Berkaca dari Batman v Superman: Dawn of Justice yang dianggap terlalu serius dan berat serta mendapat banyak cemooh dari kritikus, sang sutradara Zack Snyder mulai menunjukkan perubahannya melalui Justice League ini. Justice League ibarat penebusan dosa. Kali ini Zack Snyder mendengar saran dari orang-orang bagaimana seharusnya film superhero yang baik dan benar itu. Fans berat dari superhero DC Comics mungkin akan sedikit mengomel karena film ini terkesan mainstream, bahkan mirip Marvel Cinematic Universe. Walaupun masih ada beberapa kekurangan dan hal yang belum memuaskan, tak ayal Justice League sukses menjadi sebuah tontonan yang menyenangkan.
Memakan total waktu 120 menit, Justice League menawarkan alur yang lurus-lurus saja, gampang dicerna dan jauh dari intrik-intrik berat. Sejak awal Justice League langsung menyajikan segudang aksi-aksi yang seru serta menegangkan. Tak ada lagi namanya itu dialog-dialog panjang nan menjemukan.
Secara lini masa, Justice League mengambil setting setelah kejadian dalam Batman v Superman: Dawn of Justice. Dunia masih berduka atas kematian Superman. Di tengah-tengah kedukaan itu, muncul ancaman bagi umat manusia. Untuk menghadapi ancaman tersebut, Batman dan Wonder Woman berusaha untuk mengumpulkan para metahuman lainnya, seperti Aquaman, The Flash dan Cyborg. Embrio lahirnya Justice League. Berhasilkah mereka mengatasi ancaman tersebut?
Walaupun durasi tidak panjang, latar belakang dari masing-masing metahuman berhasil dijabarkan secara jelas. Aquaman yang enggan kembali ke kerajaan Atlantisnya, The Flash yang digambarkan seorang bocah yang masih perlu belajar banyak dan juga Cyborg yang galau akan “kebangkitan” dirinya. Tak perlu detail karena toh nantinya mereka akan dibuatkan film solonya.
Yang membuat film ini terasa lebih enjoy adalah candaan-candaan renyah dalam wujud verbal yang terselip di dalamnya. Beberapa candaan bahkan dapat memancing gelak tawa penonton tanpa harus mengganggu keepikan aksi tarungnya.
Satu kekurangan yang fatal menurut saya di sini adalah kembalinya Superman tidak digambarkan secara wah, megah maupun emosional. Kesannya biasa saja. Sangat disayangkan, karena kita tahu sendiri bahwa sosok ini merupakan arti sesungguhnya dari "harapan".
7,5/10
Terdapat dua buah credit scene, yaitu pada mid-credit dan post-credit. Silakan ditonton. Terutama yang post-credit, karena menampilkan clue menarik akan kelanjutan film ini.
Showing posts with label wonderwoman. Show all posts
Showing posts with label wonderwoman. Show all posts
Thursday, November 16, 2017
Thursday, June 01, 2017
WONDER WOMAN
Wonder Woman is Gal Gadot. And Gal Gadot is Wonder Woman. Perempuan asal Israel berdarah Yahudi ini tak bisa dipungkiri lagi betul-betul berhasil menyatu dengan karakter dan jiwa Diana Prince, salah satu trinity dalam skuad Justice League. Siapa yang tak menyangka. Beberapa tahun sebelumnya saat Gal Gadot ditunjuk sebagai pemeran Wonder Woman banyak suara-suara sumbang yang meragukan kemampuan dan kapasitas gadis yang sempat terpilih menjadi Miss Israel 2004 ini untuk memerankan tokoh ikonik tersebut. Namun pada akhirnya, penampilan Gal Gadot dalam Batman v Superman: Dawn of Justice berhasil mencuri perhatian dan mematahkan keraguan orang-orang, khususnya fanboy. Dan kejutan ternyata berlanjut pada film Wonder Woman yang saya tonton kemarin. What can I say? Kecantikan, karisma dan pesonanya semakin berbinar. Dalam segi aksi, pengalaman Gal Gadot yang sempat bergabung dan ditempa dalam Israeli Defence Forces (IDF, TNI-nya Israel) sangat mendukung dirinya untuk melakukan beberapa adegan dalam film secara gesit dan luwes. Sudah selayaknya kita memuja perempuan tangguh ini.
