Wednesday, August 18, 2010

Beberapa Fakta Seputar Kemerdekaan Negara Republik Indonesia 17 Agustus 1945

Sudah pernah saya post di blog yang sebelumnya. Bisa kalian lihat di SINI. Tapi tak apalah bila saya mempost-nya kembali. Check it out!

01) Revolusi dari Kamar Tidur
Bung Karno baru bangun pukul 09.00 setelah sebelumnya terkena serangan malaria di kamarnya, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini. Suhu badannya tinggi dan sangat lelah setelah begadang bersama para sahabatnya menyusun konsep naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda.

02) Tanpa Protokol
Tak ada korps musik, tak ada konduktor dan tak ada pancaragam. Tiang bendera pun dibuat dari batang bambu secara kasar, serta ditanam hanya beberapa menit menjelang upacara. Tetapi itulah, kenyataan yang yang terjadi pada sebuah upacara sakral yang dinanti-nantikan selama lebih dari tiga ratus tahun!

03) Seprei dan Tukang Soto
Bendera Merah Putih terbuat dari kain sprei dan kain tukang soto!

04) Perintah Presiden Pertama Panggil Tukang Sate!
Perintah pertama Presiden Soekarno saat dipilih sebagai presiden pertama RI, bukanlah membentuk sebuah kabinet atau menandatangani sebuah dekrit, melainkan memanggil tukang sate! Itu dilakukannya dalam perjalanan pulang, setelah terpilih secara aklamasi sebagai presiden. Kebetulan di jalan bertemu seorang tukang sate bertelanjang dada dan nyeker (tidak memakai alas kaki). "Sate ayam lima puluh tusuk!", perintah Presiden Soekarno. Disantapnya sate dengan lahap dekat sebuah selokan yang kotor. Dan itulah, perintah pertama pada rakyatnya sekaligus pesta pertama atas pengangkatannya sebagai pemimpin dari 70 juta jiwa lebih rakyat dari sebuah negara besar yang baru berusia satu hari.

05) Teks Proklamasi di Keranjang Sampah
Naskah asli teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ditulis tangan oleh Bung Karno dan didikte oleh Bung Hatta, ternyata tidak pernah dimiliki dan disimpan oleh Pemerintah! Anehnya, naskah historis tersebut justru disimpan dengan baik oleh wartawan BM Diah. Diah menemukan draft proklamasi itu di keranjang sampah di rumah Laksamana Maeda, 17 Agustus 1945 dini hari, setelah disalin dan diketik oleh Sajuti Melik. Pada 29 Mei 1992, Diah menyerahkan draft tersebut kepada Presiden Soeharto, setelah menyimpannya selama 46 tahun 9 bulan 19 hari.

06) Proklamator di balik layar
Kalau saja usul Bung Hatta diterima, tentu Indonesia punya "lebih dari dua" proklamator. Saat setelah konsep naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia rampung disusun di rumah Laksamana Maeda, Jl. Imam Bonjol no 1, Jakarta, Bung Hatta mengusulkan semua yang hadir saat rapat dini hari itu ikut menandatangani teks proklamasi yang akan dibacakan pagi harinya. Tetapi usul ditolak oleh Soekarni, seorang pemuda yang hadir. Rapat itu dihadiri Soekarno, Hatta dan calon proklamator yang gagal: Achmad Soebardjo, Soekarni dan Sajuti Melik. "Huh, diberi kesempatan membuat sejarah tidak mau", gerutu Bung Hatta karena usulnya ditolak.

07) Dokumentasi Proklamasi selamat berkat bohong
Peristiwa sakral Proklamasi 17 Agustus 1945 dapat didokumentasikan dan disaksikan oleh kita karena satu kebohongan. Saat tentara Jepang ingin merampas negatif foto yang mengabadikan peristiwa penting tersebut, Frans Mendoer, fotografer yang merekam detik-detik proklamasi, berbohong kepada mereka. Dia bilang tak punya negatif itu dan sudah diserahkan kepada Barisan Pelopor, sebuah gerakan perjuangan. Mendengar jawaban itu, Jepang pun marah besar. Padahal negatif film itu ditanam di bawah sebuah pohon di halaman Kantor harian Asia Raja. Setelah Jepang pergi, negatif itu diafdruk dan dipublikasi secara luas hingga bisa dinikmati sampai sekarang. Bagaimana kalau Mendoer bersikap jujur pada Jepang?

08) Hari kelahiran dan kematian
Bila 17 Agustus menjadi tanggal kelahiran Indonesia, justru tanggal tersebut menjadi tanggal kematian bagi pencetus pilar Indonesia. Pada tanggal itu, pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, WR Soepratman (wafat 1937) dan pencetus ilmu bahasa Indonesia, Herman Neubronner van der Tuuk (wafat 1894) meninggal dunia.

09) Tidak ada jalan Soekarno Hatta di Jakarta
Jakarta, tempat diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia dan kota tempat Bung Karno dan Bung Hatta berjuang, tidak memberi imbalan yang cukup untuk mengenang co-proklamator Indonesia. Sampai detik ini, tidak ada "Jalan Soekarno-Hatta" di ibu kota Jakarta. Bahkan, nama mereka tidak pernah diabadikan untuk sebuah objek bangunan fasilitas umum apa pun sampai 1985, ketika sebuah bandara diresmikan dengan memakai nama mereka.

10) Gelar Resmi Proklamator baru 1986
Gelar Proklamator untuk Bung Karno dan Bung Hatta, hanyalah gelar lisan yang diberikan rakyat Indonesia kepadanya selama 41 tahun! Sebab, baru 1986 Pemerintah memberikan gelar proklamator secara resmi kepada mereka.

11) Menteri asli Indonesia
Baru setelah merdeka 43 tahun Indonesia punya menteri yang 100% Indonesia asli. Karena semua menteri sebelumnya lahir sebelum 17 Agustus 1945. Itu berarti, mereka pernah menjadi warga Hindia Belanda dan atau pendudukan Jepang, sebab negara hukum Republik Indonesia memang belum ada saat itu. "Orang Indonesia asli" pertama yang menjadi menteri adalah Ir Akbar Tanjung (lahir di Sibolga, Sumatera Utara, 30 Agustus 1945), sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga pada Kabinet Pembangunan V (1988-1993).

Sumber: Dirangkum dari berbagai blog dan milis.
Tambahan: Silakan baca juga ini: http://yulian.firdaus.or.id/2003/08/12/fakta-seputar-proklamasi/

Saturday, July 04, 2009

Kagrra - Shu

Okay, ini dia album terbaru miliknya Kagrra, yang juga merupakan salah satu album yang paling aku tunggu-tunggu sepanjang tahun 2009 ini. Album tersebut diberi tajuk Shu. Dirilis tepat di saat dunia sedang merayakan hari April's Mop, yakni tanggal 01 April 2009. Untung saja jadwal perilisan album ini luput dari keisengan Kagrra,. Haha. Tentu saja tidak lah. Gila tuh namanya seandainya Kagrra, mau ngerjain penggemarnya. Dengan dirilisnya album Shu ini, secara total Kagrra, telah merilis 11 buah album. Dengan perincian 6 album indie dan 5 album mayor. Sampai detik ini-pun, menurutku San masih menjadi album terbaik yang pernah diciptakan oleh Kagrra,. Bagi kalian yang belum pernah menyimak album San, tentu saja kalian mengalami kerugian besar! Oh iya, Shu juga merupakan album kedua [setelah album Core, tentunya] miliknya Kagrra, setelah pindah perusahaan rekaman dari COLUMBIA RECORDS ke KING RECORDS. Group band metal yang juga selalu menghadirkan suasana etnic Jepang, Onmyo-za, juga berada di dalam perusahaan KING RECORDS.

