada tahun 1987 silam. Pertama kali menonton film lawasnya ini ketika saya masih SD sekitar tahun '90-an. Itu pun menontonnya melalui kaset video VHS. Yang namanya anak-anak, menonton RoboCop meninggalkan kesan yang begitu mendalam. Karena terpesona dan terpukau oleh kerennya sang polisi robot dengan kostum silver yang luar biasa kinclong. So, wajar saja jika film reboot dari RoboCop saya nantikan dengan antusiasnya, tapi tetap tidak dengan ekspektasi yang berlebih.
Setelah menontonnya, well, filmnya menurut saya biasa-biasa saja. Tidak jelek dan juga tidak bagus-bagus amat. Kalo bahasa orang sih ya standar gitu. Dari skala 1-10 saya kasih nilai 7. Bila kalian sekedar cari hiburan, film ini oke buat ditonton. Terlebih lagi bagi kalian penggemar berat robot, mecha dan hal-hal berbau teknologi lainnya. Kostum RoboCop yang berwarna silver ternyata masih dipertahankan walaupun untuk beraksi RoboCop menggunakan kostum warna hitam yang banyak diprotes oleh fans sejati RoboCop itu. Antara RoboCop versi original dan versi reboot ini terdapat perbedaan bagaimana latar belakang Alex Murphy bisa menjadi RoboCop. Kekurangan akan film ini mungkin adalah dari segi villainnya. Penonton perlu villain yang kuat. Atau mungkin hal seperti itu memang sengaja dipersiapkan pada sekuelnya nanti? Saya sih berpikiran gitu. Selain itu juga filmnya terlalu drama. Adegan aksi terasa kurang banyak.
So, terserah pada dari masing-masing. Ingin menonton filmnya atau tidak. Mumpung masih tayang di bioskop. Tapi sih tidak ada salahnya bila menonton film ini dengan tujuan sedikit bernostalgia. Kembali ke masa kecil yang indah. Ah, jadi kangen....
Serve the public trust, protect the innocent, uphold the law!
Semoga berkenan.
Saturday, February 22, 2014
Saturday, February 08, 2014
THE LEGO MOVIE
Film ini di situs IMDb dan Rotten Tomatoes meraih rating yang tinggi sekali. Membuat saya penasaran untuk menontonnya dan juga ingin tahu sebagus apa sih filmnya. Setelah kemarin malam menyaksikannya, well, The Lego Movie memang benar-benar bagus. Filmnya cukup seru dengan kisah petualangan yang ada. Dibumbui juga dengan humor/joke secara verbal dan aksi-aksi lucu yang mampu membuat penonton tertawa renyah. Isi cerita tidak berat. Alurnya pun tidak rumit. Mengalir dengan apa adanya. Penonton dipastikan tidak akan berpikir keras. Ini adalah tontonan semua umur. Sangat disarankan sekali untuk menonton bersama keluarga, terlebih anak-anak. Sebab banyak nilai dan pesan positif serta sisi emosional yang bisa disimak melalui film ini.
The Lego Movie sendiri menceritakan kisah Emmet (Chris Patt) sebuah minifigure Lego yang sangat biasa cenderung membosankan. Takdir membawanya bertemu dengan seorang gadis bernama Lucy (Elizabeth Banks). Emmet mengaku kepada Lucy bahwa dirinya adalah orang yang memiliki kekuatan special. Pengakuan ini membawanya dalam sebuah perkumpulan yang diketuai Vitruvius (Morgan Freeman). Emmet terpilih untuk menyelamatkan dunia dari tiran yang kejam. Bersama Batman (Will Arnett) dan beberapa superhero lainnya, Emmet memulai petualangannya.
Mungkin ada yang belum tahu, apa itu Lego? Lego adalah sejenis alat permainan bongkah plastik kecil yang memang dirancang untuk kalangan anak-anak atau remaja, baik itu lelaki ataupun perempuan. Bongkah-bongkah ini serta kepingan lain bisa disusun menjadi model apa saja. Mobil, kereta api, bangunan, kota, patung, kapal, kapal terbang, pesawat luar angkasa serta robot, semuanya bisa dibuat. Tergantung dari imajinasi dan kreativitas orangnya, Permainan Lego yang ada sejak tahun 1949 ini berasal dari Denmark. Dan sangat terkenal sekali. Di beberapa negara di belahan dunia memiliki toko resminya.