Wonder Woman adalah film ke-empat dalam alur DC Extended Universe (DCEU). Sebelumnya ada Man of Steel, Batman v Superman: Dawn of Justice dan Suicide Squad. Ketiga film ini memiliki kesamaan. Yaitu gagal dan mendapat kritikan serta review negatif nan pedas. Hal ini diakibatkan mulai dari terlalu banyaknya campur tangan pihak studio, kontinuitas cerita yang membingungkan, terlalu serius, terkesan gloomy sampai dengan gelap. Nah, poin inilah yang dilihat oleh sutradara Wonder Woman, yakni Patty Jenkins. Dengan berbagai perubahan yang cukup signifikan dan tak mau terjebak dengan film-film DCEU sebelumnya, Wonder Woman berhasil menjadi sebuah tontonan yang apik dan epik! Cukup simple dengan editing yang baik. Gampang dimengerti tanpa harus berpikir keras. Filmnya terlihat natural, terlebih lagi disisipi dengan sisi humor yang jenaka, membuat penonton semakin terbius dan jatuh cinta dengan keluguan dari seorang Wonder Woman. Secara cerita, film ini mengambil konsep origin story. Dimana menjelaskan secara detail asal usul Diana Prince selaku pejuang dari suku Amazon hingga menjadi Wonder Woman.
Tak dapat disangkal lagi, Wonder Woman adalah film DCEU terbaik hingga saat ini! Semoga baik itu pihak DC maupun Warner Bros bisa memetik hikmah dari keberhasilan dan kesuksesan film Wonder Woman ini untuk dapat menampilkan film-film DCEU lainnya lebih bagus lagi sesuai dengan yang diharapkan. Dan ini juga menandakan bahwa persaingan antara DC dan Marvel kembali bergulir. Siapa yang diuntungkan? Tentunya kita selaku penonton.
8/10
Penampilan Gal Gadot masih bisa kita simak kembali dalam film Justice League yang rencananya tayang pada bulan November nanti.
Wonder Woman adalah film ke-empat dalam alur DC Extended Universe (DCEU). Sebelumnya ada Man of Steel, Batman v Superman: Dawn of Justice dan Suicide Squad. Ketiga film ini memiliki kesamaan. Yaitu gagal dan mendapat kritikan serta review negatif nan pedas. Hal ini diakibatkan mulai dari terlalu banyaknya campur tangan pihak studio, kontinuitas cerita yang membingungkan, terlalu serius, terkesan gloomy sampai dengan gelap. Nah, poin inilah yang dilihat oleh sutradara Wonder Woman, yakni Patty Jenkins. Dengan berbagai perubahan yang cukup signifikan dan tak mau terjebak dengan film-film DCEU sebelumnya, Wonder Woman berhasil menjadi sebuah tontonan yang apik dan epik! Cukup simple dengan editing yang baik. Gampang dimengerti tanpa harus berpikir keras. Filmnya terlihat natural, terlebih lagi disisipi dengan sisi humor yang jenaka, membuat penonton semakin terbius dan jatuh cinta dengan keluguan dari seorang Wonder Woman. Secara cerita, film ini mengambil konsep origin story. Dimana menjelaskan secara detail asal usul Diana Prince selaku pejuang dari suku Amazon hingga menjadi Wonder Woman.