Secara total album Shu ini berisikan 10 buah lagu. Dan hanya satu buah lagu saja yang dibuatkan singlenya, yakni Uzu, rilis bulan September 2008 lalu. Shu sendiri dirilis dalam dua varian. LIMITED EDITION dan REGULER EDITION. LIMITED EDITION di dalamnya selain berisikan 10 buah lagu juga ada DVD yang isinya Sakura zukiyo [PV], Member Interview dan The Making of Sakura zukiyo. Sedangkan untuk REGULER EDITION hanya berupa CD Audio saja.

Lantas, bagaimana hasil keseluruhan album Shu ini? Well, bisa aku katakan, I really love this album! Lebih bagus ketimbang album Core kemarin, walaupun belum bisa menyamai keunggulan album San. Sepertinya album Shu bakal menjadi pesaing terkuat untuk meraih predikat BEST ALBUM OF THE YEAR [my awards, of course!], berhadapan dengan album Kyuutai-nya MUCC. Yah, pokoknya dilihat saja nanti gimana hasil akhirnya.

Sekilas profile dari band yang sempat bernama CROW ini. Kagrra, terbentuk sejak tahun 1998. Dan di dalamnya terdiri atas lima orang personil dimana masing-masing dari mereka sangat ahli dalam memadukan musik tradisional Jepang dengan musik rock Jepang modern. Kelima orang tersebut adalah Isshi pada posisi vokal, Akiya memegang alat gitar, Shin yang selain sebagai gitaris juga lihai memainkan alat musik "koto", Nao memegang alat bass dan terakhir Izumi yang tentunya menggawangi posisi drum. Seperti yang sudah disinggung sedikit di atas, warna musik Kagrra, memang masuk dalam kategori rock, yang kental dengan rock mainstream/general, yang juga selalu dibumbui dengan alunan musik tradisional Jepang. Namun, semenjak album Core, Kagrra, mencoba sesuatu yang baru dan mulai ber-eksperimen. Yang kali ini tidak hanya berpatokan pada rock saja, tetapi juga warna musik lainnya. Seperti groove, jazz, dll. Oh iya, Kagrra, berada dalam naungan label terkenal, yaitu PS COMPANY [alice nine., the GazettE, dll]. Dibandingkan alice nine. dan the GazettE, Kagrra, menjadi band PS COMPANY ter-favorite-ku!

Alright, tanpa ber-panjang-lebar lagi langsung saja kita simak bersama album ini dengan sebuah track pembuka, yaitu Paraizo [04:16]. GREAT SONG! Aku suka banget! Memang layak dijadikan pembuka album. Sebab lagunya sendiri sangat bersemangat dengan sentuhan serta nuansa, yah, seperti di daerah-daerah terpencil di Jepang sono [atau hutan?]. Intro-nya memang membawa pikiran dan perasaan kita ke arah situ. Awal lagu yang dibuka dengan tarikan manis vokal miliknya Isshi, petikan koto dari Shin serta tiupan suling khas Jepang [kalo tidak salah namanya "sakuhachi" yah?] aku rasa merupakan sebuah epic-intro! Verse-nya cukup nge-groove, seakan-akan mengajak pendengar untuk ikut bergoyang menikmati alunan musiknya. Apalagi dengan permainan gitar yang sedikit nge-ska dan ketukan-ketukan cymbal-drums-nya. Makin larut dengan perasaan enjoy! Dan itu masih bisa disimak pada intelude-nya nanti. Walaupun bagian chorusnya kurang aku sukai, setidaknya lagu cukup oke lah sebagai "makanan pembuka" untuk menyimak lagu-lagu berikutnya.

Selanjutnya giliran lagu yang dikasih judul Uzu [04:05]. Wah, jangan tanya lagi. ANOTHER GREAT SONG! Bahkan menjadi salah satu lagu terbaik yang pernah diciptakan oleh Kagrra,. Seorang yang bukan penggemar Kagrra, sekalipun pasti akan menyukai lagu ini. Dibuka dengan permainan koto oleh Shin, intro dari Uzu ini terlihat begitu anggun dan cantik. Tune-tune yang dimainkan melalui ritem gitar, selain mempertegas unsur rock-nya juga turut menambah manis lagu ini. Tidak ketinggalan permainan solo-melodi-gitar-nya yang melankolis. Nice job, Akaya! Pada bagian chorus, vokal Isshin yang kharismatik bisa tersampaikan dan dirasakan oleh pendengar. Tidak ketinggalan aksi sang bassist, Nao, yang asyik dengan betotan lima senar bass-nya. BEAUTIFUL SONG! Sudah ada yang menonton PV-nya? Shin memang terlihat elegan dengan koto-nya yang besar itu. Saite kaori karete horobiru umare shi ni yuku ikutabi mo, kuchite gaeri soshite me wo fuku hito wa doko e mukau no darou....

Selesai Uzu, diteruskan dengan Ren [04:31]. Sampai di sini Kagrra, masih menjaga momentum-nya dengan baik. Lagunya cukup catchy dan tentunya juga menjadi salah satu lagu terbaik yang bisa ditemukan dalam album ini. Hampir sama seperti dua lagu sebelumnya, permainan koto masih bisa disimak. Justru hal yang seperti ini lah yang sangat aku sukai. Mendengarkan permainan koto memang bisa membuat mood kita menjadi bertambah. The intro is nice! Verse cukup manis dengan driving bass-line-nya Nao yang terasa dominan, bahkan di sepanjang lagu. Dan itu disusul dengan bagian melodic-chorus-nya yang enjoyable! Akiya dan Shin pun sedikit memberikan sedikit kejutan dengan riff-riff gitarnya yang cukup berat. Salah satunya, coba saja simak pada durasi ke 02:20.

Tanbi naru shi he no shoukei [03:58], menjadi lagu berikutnya. Lagunya cenderung nge-pop dan sangat tipikal dengan lagu-lagu Kagrra, di album-album sebelumnya. Biarpun begitu, tetap lagu ini menampilkan aransemen musik yang sungguh menarik. Tempo lagu kali ini sedikit up-beat. Verse dan pre-chorus-nya oke walaupun chorusnya terlihat terlalu standar. Dan di sini bisa disimak sekali lagi aksi solo gitar dari Akiya. Good one! Disusul kemudian dengan lagu selanjutnya, yaitu Sakura zukiyo [04:32]. Lagi-lagi sebuah lagu ciptaan Kagrra, yang memang potensial sekali untuk menjadi salah satu dari beberapa lagu terbaik dalam album ini. Tidak salah jika Kagrra, membuatkan PV untuk lagu ini. Kali ini lagunya terasa manis dengan sedikit sentuhan melodi-melodi manis yang melankolis, classic-grooving dan tentu saja syahdu. Sangat khas memang dengan aliran musik Kagrra, semenjak beberapa album sebelumnya. Permainan gitar serta beat-beat yang dihasilkan melalui ketukan drum cukup menjaga ritme sehingga terdengar menarik sampai detik penghabisan lagu ini. Dan sekali lagi, Isshi menampilkan performa vokalnya yang kharismatik itu, baik melalui verse-nya maupun semi-melankolis-chorus-nya! Oh iya, solo gitar [lengkap dengan efek-nya] yang dimainkan oleh Akiya mengingatkan aku akan aksi gitar-nya SUGIZO [eks LUNA SEA]. Dan itu memang wajar. Sebab Akiya mengidolakan sang gitaris flamboyan tersebut.

Kemudian kita mendapatkan lagu berjudul Kikoku shuushuu [03:39]. Sama hal-nya seperti Tanbi naru shi he no shoukei, aku rasa lagu ini juga merupakan filler track. Namun tenang saja. Walaupun terkesan datar dan monoton, filler track kali ini tidak hanya sekedar dilewatkan begitu saja. Tetapi juga cukup layak untuk diapresiasi. Verse-nya memang biasa. Namun chorusnya cukup bertaji.