Akhir kata, silakan ditonton filmnya. Kapan lagi kita bisa melihat Superman, Batman, Wonder Woman dan Green Lantern bermain di dalam satu film?
Semoga berkenan.
Update (Sabtu, 22/02/2014): Warner Bros secara resmi mengumumkan bahwa The Lego Movie akan dibuatkan sekuelnya dan rilis tanggal 26 Mei 2017 mendatang.
The Lego Movie sendiri menceritakan kisah Emmet (Chris Patt) sebuah minifigure Lego yang sangat biasa cenderung membosankan. Takdir membawanya bertemu dengan seorang gadis bernama Lucy (Elizabeth Banks). Emmet mengaku kepada Lucy bahwa dirinya adalah orang yang memiliki kekuatan special. Pengakuan ini membawanya dalam sebuah perkumpulan yang diketuai Vitruvius (Morgan Freeman). Emmet terpilih untuk menyelamatkan dunia dari tiran yang kejam. Bersama Batman (Will Arnett) dan beberapa superhero lainnya, Emmet memulai petualangannya.
Mungkin ada yang belum tahu, apa itu Lego? Lego adalah sejenis alat permainan bongkah plastik kecil yang memang dirancang untuk kalangan anak-anak atau remaja, baik itu lelaki ataupun perempuan. Bongkah-bongkah ini serta kepingan lain bisa disusun menjadi model apa saja. Mobil, kereta api, bangunan, kota, patung, kapal, kapal terbang, pesawat luar angkasa serta robot, semuanya bisa dibuat. Tergantung dari imajinasi dan kreativitas orangnya, Permainan Lego yang ada sejak tahun 1949 ini berasal dari Denmark. Dan sangat terkenal sekali. Di beberapa negara di belahan dunia memiliki toko resminya.
Akhir kata, silakan ditonton filmnya. Kapan lagi kita bisa melihat Superman, Batman, Wonder Woman dan Green Lantern bermain di dalam satu film?
Semoga berkenan.
Update (Sabtu, 22/02/2014): Warner Bros secara resmi mengumumkan bahwa The Lego Movie akan dibuatkan sekuelnya dan rilis tanggal 26 Mei 2017 mendatang.
Saturday, December 21, 2013
ASPHYXIATE - Self Transform from Decayed Flesh
Bagi penikmat sejati musik metal Indonesia, sangat tabu sekali bila tidak mengenal ASPHYXIATE, band beraliran brutal death metal yang berasal dari kota Bekasi, provinsi Jawa Barat. Pada tanggal 26 November 2013 kemarin, ASPHYXIATE secara resmi merilis album ketiganya yang diberi tajuk Self Transform from Decayed Flesh. Dua album yang sempat dihasilkan oleh ASPHYXIATE sebelumnya adalah The Process of Mutilation (rilis 2003, sempat didistribusikan oleh Despise The Sun Records, label rekaman di Italia) dan Anatomy of Perfect Betiality (rilis 2009, sempat ditangani oleh Sevared Records). Jadi bisa dikatakan APSHYXIATE sempat vakum selama 4 tahun dalam merilis karyanya. Salah satu penyebabnya mungkin adalah terkait pergantian beberapa personil (Deddy dan Reno cabut). Saat ini ASPHYXIATE, band yang sudah ada sejak tahun 1998, diisi oleh 3 orang personil. Yaitu Josh (vokal, gitaris), Adi (bass) dan Yogi (drum). Yogi juga aktif dalam band bernama VISCRAL.
Di tahun 2013 ini ASPHYXIATE bergabung dalam sebuah label rekaman asal California yang cukup ternama, yaitu New Standard Elite. Band-band metal Indonesia yang juga ada di bawah naungan New Standart Elite sebut saja seperti LUMPUR, INJURY DEEPEN dan GORE INFAMOUS. Album terbaru Self Transform from Decayed Flesh dirilis dan didistribusikan langsung oleh New Standard Elite. Sehingga CD dari album ini agak susah mencarinya. Karena memang tidak ada yang menjualnya. Mau tidak mau harus memesan langsung ke pihak label. Tentunya dengan bayaran yang lebih mahal (karena dihitung dollar) dan ditambah biaya ongkos kirim.