Tak dapat disangkal lagi, Wonder Woman adalah film DCEU terbaik hingga saat ini! Semoga baik itu pihak DC maupun Warner Bros bisa memetik hikmah dari keberhasilan dan kesuksesan film Wonder Woman ini untuk dapat menampilkan film-film DCEU lainnya lebih bagus lagi sesuai dengan yang diharapkan. Dan ini juga menandakan bahwa persaingan antara DC dan Marvel kembali bergulir. Siapa yang diuntungkan? Tentunya kita selaku penonton.
8/10
Penampilan Gal Gadot masih bisa kita simak kembali dalam film Justice League yang rencananya tayang pada bulan November nanti.
Thursday, March 24, 2016
BATMAN v SUPERMAN: DAWN OF JUSTICE
Batman v Superman: Dawn of Justice akhirnya tiba juga di layar lebar. Kita dipaksa menunggu selama 3 tahun sejak pengumuman resmi film ini. Saat itu Warner Bros (pemegang lisensi resmi untuk film-filmnya DC) memproklamasikan bahwa yang akan berperan sebagai Bruce Wayne aka Batman adalah Ben Affleck. Dan bisa diduga reaksi dari para penggemar komik maupun film superhero. Semua menghujat bahkan mengutuk. Karena itu pula lah Ben Affeck memutuskan untuk mengasingkan diri dari dunia online karena tak tahan dengan cercaan.
Yup, itu hanya sekadar intermezzo untuk mengingat kembali. Yang pasti Batman v Superman: Dawn of Justice tayang di Indonesia mulai tanggal 23 Maret 2016 kemarin. Indonesia diberi kepercayaan untuk tayang lebih dahulu dibandingkan negara-negara Asia, juga Eropa, bahkan di Amerika Utara sendiri. Wow!
Berhubung film ini disutradarai oleh Zack Synder, sosok yang juga menghasilkan film-film seperti 300, Watchmen, Sucker Punch serta Man of Steel, sudah bisa ditebak bagaimana isi dari film ini. Ya, benar! Batman v Superman: Dawn of Justice mengambil sisi yang gelap dan serius. Miskin dalam aksi, namun sekali beraksi mempertontonkan pemandangan yang brutal dan sadis. Juga jangan harap bisa dijumpai guyonan-guyonan yang renyah sepanjang film ala film-film superhero-nya Marvel/Disney.
Mau serius atau ringan, tentu tidak masalah. Namun yang menjadi gangguan dalam film ini adalah gaya bercerita Zack Snyder. Sepertinya ia bingung mau konsentrasi pada elemen cerita apa. Semua diceritakan. Hasilnya apa? Kacau. Paruh pertama alur cerita seperti pergi tak tentu arah. Ditambah lagi dengan banyak drama nan datar. Membuat penonton lelah. Untunglah paruh kedua dapat berjalan dengan baik bahkan bagus. Dan terbayar lunas pada 30 menit menjelang akhir di mana segala klimaks/puncak keasyikan film ini bisa dirasakan.
Poin plus dari penyutradaraan Snyder di film ini adalah bahwa Batman v Superman: Dawn of Justice dibuat selogis-logisnya ataupun senyata-nyatanya. Baik itu dalam gaya pertarungan antara dua tokoh komik superhero yang ikonik, maupun juga dari sisi emosional dan pergolakannya. Di mana Superman (masih diperankan Henry Cavill) tidak menyukai cara-cara Batman menghukum para pelaku kriminal, dan Batman yang juga tidak setuju dengan cara pertarungan Superman yang seenaknya membahayakan orang lain. Hal itu didasari karena pergolakan hati masing-masing. Superman yang berusaha menjadi orang benar namun masih dicap salah oleh sebagian orang. Sementara Batman yang doyan memberantas kejahatan tapi belum pernah bisa menemukan makna sesungguhnya dari perjuangannya itu. Inilah yang melatarbelakangi perselisihan serta ketidakpahaman antara Batman dan Superman. Yang akhirnya diprovokasi dan dimanfaatkan oleh pihak ketiga untuk kepentingan tertentu.