Dan lagu Jyusou [03:49] menjadi lagu berikutnya. Sekedar informasi, lagu Jyusou sendiri menjadi theme song dari sebuah film yang berjudul Hitori Kakurenbo. Film ini sendiri akan dirilis pada musim panas mendatang di beberapa kota besar Jepang sana. Aku sendiri tidak tahu filmnya menceritakan tentang apa. Namun apabila menyimak lagu Jyusou yang sedikit cadas namun dibalut dengan nuansa suram, sepertinya film itu tidak jauh dari tema horror. Apapun itu, lagu ini cukup membuat aku sedikit surprise setelah sebelumnya dihajar dengan lagu-lagu yang manis, gemulai dan cantik. Lagu ini sangat beda sekali. Asyik! I really love it. Verse-nya mantap, diisi dengan tarikan suara-dalam Isshi yang ditemanin dengan driving-bass-nya Nao yang sangat terasa getarannya ke dalam hati. And also, the chorus is great! Nuansa gelap semakin bertambah tebal dengan ornamen-ornamen pendukung, seperti dentingan piano, solo-piano, sampling, dll. You should listen this one!

Kejutan belum selesai. Buktinya bisa disaksikan pada lagu setelahnya, yaitu Subarashiki kana jinsei [03:43]. Intro-nya saja sudah bisa disimak permainan terompet yang cukup elegan dan jazzy. Yah, tentu saja ini lagi-lagi menjadi eksperimental-song yang diciptakan oleh Kagrra,. Dan aku rasa apa yang mereka coba bisa dibilang cukup sukses. Sangat bisa dinikmati! Namun, entah kenapa mulai dari pertengahan hingga akhir lagu, rasa bosan mulai datang menghampiri. Overall, this unpredictable-song is good enough! Just try it!

Towa ni...
[04:26], rasanya menjadi lagu dengan intro terbaik dalam album ini. Sayang, pada masukan awal vokal bagian verse-nya, kok terasa "lari" dari nada pakem-nya. Pre-chorus is alright. Yang disambung dengan chorus yang sangat Oshare-kei banget! Kocokan-kocokan gitar sepanjang lagu yang dimainkan Akiya dan Shin mampu mengangkat mood lagu ini hingga mencapai level-nya. Apalagi dengan tempo yang sedikit nge-beat dan lively! Well, lagu ini boleh lah.

Akhirnya sampai juga pada lagu terakhir sekaligus penutup album. Lagu yang beruntung tersebut berjudul Hoozuki [04:21]. Apakah kalian merasa pernah menyimak lagu ini? Wajar saja. Sebab lagu ini merupakan B-side track dari single Uzu yang juga turut dimasukkan ke dalam album ini. Dan memang sesuai dengan tebakanku. Coba mampir ke SINI. Di situ aku memasukkan lagu Hoozuki menjadi salah satu nominasi dalam kategori BEST B-SIDE/UNEXPECTED HIT SONG 2008. Dan ternyata pilihanku tidak salah khan? Hehe. Yup, another great song by Kagrra,. Biarpun lagunya cukup slow, sentimentil dan touching, dijamin deh jika didengarkan dengan seksama maka perasaan yang tertuang dalam lagu ini bisa kita resapi dengan dalamnya. Isshi is great!

Yeah, seperti yang aku sudah katakan di atas tadi, I really love this album! Lagu-lagu Kagrra, tidak bisa dikategorikan sebagai lagu easy-listening. Memang membutuhkan waktu baru bisa mengerti lagu-lagunya. Mungkin untuk masing-masing lagu, harus dimainkan sebanyak 4-5 kali. Dan memang itu yang aku lakukan. Buat kalian yang menggemari musik berat, cadas, lengkap dengan growl maupun scream, kalian telah salah alamat! Kagrra, bukanlah band seperti itu!

Secara keseluruhan, album ini aku kasih rating 5/5 bintang. Memang prestasi ini belum bisa disamakan dengan album San. Namun setidaknya, Shu sedikit lebih oke dibandingkan album Core, yang menurutku album Core tersebut sangat banyak sekali dengan sentuhan-sentuhan eksperimental yang dilakukan personilnya. Untung saja Kagrra, menyadari hal tersebut sehingga di album Shu ini eksperimental-nya terlihat berkurang dengan signifikan-nya. Dan tentu saja itu merupakan sebuah langkah yang bagus!

Okay, sampai di sini dulu. Terima kasih atas perhatiannya. Semoga berkenan....

Sunday, November 02, 2008

DIR EN GREY - UROBOROS

Seperti yang kita ketahui bersama, semenjak tiga hari kemarin telah beredar link untuk men-download album terbaru dari Dir en grey yang dikasih judul UROBOROS itu. Walaupun tentunya ini merupakan salah satu aksi pembajakan, dan itu salah, setidaknya bagi kita-kita yang tidak merasa mampu membeli CD-nya bisa bernafas lega? Benarkah begitu? Tidak juga. Seandainya CD album UROBOROS juga dirilis di Indonesia, aku pasti membelinya. Asalkan distribusinya sampai ke kotaku sini. Begitu link download album ini merebak di media internet, terlintas satu pertanyaan dalam pikiranku: Siapa yang tega menyebarluaskan album ini lebih awal? Bagaimana tidak, sebab secara jadwal album album ini sebenarnya akan dirilis tanggal 12 November 2008 mendatang. Jadi itu sekitar dua minggu menjelang rilisnya album. Usut punya usut, ternyata distributor di Amerika sana yang menyebarkannya dengan perasaan tidak peduli apakah hal itu termasuk cara yang benar atau salah. Atau mungkin juga mereka sudah mengalami stress terlebih dahulu saking tidak sabarnya untuk menyatakan rasa gembira akan album terbaru Dir en grey ini? Well, itu cerita lain.... Yang pasti, GET READY FOR THE MOST ANTICIPATED ALBUM OF THE YEAR!!!

Album UROBOROS, yang merupakan full-length album ketujuh-nya Dir en grey dirilis dalam waktu bersamaan di tiga tempat. Tanggal 11 November 2008 UROBOROS resmi dirilis di kawasan Amerika Utara yang ditangani langsung oleh label The End Records. Untuk negara Jepang dan kawasan Eropa, dirilis tanggal 12 November 2008. Untuk Jepang albumnya diedarkan melalui label Firewall [salah satu anaknya Sony Music Entertainment Japan] dan untuk penyebaran di kawasan Eropa dipercayakan kepada label Gan-Shin. Untuk Amerika, dirilis dalam empat format. Yaitu Digipack CD & DVD, Digital download, CD dan 12" LP album. Sementara di Jepang dirilis dalam tiga buah varian. Varian pertama berisikan 2 CD album plus DVD dan 2 LP box set. Varian kedua berupa 2 CD album. Sementara Varian ketiga hanya verupa CD saja. Bagaimana dengan kawasan Eropa? Hanya dirilis dalam dua type. Type pertama adalah reguler edition dan type kedua berupa special edition. Semoga tidak pusing dengan penjelasanku di atas.