Setelah mendengarkan albumnya secara berulang-ulang kali, Self Transform from Decayed Flesh menawarkan sesuatu yang beda dibandingkan album-album sebelumnya. Lebih terstruktur dan rapi. Tetap mengusung musik yang brutal dan berat, namun sesekali memperagakan groove-groove yang menawan. Tentunya membuat siapapun tergoda untuk menggoyangkan kepala naik turun. Kualitas sound juga top notch banget. Album Self Transform from Decayed Flesh mengingatkan kita dengan era old-skul dari SUFFOCATION, DEEDS OF FLESH maupun CRYPTOPSY.
Total, album ini berisikan 9 buah lagu. Namun ada sebuah lagu yang sudah pernah disimak sebelumnya (ada di album Anatomy of Perfect Betiality). Judulnya adalah Knife in Womb (03:32). Sedikit mengundang pertanyaan, untuk apa memasukkan lagu lama ke dalam album baru ini? Tapi memang tidak bisa dipungkiri, Knife in Womb lagunya oke banget. Salah satu lagu kebangsaan ASPHYXIATE yang kerap ditampilkan saat manggung.
Suffered in Vivisection (02:54), sebuah track yang dipercaya untuk menjadi lagu pembuka album ini. Intronya luar biasa. Selama semenit lebih menampilkan riff-riff gitar yang berat dibaluti dengan permainan drum yang sangat intens. Siapapun pasti menyukai lagu ini. The title song, Self Transform from Decayed Flesh (02:53), cukup brutal dan bergemuruh. Salah satu lagu yang menjadi highlight dalam album ini. Sempat dirilis dalam bentuk demo pada April 2013 lalu. Berikutnya ada Odious Mutation Of Cannibalistic Creature (03:49). Salah satu track favorit saya dalam album ini. Menghentak dan di pertengahan lagu terdapat beberapa slam-groove. Failed Clone of God (02:41) sepintas mirip dengan Blood Flavor. Cukup oke, dengan alunan yang rentan mengajak kita untuk berheadbang-ria.
Decomposing Organs (03:22) menampilkan permainan drum Yogi serta aksi bass Adi yang menderu-deru tiada henti. Dilanjutkan kemudian dengan Digested Embryonic (02:42), sebuah lagu yang sudah pernah saya simak sebelumnya dalam versi demo single. Namun versi albumnya kali ini terdengar lebih nendang. Lagu andalan untuk album ini. Kick ass!!! Feasting on Human Cadaver (04:43) adalah lagu dengan durasi terlama dalam album ini. Saksikan saja kengerian yang disajikan oleh ASPHYXIATE di lagu ini. Sangat kompleks. Dan terakhir dalam album ini adalah Instrument of Defiled Breeder (02:54). Sebuah pamungkas! Penutup album yang luar biasa dahsyatnya!
Sebagai konklusi, album terbaru dari ASPHYXIATE yang secara keseluruhan memakan durasi 29 menit 38 detik ini sangat direkomendasikan sekali. Terlebih jika kalian adalah penikmat sejati genre brutal death metal. Sebuah album yang wajib dimiliki! Bila memiliki rezeki lebih, tidak ada salahnya untuk mengorder barang yang satu ini, walaupun harus pesan ke luar negeri.
So what do you waiting for? Feel free to headbanging your fucking head!!! In death we trust, in brutal we blast!!!
Tambahan:
ASPHYXIATE on Facebook: https://www.facebook.com/pages/ASPHYXIATE/48611258883
ASPHYXIATE on Reverbnation: http://www.reverbnation.com/asphyxiatemetal
Di tahun 2013 ini ASPHYXIATE bergabung dalam sebuah label rekaman asal California yang cukup ternama, yaitu New Standard Elite. Band-band metal Indonesia yang juga ada di bawah naungan New Standart Elite sebut saja seperti LUMPUR, INJURY DEEPEN dan GORE INFAMOUS. Album terbaru Self Transform from Decayed Flesh dirilis dan didistribusikan langsung oleh New Standard Elite. Sehingga CD dari album ini agak susah mencarinya. Karena memang tidak ada yang menjualnya. Mau tidak mau harus memesan langsung ke pihak label. Tentunya dengan bayaran yang lebih mahal (karena dihitung dollar) dan ditambah biaya ongkos kirim.