Selain duel maut serba hancur-hancuran antara Batman dan Superman yang memanjakan dan menakjubkan mata penonton, yang juga menjadi selling point dalam film ini adalah kehadiran Wonder Woman. Bisa dikatakan bahwa penampilan Wonder Woman yang bernama asli Diana Prince benar-benar mencuri perhatian penonton. Kehadiran Gal Gadot, aktris berdarah Yahudi, menjadi daya tarik tersendiri di mana di film ini ia tampil begitu mempesona dengan aura seksi serta misteriusnya itu.
Keseruan lain juga datang dari sang monster ciptaan Lex Luthor, yakni Doomsday. Mahluk ini berhasil menciptakan kengerian tersendiri. Menebarkan rasa khawatir bagi Trinity (Superman, Batman dan Wonder Woman). Dan Berkat Doomsday lah kita bisa menyaksikan bagaimana Trinity saling bahu membahu secara tim untuk mengalahkan Doosmday!
Batman v Superman: Dawn of Justice sah-sah saja bila dikatakan sebagai pembuka jalan menuju Justice League. Hal ini bisa dilihat dari cameo-cameo para "metahuman" yang ada dalam film ini. Tentunya akan membawa kita kepada referensi superhero lainnya. Di saat Marvel/Disney membutuhkan beberapa judul film agar bisa terhubung ke Avengers, DC/Warner Bros cukup dengan Man of Steel dan Superman v Batman: Dawn of Justice untuk membawa ke Justice League. Terkesan dipaksakan dan kurang rapi. Sebab ada beberapa origin yang belum disampaikan. Namun saya yakin hal ini akan dipoles pada film-film DC/Warner Bros selanjutnya.
Sebagai film superhero, menurut saya Batman v Superman: Dawn of Juctice yang total durasi waktunya memakan 2,5 jam ini masih cukup layak untuk disimak. Memang ada beberapa kekurangan, namun berhasil tertutupi dengan kelebihan lainnya. Jangan pedulikan rating film ini di berbagai situs atau portal film. Terutama Rotten Tomatoes yang memberikan rating 34% (sampai saat saya menulis review ini). Karena selera masing-masing orang tentu saja berbeda.
Oh iya, film ini diberi rating usia 13+. Ada baiknya anak-anak yang berusia di bawah 13 tahun untuk tidak diajak nonton. Selain ada beberapa isi yang tidak pantas, juga banyak bagian-bagian yang agak susah untuk dicerna dan dimengerti. Justru kebingungan yang didapat nantinya.
Semoga berkenan.
7/10.
Yup, itu hanya sekadar intermezzo untuk mengingat kembali. Yang pasti Batman v Superman: Dawn of Justice tayang di Indonesia mulai tanggal 23 Maret 2016 kemarin. Indonesia diberi kepercayaan untuk tayang lebih dahulu dibandingkan negara-negara Asia, juga Eropa, bahkan di Amerika Utara sendiri. Wow!
Berhubung film ini disutradarai oleh Zack Synder, sosok yang juga menghasilkan film-film seperti 300, Watchmen, Sucker Punch serta Man of Steel, sudah bisa ditebak bagaimana isi dari film ini. Ya, benar! Batman v Superman: Dawn of Justice mengambil sisi yang gelap dan serius. Miskin dalam aksi, namun sekali beraksi mempertontonkan pemandangan yang brutal dan sadis. Juga jangan harap bisa dijumpai guyonan-guyonan yang renyah sepanjang film ala film-film superhero-nya Marvel/Disney.
Mau serius atau ringan, tentu tidak masalah. Namun yang menjadi gangguan dalam film ini adalah gaya bercerita Zack Snyder. Sepertinya ia bingung mau konsentrasi pada elemen cerita apa. Semua diceritakan. Hasilnya apa? Kacau. Paruh pertama alur cerita seperti pergi tak tentu arah. Ditambah lagi dengan banyak drama nan datar. Membuat penonton lelah. Untunglah paruh kedua dapat berjalan dengan baik bahkan bagus. Dan terbayar lunas pada 30 menit menjelang akhir di mana segala klimaks/puncak keasyikan film ini bisa dirasakan.