Setelah mendengarkan album ini, mulai dari track awal hingga track akhir, Dir en grey memang menepati janjinya seperti yang mereka janjikan di website official-nya beberapa waktu lalu itu. Di situ mereka mengatakan jika album ini akan terasa lebih "crazy" dibandingkan album sebelumnya yang cukup gagal menurutku, THE MARROW OF A BONE. Namun, album ini tidak hanya sekedar lebih "crazy" saja, tetapi di sisi lain Dir en grey juga memperhatikan dengan benar dan seksama alur musiknya dengan memberikan sentuhan-sentuhan harmonisasi melodi yang manis. Sehingga apa yang ditawarkan dalam album UROBOROS ini menjadi sedikit beda, jika tidak ingin dikatakan unik. Nah, hal ini yang tidak tampak dan tidak bisa ditemukan dalam album THE MARROW OF A BONE. Bahkan, untuk album UROBOROS kali ini, Dir en grey banyak melakukan berbagai eksperimen di dalam menghasilkan sound-sound yang sesuai dengan tema dari album ini, yaitu reincarnation. Dir en grey berani memainkan sound-sound yang agak di luar jalur, seperti nuansa musik ala Ketimur-tengahan melalui alat musik mandolin, oriental, religious dan masih banyak lainnya. Dan yang terpenting adalah Dir en grey kembali memasukkan ciri khas Visual-kei ke dalam beberapa lagu dalam album ini, walaupun ciri khas tersebut tidak terlalu kental kelihatan. Hal ini tentu saja diamini fans-nya dengan sebuah tanggapan yang sangat positif.

Wow, basa-basinya terlalu panjang ya? Sebelum membedah album ini, berikut sekilas profile Dir en grey. Band yang dulunya sempat bernama Deathmask ini memulai debutnya pada tahun 1997. Di dalamnya berisikan lima orang personil. Mereka adalah Kyo [eks La:Sadie's] pada posisi vokal yang memiliki jangkauan vokal sangat tinggi, mulai dari throat-growl, screaming bahkan sampai pada mad-yelling, Kaoru [eks La:Sadie's] pada posisi lead guitar, Die [eks La:Sadie's] juga pada posisi gitaris [tepatnya ritem], Toshiya memegang alat bass dan terakhir sudah tentu Shinya [eks La:Sadie's] yang menggawangi posisi drum. Warna musik yang Dir en grey mainkan sekarang ini bisa dikategorikan dalam genre rock. Awal-awal karir Dir en grey, warna musik mereka sangat khas dengan gaya visual-rock dengan menampilkan ritme musik yang susah dicerna, tapi asyik. Namun seiring waktu berjalan, Dir en grey selalu mencoba genre baru. Mulai dari hard-rock, hardcore, dan nge-metal. Ini bisa dibuktikan dalam album terakhir mereka yang rilis awal tahun 2007 lalu, yaitu THE MARROW OF A BONE. Album UROBOROS versi edaran Amerika ini secara total di dalamnya berisikan 13 buah track lagu plus 2 buah track bonus, yaitu GLASS SKIN [Japanese Version] dan DOZING GREEN [Japanese Version]. Alright, here we go! Tembang pembuka album ini diisi oleh sebuah track intro yang berjudul SABIR [02:00]. Memang track ini tidak bisa dinilai. Namun yang pasti, track intro ini memang sangat oke dijadikan ajang pemanasan serta meningkatkan mood para pendengar untuk mendengarkan lebih lanjut akan isi album ini secara keseluruhan. Pada latar musik ini, bisa didengar scream-scream khas Kyo yang dibarengi dengan permainan petikan mandolin. Track intro ini menyadarkan aku bahwa Dir en grey terakhir kali melakukan hal seperti ini ketika merilis album MACABRE tahun 2000 silam.

Selesai SABIR, langsung dilanjutkan dengan sebuah lagu berjudul VINUSHKA [09:35]. Lagu yang judulnya sangat bertemakan India ini menjadi salah satu lagu favoriteku dalam album ini. Yup, what a great song! Mendengarkan lagu ini sampai memasuki durasi 4 menitan, aku sudah yakin jika ini merupakan sebuah great-ballad song. TERNYATA ITU SALAH! Sebab lagunya semakin berkembang ke arah yang lebih dan makin lama makin mencapai puncaknya berupa sebuah alur musik yang cukup berat dan agrressive dengan permainan instrumental yang super jenius! Itu terjadi pada menit ke 04:20. Sungguh hal tersebut membuat aku terkejut sekali. Saking terkejutnya, sampai durasi lagu ini berakhir aku masih belum bisa menutup mulutku yang menganga. AMAZING SONG! Di bagian cadas, Kyo beraksi dengan low-growl, high pitched screaming plus sedikit mad-yelling-nya. Permainan drum dari Shinya makin terlihat sedikit peningkatan. Aku suka dengan aksi double-bass-peddle Shinya di lagu ini. Walau lagu ini sudah bagus, namun alangkah lebih bagus lagi jika lagu ini hanya cukup sampai pada menit ke 04:20 tadi saja. Sebab, di sini seakan-akan kita menyaksikan dua buah lagu yang digabungkan menjadi satu. Tapi itu tidak menjadi masalah yang berarti! I still love this song! Rasanya ini merupakan lagu dengan durasi terpanjang kedua yang pernah dibuat Dir en grey sesudah Macabre [10:51].

RED SOIL [03:24] menjadi lagu berikutnya. Bagian intro-nya keren, terlebih permainan gitarnya. Mendengarkan lagu ini pada awalnya memang membuat pendengar sedikit merasa ganjil dengan warna musik yang diluar kebiasaan Dir en grey ini. Namun jika didengarkan untuk kedua dan ketiga kalinya, dijamin pasti ketagihan. Lagi pula, sisi baik yang bisa disimak dari lagu ini adalah sentuhan Visual-kei-nya sangat tampak sekali. Interlude-interlude melodic-gitar yang mendawai, mengingatkan kita akan old-school-nya Dir en grey [terutama jaman album GAUZE]. Lagunya terasa mengalami progress mulai dari tempo normal sampai dengan bagian berat pada riff gitar. Mengingatkan aku akan lagu hydra-666. Performa vokal Kyo di lagu ini cukup memukau. Di verses bermain dengan normal-voice yang bersih, dan pada beberapa bagian lainnya beraksi dengan scarry-growl/screaming-nya. Dan pada bagian durasi 02:32, Kyo sedikit menggoda pendengarnya dengan mumbling-nya yang sangat ter-influence dengan Jonathan Davis, sang vokalis band KORN.

Beralih ke tembang selanjutnya, DOUKOKU TO SARINU [03:48]. Lagi-lagi sebuah tembang cadas dan high intense dari Dir en grey, yang mirip dengan lagu-lagu album THE MARROW OF A BONE. Sangat oke jika dipakai untuk sekedar bermoshing-ria maupun ber-headbanging-ria! Walaupun terkesan cadas, lagu ini di waktu bersamaan juga menawarkan sentuhan yang soft dan melodic. Kyo sekali lagi beraksi dengan deep-growl-nya. Tetapi tetap menawarkan kemampuan olah vokalnya melalui ambilan nada-nada range tinggi. Itu bisa disimak pada bagian chorusnya. Nice job, Kyo! Untuk urusan permainan instrumen-nya, well, apresiasi layak diberikan kepada Kaoru, Die dan Shinya yang aksi gitar dan drum-nya begitu matching.

Sekarang giliran lagu TOGURO [03:57]. Yeah, I really love this song! The intro is great! Kocokan interlude gitar dan driving bass-line yang rada nge-groove pada awal lagu sudah memberikan kesan optimis jika lagu ini pasti bakalan terdengar oke. Dan itu memang benar! Tarikan vokal Kyo yang sangat bersih di awal lagu dan juga tentunya sepanjang lagu, sangat terinspirasi dengan pelafalan vokal musik-musik dari negara Timur-tengah. Bagian verses dan chorus juga mampu dibabat Kyo dengan penampilan vokalnya yang kali sungguh luar biasa cantiknya. Memberikan bukti kepada kita bahwa KYO MASIH MAMPU BERNYANYI! You did great, Kyo! Lagunya memang terasa lebih santai. Memberikan kesempatan pada pendengar untuk sejenak ber-cooling-down setelah dua buah track sebelumnya yang rada memakan energi itu. Seharusnya lagu TOGURO ini yang perlu dibuat durasinya sampai 9 menit lebih, bukannya VINUSHKA. Oh iya, sekilas lagu ini memiliki persamaan dengan lagu berjudul Hotarubi [bisa ditemui pada album MACABRE].