Setelah mendengarkan albumnya secara berulang-ulang kali, Self Transform from Decayed Flesh menawarkan sesuatu yang beda dibandingkan album-album sebelumnya. Lebih terstruktur dan rapi. Tetap mengusung musik yang brutal dan berat, namun sesekali memperagakan groove-groove yang menawan. Tentunya membuat siapapun tergoda untuk menggoyangkan kepala naik turun. Kualitas sound juga top notch banget. Album Self Transform from Decayed Flesh mengingatkan kita dengan era old-skul dari SUFFOCATION, DEEDS OF FLESH maupun CRYPTOPSY.
Total, album ini berisikan 9 buah lagu. Namun ada sebuah lagu yang sudah pernah disimak sebelumnya (ada di album Anatomy of Perfect Betiality). Judulnya adalah Knife in Womb (03:32). Sedikit mengundang pertanyaan, untuk apa memasukkan lagu lama ke dalam album baru ini? Tapi memang tidak bisa dipungkiri, Knife in Womb lagunya oke banget. Salah satu lagu kebangsaan ASPHYXIATE yang kerap ditampilkan saat manggung.
Suffered in Vivisection (02:54), sebuah track yang dipercaya untuk menjadi lagu pembuka album ini. Intronya luar biasa. Selama semenit lebih menampilkan riff-riff gitar yang berat dibaluti dengan permainan drum yang sangat intens. Siapapun pasti menyukai lagu ini. The title song, Self Transform from Decayed Flesh (02:53), cukup brutal dan bergemuruh. Salah satu lagu yang menjadi highlight dalam album ini. Sempat dirilis dalam bentuk demo pada April 2013 lalu. Berikutnya ada Odious Mutation Of Cannibalistic Creature (03:49). Salah satu track favorit saya dalam album ini. Menghentak dan di pertengahan lagu terdapat beberapa slam-groove. Failed Clone of God (02:41) sepintas mirip dengan Blood Flavor. Cukup oke, dengan alunan yang rentan mengajak kita untuk berheadbang-ria.
Decomposing Organs (03:22) menampilkan permainan drum Yogi serta aksi bass Adi yang menderu-deru tiada henti. Dilanjutkan kemudian dengan Digested Embryonic (02:42), sebuah lagu yang sudah pernah saya simak sebelumnya dalam versi demo single. Namun versi albumnya kali ini terdengar lebih nendang. Lagu andalan untuk album ini. Kick ass!!! Feasting on Human Cadaver (04:43) adalah lagu dengan durasi terlama dalam album ini. Saksikan saja kengerian yang disajikan oleh ASPHYXIATE di lagu ini. Sangat kompleks. Dan terakhir dalam album ini adalah Instrument of Defiled Breeder (02:54). Sebuah pamungkas! Penutup album yang luar biasa dahsyatnya!
Sebagai konklusi, album terbaru dari ASPHYXIATE yang secara keseluruhan memakan durasi 29 menit 38 detik ini sangat direkomendasikan sekali. Terlebih jika kalian adalah penikmat sejati genre brutal death metal. Sebuah album yang wajib dimiliki! Bila memiliki rezeki lebih, tidak ada salahnya untuk mengorder barang yang satu ini, walaupun harus pesan ke luar negeri.
So what do you waiting for? Feel free to headbanging your fucking head!!! In death we trust, in brutal we blast!!!
Tambahan:
ASPHYXIATE on Facebook: https://www.facebook.com/pages/ASPHYXIATE/48611258883
ASPHYXIATE on Reverbnation: http://www.reverbnation.com/asphyxiatemetal
Sunday, December 15, 2013
THE HOBBIT: THE DESOLATION OF SMAUG
The Hobbit: The Desolation of Smaug merupakan sekuel dari The Hobbit: An Unexpected Journey (rilis tahun 2012 kemarin). Di Indonesia sendiri The Hobbit: The Desolation of Smaug telah tayang sejak hari Jumat, tanggal 13 Desember 2013. Entah, kenapa bisa pas banget dengan Friday the 13th. Sengaja? Film ini berdurasi sepanjang 161 menit. Itu sama dengan 2,5 jam lebih. So, persiapkan diri kalian sebelum menonton filmnya, termasuk mencari posisi yang enak untuk menonton.