Poin plus dari penyutradaraan Snyder di film ini adalah bahwa Batman v Superman: Dawn of Justice dibuat selogis-logisnya ataupun senyata-nyatanya. Baik itu dalam gaya pertarungan antara dua tokoh komik superhero yang ikonik, maupun juga dari sisi emosional dan pergolakannya. Di mana Superman (masih diperankan Henry Cavill) tidak menyukai cara-cara Batman menghukum para pelaku kriminal, dan Batman yang juga tidak setuju dengan cara pertarungan Superman yang seenaknya membahayakan orang lain. Hal itu didasari karena pergolakan hati masing-masing. Superman yang berusaha menjadi orang benar namun masih dicap salah oleh sebagian orang. Sementara Batman yang doyan memberantas kejahatan tapi belum pernah bisa menemukan makna sesungguhnya dari perjuangannya itu. Inilah yang melatarbelakangi perselisihan serta ketidakpahaman antara Batman dan Superman. Yang akhirnya diprovokasi dan dimanfaatkan oleh pihak ketiga untuk kepentingan tertentu.
Selain duel maut serba hancur-hancuran antara Batman dan Superman yang memanjakan dan menakjubkan mata penonton, yang juga menjadi selling point dalam film ini adalah kehadiran Wonder Woman. Bisa dikatakan bahwa penampilan Wonder Woman yang bernama asli Diana Prince benar-benar mencuri perhatian penonton. Kehadiran Gal Gadot, aktris berdarah Yahudi, menjadi daya tarik tersendiri di mana di film ini ia tampil begitu mempesona dengan aura seksi serta misteriusnya itu.
Keseruan lain juga datang dari sang monster ciptaan Lex Luthor, yakni Doomsday. Mahluk ini berhasil menciptakan kengerian tersendiri. Menebarkan rasa khawatir bagi Trinity (Superman, Batman dan Wonder Woman). Dan Berkat Doomsday lah kita bisa menyaksikan bagaimana Trinity saling bahu membahu secara tim untuk mengalahkan Doosmday!
Batman v Superman: Dawn of Justice sah-sah saja bila dikatakan sebagai pembuka jalan menuju Justice League. Hal ini bisa dilihat dari cameo-cameo para "metahuman" yang ada dalam film ini. Tentunya akan membawa kita kepada referensi superhero lainnya. Di saat Marvel/Disney membutuhkan beberapa judul film agar bisa terhubung ke Avengers, DC/Warner Bros cukup dengan Man of Steel dan Superman v Batman: Dawn of Justice untuk membawa ke Justice League. Terkesan dipaksakan dan kurang rapi. Sebab ada beberapa origin yang belum disampaikan. Namun saya yakin hal ini akan dipoles pada film-film DC/Warner Bros selanjutnya.
Sebagai film superhero, menurut saya Batman v Superman: Dawn of Juctice yang total durasi waktunya memakan 2,5 jam ini masih cukup layak untuk disimak. Memang ada beberapa kekurangan, namun berhasil tertutupi dengan kelebihan lainnya. Jangan pedulikan rating film ini di berbagai situs atau portal film. Terutama Rotten Tomatoes yang memberikan rating 34% (sampai saat saya menulis review ini). Karena selera masing-masing orang tentu saja berbeda.
Oh iya, film ini diberi rating usia 13+. Ada baiknya anak-anak yang berusia di bawah 13 tahun untuk tidak diajak nonton. Selain ada beberapa isi yang tidak pantas, juga banyak bagian-bagian yang agak susah untuk dicerna dan dimengerti. Justru kebingungan yang didapat nantinya.
Semoga berkenan.
7/10.
Subscribe to:
Posts (Atom)