GLASS SKIN [04:27] menjadi lagu berikutnya. Berbeda dengan versi singlenya, GLASS SKIN ini liriknya menggunakan bahasa Inggris. Yup, kalian tidak salah baca, bahasa Inggris! Sungguh mengerikan. Kenapa? Jujur saja, Kyo menurutku tidak bagus-bagus amat di dalam pelafalan/ucapakan bahasa Inggris-nya. Jadi yang bisa didengar melalui vokal Kyo hanya berupa suara ala komat-kamit gitu. Apapun itu, this song is still very good!

Selesai GLASS SKIN disusul kemudian dengan tembang selanjutnya, yaitu STUCK MAN [03:34]. Such a grooving song, dengan aksi driving-bass-nya Toshiya yang brilliant! Sekilas, lagu ini memang sangat tipikal banget dengan lagu-lagu miliknya band asal Amerika, RED HOT CHILI PEPPERS. Sebuah terobosan yang cukup berani dari Dir en grey. Memang agak aneh mendengarkan Kyo yang bergaya ala rapper. Namun di luar itu, lagu ini menawarkan sesuatu permainan instrumental yang super-fresh. Bagian bridge dan chorusnya cukup berbobot, dengan lagi-lagi sebuah aksi low-growl dari Kyo yang terdengar tekak/garau. Anehnya, nuansa lagu ini cukup gelap. Sehingga memberikan kesan yang berbau seram dan menakutkan. Kalo tidak salah dengar, di bagian durasi 03:10, apakah benar itu suara sebuah suling ala Timur-tengah?

Merasa kangen dengan Dir en grey saat membawakan lagu super-cadas seperti AGITATED SCREAMS OF MAGGOTS? Hal tersebut bisa kalian jumpai pada track berikutnya yang dikasih judul REIKETSU NARISEBA [03:33]. OH MY FUCKIN' GOD! THIS SONG IS TRULLY KICKASS!!! Kurang lebih seperti DOUKOKU TO SARINU. Cuma lebih berat dan gahar! Dengan riff-riff yang berat dan meraung-raung, serta tabuhan drum ala death-metal dari Shinya, menjadikan lagu ini sebagai lagu paling cadas yang ada di dalam album UROBOROS ini. Interlude-interlude yang ada pada lagu inipun seakan-akan memberikan service kepada para penggemar Dir en grey yang metal-freak untuk memperagakan aksi head-banging-nya sampai mampus [leher patah, encok, keseleo, terkilir, dll]! Tapi musik dari lagu ini tidak sebatas monoton di jalur seperti itu-itu saja. Sebab, Dir en grey kembali memasukkan unsur-unsur melodic-sound dari beberapa alat perkusi dan alat petik mandolin hingga memberikan waktu untuk calm-down sambil diiringi dengan vokal Kyo yang bisa menyejukkan hati. Itu bisa dilihat pada bagian durasi 01:54.

Dan WARE, YAMI TOTE... [07:01] pun menjadi lagu selanjutnya. Sebuah lagu lagi yang durasinya panjang. Very emotional and great accoustic-ballad song! Toshiya, aksi bass-nya benar-benar memukau dan menjiwai. Mungkin menjadi aksi terbaik Toshiya yang bisa dijumpai dalam album ini. Kyo juga tetap berperan pada lagu ini dengan sumbangsih penampilan vokalnya yang cukup apik. Simak saja bagian verses-nya yang dibawakan secara penjiwaan-dalam. Untuk chorusnya, memang Kyo sedikit merasa kesusahan di dalam mencapai nada tinggi. Untung saja itu bisa dilakukan dengan baik. Pada awalnya, mungkin lagu ini terdengar asyik. Namun memasuki pertengahan lagu, entah kenapa makin lama makin terasa jenuh. Untung saja di bagian menit ke 04:00 bisa disimak permainan perkusi dari Shinya dengan tribe-sound-nya yang setidaknya bisa menyadarkan kembali perasaan yang sudah jenuh tadi. Not bad.... Jika jeli bagian emotional-scream pada durasi 05:18 mengingatkan kita akan lagu CONCEIVED SORROW.

Diteruskan lagi dengan tembang berikutnya, yakni BUGABOO [04:43]. Walah, seperti tidak ada kata lain yang bisa dijadikan judul lagu. Musik super super berat dan lambat, yang kental dengan nuansa album THE MARROW OF A BONE! Again, Kyo beraksi dengan low growl-nya yang kali ini terasa seperti seorang setan yang sedang berbicara. MENGERIKAN! Bukan sebuah lagu terbaik dari Dir en grey. Sebab aku yakin, ini merupakan sebuah filler-track yang telah disiapkan untuk memenuhi rasa dahaga fans yang pro dengan warna metal ala Dir en grey.

Mendengarkan intro lagu selanjutnya, yaitu GAIKA, CHINMOKU GA NEMURU KORO [04:22], pasti semua orang setuju jika nada yang ada persis sama dengan lagu GLASS SKIN. Tapi jangan terkecoh, sebab lagu ini juga kembali mengandalkan nuansa cadas dan gaharnya. Permainan riff-riff dan kocokan gitar dari Kaoru dan Die terasa seperti angin badai yang menderu-deru. Shinya kembali mempertontonkan kemampuan double-pedal-bass-nya yang cukup aku sukai di lagu ini. Silakan simak sendiri jika tidak percaya. Berhubung lagunya memang sesuai dengan ciri khasn Dir en grey saat ini, sudah tentu diisi dengan berbagai aksi vokal Kyo yang sudah berulang-ulang kali didengar pada track sebelumnya. Seperti mad-yelling, deep-growl, screaming, dll.

Sama seperti yang Dir en grey lakukan terhadap GLASS SKIN di album ini, tembang DOZING GREEN [04:05] pun liriknya menggunakan bahasa Inggris. Yah, bagaimanapun, yang namanya original pasti still the best lah! Namun jika ditilik dari segi kualitas lagu, DOZING GREEN versi album ini kualitasnya lebih sempurna dan bersih dibandingkan versi single-nya. Aku yakin ini hasil polesan ulang/remix dari label di Amerika sono. Very good job! Tetap menjadi lagu terbaiknya Dir en grey walaupun tentunya aku hanya bisa mendengarkan vokal Kyo seperti orang sedang kumur-kumur. Oh man, he can't pronounce English!

Akhirnya, sampai juga pada lagu terakhir sekaligus lagu penutup album, yaitu INCONVENIENT IDEAL [04:23]. Well, tidak terbantahkan lagi. Lagu ini merupakan LAGU TERBAIK YANG BISA DIJUMPAI DALAM ALBUM UROBOROS INI! Lagunya sendiri cukup dramatic-ballad, so emotional dan bisa menggetarkan hati yang diiringi dengan permainan melodi yang harmonis dan cantik! Dir en grey memang mengikuti pepatah orang luar, save the best for the last! Vokal Kyo, layaknya di lagu pembuka album tadi, VERY AMAZING and POWERFUL. Ditambah pula dengan aksi tabuhan drum Shinya yang cool abis! Sebuah pemilihan lagu penutup yang sempurna dari Dir en grey, sesempurna saat mereka memilih lagu CLEVER SLEAZOID untuk dijadikan penutup album THE MARROW OF A BONE.