The Hobbit: The Desolation of Smaug berceritakan tentang pertualangan para Dwarf (kurcaci), yang dipimpin oleh Thorin, bersama Bilbo Baggins (yang telah berjanji menemani) untuk merebut Erebor dari sang naga bernama Smaug. Erebor sendiri adalah semacam kampung halaman leluhur dari bangsa kurcaci. Dan di situ terdapat begitu banyak emas dan permata lainnya. Sebelum benar-benar sampai ke Dale (kota di Erebor), rombongan harus melalui sebuah hutan bernama Mirkwood Forest. Di sini Gandalf, sang penyihir, harus berpisah dengan rombongan Bilbo cs demi tujuan tertentu yang juga tidak kalah pentingnya. Ternyata hutan tersebut membawa kesialan bagi Bilbo cs hingga harus berurusan dengan bangsa Elf (peri) yang dipimpin oleh raja bernama Thranduil, yang tidak lain adalah ayah dari Legolas. Selesai rintangan satu, Bilbo cs harus menghadapi rintangan lainnya di Lake-town. Lake-town inilah yang menjadi jalan penghubung untuk menuju Erebor. Sanggupkah Bilbo, Thorin dan beserta kurcaci lainnya mencapai dan menembus Erebor? Mampukah mereka mengusir Smaug dari Erebor dan merebut kembali harta-harta yang ada? Well, silakan tonton sendiri.
Secara keseluruhan, bagi saya, The Hobbit: The Desolation of Smaug menarik untuk ditonton. Seperti sudah bisa ditebak sebelumnya, di sekuel kali ini penonton akan dimanjakan dengan banyaknya adegan aksi. Salah satu adegan aksi yang bisa membuat penonton menahan nafas adalah saat kaum Orc mengejar Bilbo cs di sungai, dimana juga terdapat aksi-aksi pertarungan yang lincah, menawan dan anggun dari Legolas dan Tauriel. Kredit diberikan kepada Evangeline Lily yang memerankan Tauriel dengan manisnya. Adegan-adegan lucu khas Peter Jackson (sang sutradara) sangat banyak dijumpai di sini. Selain tingkah pola yang lucu dari beberapa karakter, kelucuan juga datang dari percakapan (verbal).
Sesuai dengan judulnya yang menampilkan kata "Smaug", di sini diperlihatkan secara detail bagaimana rupa dari sosok naga yang disebut dengan nama Smaug itu. Setidaknya penampilan Smaug bisa membuat penonton merasa takjub, kagum berbalut kengerian yang dalam tanpa dasar. Roman percintaan (antara Tauriel dan Kili) turut diselipkan oleh Peter Jackson ke dalam film ini. Sesuatu hal yang tidak ditemui pada film sebelumnya. Mungkin ada penonton yang tidak menyukainya (saya justru sebaliknya), namun hal ini patut untuk diapresiasi.
Dengan kisah pertualangan yang apik, jalan cerita bagus, ditambah dengan sinematografi yang super indah, The Hobbit: The Desolation of Smaug layak untuk ditonton. Sangat menghibur! Beberapa teman saya merasa keberatan dengan ending yang ada. Sebagian berkata nanggung dan ada juga yang bilang jelek. Sebenarnya film bagus tidak harus diakhiri dengan ending yang bagus dan membahagiakan. Wajar bila The Hobbit: The Desolation of Smaug memberikan ending yang menggantung. Sebab konklusi akhir serial film The Hobbit ini bisa didapat pada sekuel berikutnya, yakni sekuel pamungkas bertajuk The Hobbit: There and Back Again, rilis bulan Juli 2014 mendatang. So, harap bersabar. Hanya memakan waktu 7 bulan saja. Kita yakin Peter Jackson sanggup membuat segala sesuatunya berakhir dengan indah. Masih ingat dengan film The Lord of The Rings: The Return of the King, selaku pamungkas serial film The Lord of the Rings?