Dua buah sisanya, yang merupakan track bonus, yaitu GLASS SKIN [Japanese Version] [04:28] dan DOZING GREEN [Japanese Version] [04:08] rasanya tidak perlu dijelaskan lagi deh. Sebab kedua buah lagu ini sudah pernah aku review ketika dirilis dalam bentuk single. Silakan baca di SINI dan SINI.

Ouh yeah, akhirnya selesai juga! Mereview album UROBOROS ini terus terang saja benar-benar menguras tenaga dan pikiranku. Semoga saja kalian bisa mengerti dan menikmati review ini. Dari review di atas tadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa album UROBOROS ini bagus dibandingkan album sebelumnya, THE MARROW OF A BONE. Sangat terlihat sekali perbedaan yang sangat signifikan antara dua album tersebut. UROBOROS terasa lebih berkembang dengan beberapa permainan instrumental yang sangat improve. Secara materi juga, ke-13 buah lagu yang ada di dalamnya lebih menarik, berbobot dan kuat. Ini menandakan Dir en grey di dalam menghasilkan karya terbaiknya harus berani memainkan sesuatu hal yang bersifat eksperimental [dengan thema oriental, religious, reincarnation, dll]. Dan untungnya, hal tersebut dapat berjalan dengan sangat baik sesuai porsinya. Ada beberapa lagu yang kurang aku suka. Namun itu bisa tertutupi dengan beberapa buah lagu yang bagus dan menarik. Beberapa lagu yang bisa aku jadikan sebagai highlight jatuh pada lagu VINUSHKA, RED SOIL, TOGURO, GLASS SKIN, WARE, YAMI TOTE... dan INCONVENIENT IDEAL.

Secara keseluruhan, album ini aku kasih rating 5/5 bintang. Semoga berkenan dan sekarang ijinkan aku untuk beristirahat saking lelahnya.

Thursday, July 03, 2008

Metis Gretel - The Scene of Transmigration

Tanpa diiringi dengan tanda-tanda alam seperti angin topan dan petir yang bisa membelah tanah, di bulan Februari ini Metis Gretel ~salah satu band Sherow Artist Society favoriteku selain Versailles dan MATENROU OPERA~ mengeluarkan/mengumumkan pernyataan resminya bahwa Metis Gretel akhirnya membubarkan diri. Konser live terakhir sekaligus konser penutup mereka akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini [lupa tanggal berapa]. Tentunya ini sebuah kehilangan yang sangat berarti sekali. Aku sendiri tidak tahu apa yang menyebabkan Metis Gretel hingga memutuskan untuk berhenti dari dunia musik visual rock indie-nya. Apakah mereka kurang dikenal? Tidak juga. Apakah karya-karyanya [berupa single/mini-album/album] tidak ada yang membeli hingga merugi? Juga tidak. Soalnya seperti yang aku amati di situs Brand X, karya mereka selalu sold out. Jenuh? Bisa jadi. Yah, apapun itu alasannya mungkin ini sudah keputusan terbaik yang dihasilkan oleh para personil dari Metis Gretel itu sendiri....

Sebagai "salam terakhir" Metis Gretel kepada para fans/penggemar beratnya, pada tanggal 06 Februari 2008 kemarin Metis Gretel merilis sebuah album the best yang dikasih judul The Scene of Transmigration. Karena ini album the best, so pasti dong lagu-lagu yang ada di dalamnya merupakan lagu-lagu terbaik miliknya Metis Gretel yang pernah mereka hasilkan sejak tahun 2004. Total lagu yang ada di dalamnya ada 14 buah track. Dan album ini dalam beberapa hari rilis langsung ludes alias SOLD OUT!!! Kemungkinan besar tidak akan dibuat 2nd press-nya.

Siapa sih Metis Gretel itu? Metis Gretel adalah sebuah band indie visual-kei yang mulai aktif sejak tahun 2004. Di dalamnya berisikan 5 orang personil. Mereka adalah Midori atau juga Sui sebagai vokalis, Misa Urara atau juga Mizari pada posisi gitar, Rukia pada posisi gitar juga, Setsuna yang memegang alat bass dan terakhir adalah Kuzu Mare atau Kuzuki yang menempati posisi drum. Metis Gretel berada dalam label APPLAUSE Records yang juga merupakan bagian dari manajemen Sherow Artist Society. Berhubung Metis Gretel "anak" dari Sherow Artist Society miliknya Kamijo [eks LAREINE, sekarang aktif di Versailles], sudah pasti warna musik Metis Gretel adalah rock cadas serta kompleks yang berbalut dengan sedikit instrumen yang agak ke-symphony-an.

Yosh, cukup sudah dengan intermezzo di atas. Aku mulai saja untuk mereview album the best-nya Metis Gretel ini. Track pembuka diisi dengan sebuah track manis yang berjudul Maiden [04:57]. Sebuah pemilihan track yang perfect untuk dijadikan pembuka albumnya. Soalnya aku CINTA sekali dengan lagu ini! Maiden bisa dijumpai pada mini-album Maiden to Eden yang dirilis pertengahan tahun 2007 kemarin. Riff gitarnya enak banget walau terdengar simple [thanks to Misa Urara & Rukia!]. Riff tersebut juga disambut dengan bunyi suara organ, piano, keyboard hingga memberi kesan graceful/anggun. And I love the chorus! Dan aku yakin, lagu ini bisa diterima oleh siapa saja, bahkan buat mereka yang belum pernah mengenal Metis Gretel.

Track selanjutnya adalah MASK [03:39]. Beda dengan tembang sebelumnya, lagu ini sedikit garang dan progressif dengan permainan instrumental yang benar-benar kompleks. Kadang-kadang cepat, namun sesekali nge-slow. Sebuah ciri khas dari karya-karyanya Metis Gretel. Permainan bass Setsuna patut diberikan kredit tersendiri. Dan Midori beraksi dengan berbagai gaya vokalnya, mulai dari cara normal, nge-harsh sampai little-screaming.

Selesai dengan MASK, disusul dengan lagu Ghost Whisper ~Shi no madou~ [03:40]. Sebuah lagu yang up-beat! Entah kenapa mendengarkan lagu ini mengingatkan aku dengan lagunya Phantasmagoria yang berjudul Kyousoukyoku ~Cruel Crucible~. Permainan gitar Misa Urara dan Rukia benar-benar terasa kompak sekali. Satu orang memainkan ritem, satunya lagi konsentrasi pada melodi nada lagu. Walaupun tempo lagu sangat cepat, aransemen musiknya sudah lumayan oke menurutku. Oh iya, Ghost Whisper ~Shi no madou~ bisa juga kalian dengar di mini-album Subliminal Dissection~Mugen no shinkai~.

SPIRAL HUMANITY [04:27] menjadi lagu berikutnya. Lagi-lagi lagu yang tempo-nya sangat cepat. Namun di sini musiknya sedikit dinamis. Hingga lebih mudah dicerna. Kocokan gitar Misa Urara dan Rukia lagi-lagi top banget. Solo gitar yang ada di sini juga patut dikasih apresiasi. Memasuki 2 menit terakhir, diisi dengan sebuah petikan gitar akustik yang catchy. Tentunya ini sebuah momen terbaik yang ada dalam lagu SPIRAL HUMANITY ini.

Disusul kemudian oleh ...last scene, continued... [04:25] yang intronya diisi oleh aksi solo piano. Riff gitar di lagu ini terdengar berat dan cepat. Sayang banget aku tidak bisa mencerna lagu ini walaupun sudah aku setel beberapa kali. Hmmm, alunan musiknya itu loh. Sudah sering aku dengar pada lagu-lagu Metis Gretel lainnya. Yang pasti, lagu ini juga sangat progressive. Kadang slow, namun sesekali juga langsung bikin adrenalin naik. Untuk lain kali, lagu ini kayaknya langsung aku skip aja deh. Malas dengarinnya....