Semoga berkenan.
Tambahan:
- An Uxpected Journey dan The Desolation of Smaug mengambil cerita dari bukunya. Sedangkan There and Back Again merupakan pengembangannya.
- Bangsa Elf memiliki umur yang panjang, namun bukan berarti mereka tidak bisa tewas.
- Usia Orlando Bloom (yang memerankan Legolas) 2 tahun lebih tua dari Lee Pace yang berperan sebagai Thranduil.
- Ada cameo Peter Jackson pada 1 menit awal film.
- Kejadian unik dan lucu. Saat screening film ini di salah satu bioskop di kota Sao Paolo, Brasil, speakernya langsung jebol begitu adegan Smaug yang meraung. Sumber: IMDb.
The Hobbit: The Desolation of Smaug berceritakan tentang pertualangan para Dwarf (kurcaci), yang dipimpin oleh Thorin, bersama Bilbo Baggins (yang telah berjanji menemani) untuk merebut Erebor dari sang naga bernama Smaug. Erebor sendiri adalah semacam kampung halaman leluhur dari bangsa kurcaci. Dan di situ terdapat begitu banyak emas dan permata lainnya. Sebelum benar-benar sampai ke Dale (kota di Erebor), rombongan harus melalui sebuah hutan bernama Mirkwood Forest. Di sini Gandalf, sang penyihir, harus berpisah dengan rombongan Bilbo cs demi tujuan tertentu yang juga tidak kalah pentingnya. Ternyata hutan tersebut membawa kesialan bagi Bilbo cs hingga harus berurusan dengan bangsa Elf (peri) yang dipimpin oleh raja bernama Thranduil, yang tidak lain adalah ayah dari Legolas. Selesai rintangan satu, Bilbo cs harus menghadapi rintangan lainnya di Lake-town. Lake-town inilah yang menjadi jalan penghubung untuk menuju Erebor. Sanggupkah Bilbo, Thorin dan beserta kurcaci lainnya mencapai dan menembus Erebor? Mampukah mereka mengusir Smaug dari Erebor dan merebut kembali harta-harta yang ada? Well, silakan tonton sendiri.
Secara keseluruhan, bagi saya, The Hobbit: The Desolation of Smaug menarik untuk ditonton. Seperti sudah bisa ditebak sebelumnya, di sekuel kali ini penonton akan dimanjakan dengan banyaknya adegan aksi. Salah satu adegan aksi yang bisa membuat penonton menahan nafas adalah saat kaum Orc mengejar Bilbo cs di sungai, dimana juga terdapat aksi-aksi pertarungan yang lincah, menawan dan anggun dari Legolas dan Tauriel. Kredit diberikan kepada Evangeline Lily yang memerankan Tauriel dengan manisnya. Adegan-adegan lucu khas Peter Jackson (sang sutradara) sangat banyak dijumpai di sini. Selain tingkah pola yang lucu dari beberapa karakter, kelucuan juga datang dari percakapan (verbal).
Sesuai dengan judulnya yang menampilkan kata "Smaug", di sini diperlihatkan secara detail bagaimana rupa dari sosok naga yang disebut dengan nama Smaug itu. Setidaknya penampilan Smaug bisa membuat penonton merasa takjub, kagum berbalut kengerian yang dalam tanpa dasar. Roman percintaan (antara Tauriel dan Kili) turut diselipkan oleh Peter Jackson ke dalam film ini. Sesuatu hal yang tidak ditemui pada film sebelumnya. Mungkin ada penonton yang tidak menyukainya (saya justru sebaliknya), namun hal ini patut untuk diapresiasi.
Dengan kisah pertualangan yang apik, jalan cerita bagus, ditambah dengan sinematografi yang super indah, The Hobbit: The Desolation of Smaug layak untuk ditonton. Sangat menghibur! Beberapa teman saya merasa keberatan dengan ending yang ada. Sebagian berkata nanggung dan ada juga yang bilang jelek. Sebenarnya film bagus tidak harus diakhiri dengan ending yang bagus dan membahagiakan. Wajar bila The Hobbit: The Desolation of Smaug memberikan ending yang menggantung. Sebab konklusi akhir serial film The Hobbit ini bisa didapat pada sekuel berikutnya, yakni sekuel pamungkas bertajuk The Hobbit: There and Back Again, rilis bulan Juli 2014 mendatang. So, harap bersabar. Hanya memakan waktu 7 bulan saja. Kita yakin Peter Jackson sanggup membuat segala sesuatunya berakhir dengan indah. Masih ingat dengan film The Lord of The Rings: The Return of the King, selaku pamungkas serial film The Lord of the Rings?