Pingin dengarin screaming-nya Midori yang gila-gilaan? Jajal saja pada lagu berikutnya yakni Vampire Forest [04:19]. Aku suka dengan chorus di lagu ini. Sangat manis sekali. Juga, lagunya sangat bermelodi. Tumben banget! Oh iya, Kuzu Mare sang drummer layak diberi apresiasi di lagu ini. Aksi drum-nya benar-benar kompleks. Susah kayaknya untuk mempelajari aksi drum dari orang tersebut, terlebih lagu drummer amatiran. Sinner [04:12] adalah sebuah tembang yang sangat oke. Fans berat Metis Gretel banyak yang menyukai lagu ini. Sinner bisa ditemui juga pada mini-album Maiden to Eden yang rilis pertengahan tahun 2007. Walau aransemen musiknya terasa sulit untuk dicerna, namun lagu ini sebenarnya layak banget untuk dijajal ke telinga. Mungkin jika lagu ini dibawakan saat live, aku rasa penontonnya langsung bermoshing-ria. Nice solo guitar here!!!

Selesai Sinner, dilanjutkan dengan track yang diberi judul Uruwashiki Kan [04:04]. Lagu ini bisa dijumpai dalam mini-album Subliminal Dissection~Hisou no shinkai~ yang dirilis tanggal 28 November 2007 lalu. Tidak ada aksi drum yang kompleks. Justru ini adalah salah satu lagu Metis Gretel ~yang bisa aku bilang~ ringan. Musiknya murni nge-rock yang ditambah dengan embel-embel bebunyian dari keyboard/organ. Permainan gitar dari Misa Urara dan Rukia juga sangat mudah diterima telinga. Dan solo gitar yang ada di sini memberikan kesan indah dalam lagi ini. Great job!

Sekarang giliran sebuah tembang manis yang judulnya adalah Kyuuen no Inochi [05:43]. Salah satu tembang power-ballad dari Metis Gretel yang SANGAT CANTIK sekali [selain lagu Eden]. Intronya saja yang diisi oleh aksi solo gitar sudah memberikan kesan cantik tersebut. Midori di lagu ini benar-benar mengerahkan penjiwaan yang dalam melalui lirik-lirik lagu yang dia nyanyikan. Soal aksi dari masing-masing personil lainnya tidak perlu aku ceritakan lagi deh. SEMUANYA TAMPIL SEMPURNA TANPA CELA!!! Lagu yang juga sedikit khusyuk dan sangat memorable ini, secara khusus aku beri rating A+.

Metamorphose ~Second Image~ [04:54] menjadi lagu selanjutnya. Sama seperti lagu ...last scene, continued... di atas tadi, lagu ini juga tidak bisa aku cerna sama sekali. Setelah aku tunggu sampai 1 menit lebih tetapi lagu tidak juga mengarah yang lebih baik, skip adalah satu-satunya pilihan. Sorry berat ya, Metis Gretel. I don't like this song, really!

Beralih ke track selanjutnya, Funeral [05:58]. Sudah bisa dipastikan ini adalah salah satu lagu terbaiknya Metis Gretel!!! Pada awal lagu ini, penjiwaan vokal Midori melalui liriknya benar-benar tersampaikan kepada pendengar. Terlebih dia bernyanyi dengan diiringi oleh aksi solo piano. Sangat dalam. Namun, jangan terjebak hanya dengan awalnya yang slow itu. Sebab lagu ini sebenarnya sedikit cadas dengan tempo yang speeding-bullet. Dan lagi-lagi, aksi tabuhan drum dari Kuzu Mare terlihat sangat kompleks namun tetap asyik untuk diikutin. Awal lagu dibuka dengan indah, demikian pula saat menjelang akhir lagu yang diitutup dengan aksi indah piano. Lagu Funeral ini bisa ditemui pada single kolaborasi antara GHOST dan Metis Gretel yang diberi nama GHOST & Metis Gretel - DEAD or DEAD-Silence of Species- [rilis bulan Mei 2007].

Masih belum puas dengan tembang cadas seperti MASK, Sinner dan Funeral? Coba saja simak lagu berikutnya, yakni Crucifixion [03:49]. Di sini sang drummer, Kuzu Mare benar-benar tampil KESETANAN! Begitu juga kredit diberikan kepada duo gitaris, Misa Urara dan Rukia. Sangat cacthy banget di telinga walaupun permainan gitar sedikit nge-trash dengan mengandalkan riff gitar serta distorsi yang berat. Dan tetap, ornamen bunyian dari keyboard tampil memberikan kesan glamour pada lagu ini. Lagu yang sudah cadas ini semakin tambah cadas lagi karena diiringi dengan vokal harsh dari Midori. Bukan cuman nge-harsh aja, sesekali dia juga menyeringai dan screaming. THIS SONG IS FUCKIN' GREAT!!!

Setelah selesai "mengamuk" dengan lagu di atas, pendengar diajak untuk cooling down sejenak dengan sebuah tembang berikutnya yang berjudul Tsukiyo no dress [04:09]. Agak sedikit nge-pop sih namun enak untuk didengarin sampai habis. Aku percaya telinga siapapun pasti bisa menerima lagu ini. Solo gitar yang ada di lagu ini oke juga tuh!

Tidak terasa sudah sampai pada tembang terakhir yang ada di dalam album ini. Tembang yang beruntung tersebut judulnya adalah Konketsu [03:16]. Sebuah lagu dimana aksi/permainan bassnya Setsuna lumayan keren! Tegas dan berbobot. Lagunya dinamis saja, tidak kompleks seperti tipikal lagu-lagunya Metis Gretel. Walaupun tidak sampai dalam tahap bagus, lagu ini cukup oke lah untuk didengarin.

Fiuhhh.... akhirnya selesai juga untuk mereview abum The Scene of Transmigration ini secara mendetail. Gimana gak capek, wong di dalamnya terdapat 14 buah track?!! Hmmm, walaupun ada 3-4 buah lagu yang tidak aku sukai karena memang susah banget untuk dicerna, secara keseluruhan album ini aku beri 5/5 bintang. Yah, anggap saja ini adalah salam perpisahanku buat Metis Gretel, sebuah band yang sudah aku kenal sejak akhir tahun 2006 kemarin. Walaupun Metis Gretel bubar, aku berharap para personilnya masih bisa ditemui dalam band-band proyek mereka selanjutnya.

So long, Metis Gretel.... 

Tuesday, October 30, 2007

VERSAILLES - LYRICAL SYMPATHY

Akhirnya, band indie Visual-kei yang tergolong baru [namun udah mendapat perhatian dari seluruh fans musik Jepang di belahan dunia], Versailles, merilis album indie perdananya. Album ini diberi judul Lyrical Sympathy. Secara jadwal album ini akan dirilis tanggal 31 Oktober 2007. Namun berkat kecanggihan teknologi dan internet, aku sudah mendapatkan album ini sejak tgl 29 Oktober 2007 kemarin walaupun dengan cara men-download-nya. Aku harap caraku ini jangan ditiru ya. Kalo ada duit lebih, mendingan kalian beli aja deh albumnya hehehehe... Tapi dijamin gak bakalan rugi kok beli album ini. Kenapa? Album ini memang keren!!! Aku suka dengan semua lagu yang ada di dalamnya.

Mungkin ada yang bertanya, siapa sih Versailles [lagi-lagi nama band yg diambil dr bhs Perancis] itu sebenarnya? Well, band ini memang termasuk baru. Terbentuk pada awal-awal tahun 2007. Namun orang yang berada di dalam band ini bisa dibilang udah termasuk orang lama yang berkecimpung di dunia musik Jepang, khususnya dunia musik indie. Ada 5 orang yang menggawangi band ini. Mereka adalah Kamijo [eks LAREINE] sebagai vokalis, Hizaki [eks SULFURIC ACID dan juga aktif dalam proyek solonya yaitu Hizaki Grace Project] pada posisi gitar tentunya, Teru [eks Aikaryu] pada posisi gitar juga, Jasmine You [Hisaki Grace Project] memegang alat bass dan terakhir adalah Yuki [eks Sugar Trip] pada posisi drum.