Semoga berkenan.
Tambahan:
- An Uxpected Journey dan The Desolation of Smaug mengambil cerita dari bukunya. Sedangkan There and Back Again merupakan pengembangannya.
- Bangsa Elf memiliki umur yang panjang, namun bukan berarti mereka tidak bisa tewas.
- Usia Orlando Bloom (yang memerankan Legolas) 2 tahun lebih tua dari Lee Pace yang berperan sebagai Thranduil.
- Ada cameo Peter Jackson pada 1 menit awal film.
- Kejadian unik dan lucu. Saat screening film ini di salah satu bioskop di kota Sao Paolo, Brasil, speakernya langsung jebol begitu adegan Smaug yang meraung. Sumber: IMDb.
Thursday, December 12, 2013
LUNA SEA - A WILL
Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu itu datang juga. Sebuah penantian panjang terobati sudah. Tanggal 11 Desember 2013 kemarin LUNA SEA dengan resmi merilis album terbarunya yang berjudul A WILL. Merupakan album terbaru mereka setelah 13 tahun lamanya tak pernah merilis sebuah album pun (sebelumnya, album terakhir LUNA SEA adalah PERIOD, rilis tahun 2000). Lantas, bagaimanakah album A WILL dari band yang sempat mengunjungi Thailand dan Singapura awal tahun kemarin ini? Well, pada awalnya sedikit susah untuk dicerna, namun setelah didengar secara berulang kali sentuhan khas dari masing-masing personil LUNA SEA melalui lagu-lagu yang ada dapat dinikmati dengan indahnya.
Secara keseluruhan album ini berisikan 11 track lagu. Dimana 4 buah lagunya sudah terlebih dahulu disimak melalui versi singlenya. Ke-empat lagu tersebut adalah Rogue (04:30), The End of the Dream (04:01), RUN (04:30) dan Thoughts (04:08). Rogue kental dengan sentuhan rock & roll yang keluar dari petikan-petikan gitar miliknya Sugizo. The End of the Dream sebuah lagu dengan nada up-beat yang bagian chorusnya (tarikan tinggi Ryuichi plus vibran khasnya itu) terasa sangat catchy sekali. RUN, siapa saja pasti menyukai lagu yang dijadikan theme song serial drama TV Toshi Densetsu no Onna ini. Sepintas mirip dengan lagu The End of the Dream sih. Thoughts, sebuah lagu yang intronya mengingatkan saya dengan lagu Rosier, merupakan tembang unggulan yang bisa disimak dalam album ini. I really love this song!
Anthem of Light (04:16), lagu yang dipercayakan sebagai pembuka album, mampu menampilkan sisi glamor dan kharisma dari LUNA SEA itu sendiri. Sebuah lagu yang cukup megah. Pertama kali mendengar lagu MARIA (05:28), jujur, saya langsung jatuh cinta dengan lagu ini. Sedikit ballad dan tampil melankolis. Senandung yang diperagakan oleh Ryuichi memberikan keindahan tersendiri. Membuat saya sedikit penasaran dan bertanya bercerita tentang apakah lagu ini. Layak ditunggu translatenya. Oh iya, di sini bisa didengar gesekan biola yang dimainkan oleh Sugizo. Glowing (04:29), cukup berat serta bertenaga dengan tempo yang sedikit melambat. Walaupun hanya sebagai filler-track, saya suka dengan aksi solo gitar Sugizo di sini.