Warna musik yang mereka mainkan kalo aku bilang sih metal. Namun bukan metal secara general. Melainkan melodic metal. Di dalam lagu-lagunya banyak tambahan ornamen-ornamen yang semakin mempertegas melodi dari lagu-lagu mereka tersebut. Baik itu ornamen dari bebunyian organ, piano, biola, dll. Dan juga, lagu-lagu yang mereka ciptakan kental dengan unsur suasana gelap dan suram. Yah, tidak gelap-gelap amat sih. Mungkin sebatas nuansa gothic gitu deh.

Album Lyrical Sympathy ini di dalamnya memuat 7 buah track. Secara berurutan, judul masing-masing dari track tersebut adalah Intro [01:10], The Love from a Dead Orchestra [08:28], Shout & Bites [03:59], Beast of Desire [04:25], The Red Carpet Day [04:23] dan Sympathia [06:08].

Dan langsung saja kita mulai dari track pertama, yaitu Intro. Sesuai judul lagunya, track ini memang menjadi pembuka dari album ini. Intro diisi dengan bebunyian ala jaman pertengahan lengkap dengan berbagai istrumen di dalamnya. Baik itu bunyi terompet yang sangat agung, biola, cello, dll. Wah, persis kayak nonton film-film kerajaan di abad pertengahan gitu deh. Aku rasa ini sebuah pemanasan yang sangat oke sebelum memasuki track selanjutnya yaitu The Love from a Dead Orchestra.

Waowww.... The Love from a Dead Orchestra is FUCKIN' GREAT!!! Dibuka oleh permainan drum Yuki yang powerful sambil diiringi dengan bunyi-bunyi ala orchestra. Setelah itu permainan solo gitar dari seorang Hizaki langsung tampak di awal-awal lagu ini. Terdengar sekali bagaimana permainan Yuki memang udah di atas rata-rata. Dengan aksi dobel pedal dan tabuhan yang kreatif langsung membuat lagu ini menjadi hidup. Akhirnya vokal Kamijo bisa didengar juga setelah intro lagunya memakan durasi hampir 1 menit. Soal musik kayaknya gak perlu aku ceritakan lagi deh. Berhubung yang main di dalamnya adalah orang-orang jenius, sudah pasti lah komposisi dan aransemen musiknya luar biasa. GILA!!! Selain itu lagu ini juga agak progressive. Maksudnya kadang-kadang kencang, terus pelan, namun tiba-tiba kencang lagi. Jadi seakan-akan ada jeda gitu. Inilah yang membuat band Versailles digilai oleh siapapun juga!!! Di tengah-tengah lagu ada permainan solo piano yang luar biasa indahnya. Seakan-akan kita terbawa ke jaman abad pertengahan.... Bagaimana dengan aksi solo gitar Hizaki dan Teru? Well, nih orang mmg bertalenta!!! Udah pasti dong solo gitarnya nendang dan menggigit banget! Bagiku, lagu ini bukan lagu kategori A lagi. Melainkan S untuk SUPER!!!

Shout & Bites menjadi track selanjutnya. Lagunya hampir se-agresif seperti track sebelumnya. Namun agak lebih cool sedikit. Permainan riff gitar Hizaki dan Teru benar-benar berat sekali. Menambah kesan gahar pada lagu ini. Dan seperti biasa, bunyi ornamen organ tetap dimunculkan untuk mempertegas nuansa suram lagu. Vokal Kamijo di sini agak sedikit dalam. Jadi terdengar gentle gitu deh vokalnya. Mantap! Dan seperti biasanya, aksi solo gitar di lagu ini benar-benar nendang pantat kalian!!! Kredit sekali lagi aku berikan kepada sang drummer, Yuki!!!

Beralih ke track berikutnya, yaitu Beast of Desire. Wah, pada intro permainan gitar Hizaki dan Teru nge-trash banget tuh. Dashyat! Sayang tidak diteruskan sampai ke isi lagunya. Namun jangan khawatir. Bisa didengar lagi kok saat chorus. Lagu ini tempo-nya lumayan cepat. Cenderung nge-power metal. Untung aja permainan bass Jasmine You tidak kedodoran mengikuti cepatnya ketukan drum Yuki. Dengan [lagi-lagi deh] aksi solo gitar yang luar biasa dari seorang Hizaki dan Teru, membuat lagu ini semakin berkelas.

Forbidden Gate, menjadi tembang selanjutnya. Lagunya sendiri agak nge-slow. Dimulai dengan intro yang menampilkan bunyi-bunyian yang bisa menentramkan jiwa. Setelah itu disusul dengan riff gitar yang berat. Pada awal-awal bait lirik, terdengar vokal Kamijo yang berusaha untuk menjwai lagu ini sambil diiringi dengan permainan bass yang apik dari Jasmine You. Memasuki chorus, ritem gitar langsung menyalak dengan kerasnya. What a power-ballad song!!!

Track selanjutnya adalah The Red Carpet Day. Sebuah lagu yang sangat cadas. Udah terlihat kok pada intronya. Permainan solo gitar yang cepat ala Yngwie J. Malmsteen dari Hizaki [atau Teru ya?], yang ditemani dengan tabuhan drum sedikit brutal dari Yuki benar-benar mampu membuat kepalaku sedikit bergoyang naik turun saking semangatnya! Bunyi organ yang dihasilkan keyboard sangat mendominasi lagu ini. Ditambah dengan suara-suara choir ala gereja membuat lagu ini terkesan gothic metal ala Moi dix Mois [pasti tahu dong ama band ini]. Sementara Hizaki aktif memainkan melodinya, Teru justru memberi nilai plus pada lagu ini dengan riff gitarnya yang nge-metal itu. Another great song by Versailles!!!

Akhirnya sampai juga pada track terakhir sekaligus tembang penutup dari album ini, Sympathia. Lagunya benar-benar nge-ballad dengan tempo yang sedang cenderung melambat. Intro dibuka dengan aksi solo piano yang langsung diteruskan oleh aksi solo gitar. Dan vokal-pun langsung dimulai dengan chorus yang sangat cacthy di telinga. Ternyata Kamijo oke juga tuh menyanyi dengan gaya vokal seperti ini. Walau lagunya ballad, riff gitar tetap terdengar gagah perkasa sekali. Hahaha... Dan petikan akutsik gitar menambah keindahan lagu ini.... Kayaknya aku harus mencari liriknya nih. Abis enak banget sih lagunya.

Well, apa lagi yang bisa aku ungkapkan dengan kata-kata? Dengan skill dari masing-masing personil yang luar biasa [terlebih Hizaki dan Teru!!!], komposisi dan aransemen musik yang sangat kaya/beraneka-ragam dan juga performa hebat seorang Kamijo, album Lyrical Sympathy ini aku kasih 5/5 bintang. Semua lagunya aku suka, termasuk track pertama yang berupa intro sekalipun!!! Jika ditanya apa lagu yang SANGAT AKU SUKA dari album ini, maka pilihanku jatuh pada lagu The Love from a Dead Orchestra, The Red Carpet Day dan Sympathia.

Yosh, aku jadikan Versailles sebagai salah satu band favoriteku yang layak ditunggu karya-karya mereka ke depannya. Dan aku berani jamin nama Versailles di tahun 2008 akan semakin bersinar benderang!!! Segini dulu aja reviewnya. Semoga berkenan. Jya.