Berikutnya ada absorb (06:21). Sebuah lagu dengan durasi terpanjang yang bisa dijumpai dalam album ini. Biasa saja lagunya. Another filler-track, maybe? Metamorphosis (05:49) menampilkan sisi garang dan liar dari LUNA SEA. Musik (terutama kocokan-kocokan gitar Sugizo) pada bagian awal lagu sekilas mengingatkan saya dengan Blue Transparency. Shinya cukup intens memainkan pedal-drumnya. GIN NO TSUKI (05:35) juga merupakan lagu yang sangat asyik sekali untuk disimak. Akustik gitar yang catchy diimbangi dengan betotan bass dari J yang tegas. Dan lagi Sugizo menyumbangkan permainan biolanya di sini. Lagu terakhir sekaligus penutup album adalah Grace (05:11). Another ballad-song yang cukup anggun, dengan tambahan orkestra musik. Nice.
Overall, album A WILL, yang secara total berdurasikan 55 menit ini cukup oke untuk disimak. Jangan terjebak dengan masa lalu LUNA SEA. Segera move on. Dengarkan lagu-lagu dalam album ini dengan seksama. Sebab inilah sosok LUNA SEA sekarang! Ditunggu lagi rilisan-rilisan terbaru dari band yang terbentuk sejak tahun 1989 ini.
Semoga berkenan.
Secara keseluruhan album ini berisikan 11 track lagu. Dimana 4 buah lagunya sudah terlebih dahulu disimak melalui versi singlenya. Ke-empat lagu tersebut adalah Rogue (04:30), The End of the Dream (04:01), RUN (04:30) dan Thoughts (04:08). Rogue kental dengan sentuhan rock & roll yang keluar dari petikan-petikan gitar miliknya Sugizo. The End of the Dream sebuah lagu dengan nada up-beat yang bagian chorusnya (tarikan tinggi Ryuichi plus vibran khasnya itu) terasa sangat catchy sekali. RUN, siapa saja pasti menyukai lagu yang dijadikan theme song serial drama TV Toshi Densetsu no Onna ini. Sepintas mirip dengan lagu The End of the Dream sih. Thoughts, sebuah lagu yang intronya mengingatkan saya dengan lagu Rosier, merupakan tembang unggulan yang bisa disimak dalam album ini. I really love this song!
Anthem of Light (04:16), lagu yang dipercayakan sebagai pembuka album, mampu menampilkan sisi glamor dan kharisma dari LUNA SEA itu sendiri. Sebuah lagu yang cukup megah. Pertama kali mendengar lagu MARIA (05:28), jujur, saya langsung jatuh cinta dengan lagu ini. Sedikit ballad dan tampil melankolis. Senandung yang diperagakan oleh Ryuichi memberikan keindahan tersendiri. Membuat saya sedikit penasaran dan bertanya bercerita tentang apakah lagu ini. Layak ditunggu translatenya. Oh iya, di sini bisa didengar gesekan biola yang dimainkan oleh Sugizo. Glowing (04:29), cukup berat serta bertenaga dengan tempo yang sedikit melambat. Walaupun hanya sebagai filler-track, saya suka dengan aksi solo gitar Sugizo di sini.
Berikutnya ada absorb (06:21). Sebuah lagu dengan durasi terpanjang yang bisa dijumpai dalam album ini. Biasa saja lagunya. Another filler-track, maybe? Metamorphosis (05:49) menampilkan sisi garang dan liar dari LUNA SEA. Musik (terutama kocokan-kocokan gitar Sugizo) pada bagian awal lagu sekilas mengingatkan saya dengan Blue Transparency. Shinya cukup intens memainkan pedal-drumnya. GIN NO TSUKI (05:35) juga merupakan lagu yang sangat asyik sekali untuk disimak. Akustik gitar yang catchy diimbangi dengan betotan bass dari J yang tegas. Dan lagi Sugizo menyumbangkan permainan biolanya di sini. Lagu terakhir sekaligus penutup album adalah Grace (05:11). Another ballad-song yang cukup anggun, dengan tambahan orkestra musik. Nice.
Overall, album A WILL, yang secara total berdurasikan 55 menit ini cukup oke untuk disimak. Jangan terjebak dengan masa lalu LUNA SEA. Segera move on. Dengarkan lagu-lagu dalam album ini dengan seksama. Sebab inilah sosok LUNA SEA sekarang! Ditunggu lagi rilisan-rilisan terbaru dari band yang terbentuk sejak tahun 1989 ini.
Semoga berkenan.
Subscribe to:
Posts (Atom)