The Hobbit: The Desolation of Smaug merupakan sekuel dari The Hobbit: An Unexpected Journey (rilis tahun 2012 kemarin). Di Indonesia sendiri The Hobbit: The Desolation of Smaug telah tayang sejak hari Jumat, tanggal 13 Desember 2013. Entah, kenapa bisa pas banget dengan Friday the 13th. Sengaja? Film ini berdurasi sepanjang 161 menit. Itu sama dengan 2,5 jam lebih. So, persiapkan diri kalian sebelum menonton filmnya, termasuk mencari posisi yang enak untuk menonton.
The Hobbit: The Desolation of Smaug berceritakan tentang pertualangan para Dwarf (kurcaci), yang dipimpin oleh Thorin, bersama Bilbo Baggins (yang telah berjanji menemani) untuk merebut Erebor dari sang naga bernama Smaug. Erebor sendiri adalah semacam kampung halaman leluhur dari bangsa kurcaci. Dan di situ terdapat begitu banyak emas dan permata lainnya. Sebelum benar-benar sampai ke Dale (kota di Erebor), rombongan harus melalui sebuah hutan bernama Mirkwood Forest. Di sini Gandalf, sang penyihir, harus berpisah dengan rombongan Bilbo cs demi tujuan tertentu yang juga tidak kalah pentingnya. Ternyata hutan tersebut membawa kesialan bagi Bilbo cs hingga harus berurusan dengan bangsa Elf (peri) yang dipimpin oleh raja bernama Thranduil, yang tidak lain adalah ayah dari Legolas. Selesai rintangan satu, Bilbo cs harus menghadapi rintangan lainnya di Lake-town. Lake-town inilah yang menjadi jalan penghubung untuk menuju Erebor. Sanggupkah Bilbo, Thorin dan beserta kurcaci lainnya mencapai dan menembus Erebor? Mampukah mereka mengusir Smaug dari Erebor dan merebut kembali harta-harta yang ada? Well, silakan tonton sendiri.
Secara keseluruhan, bagi saya, The Hobbit: The Desolation of Smaug menarik untuk ditonton. Seperti sudah bisa ditebak sebelumnya, di sekuel kali ini penonton akan dimanjakan dengan banyaknya adegan aksi. Salah satu adegan aksi yang bisa membuat penonton menahan nafas adalah saat kaum Orc mengejar Bilbo cs di sungai, dimana juga terdapat aksi-aksi pertarungan yang lincah, menawan dan anggun dari Legolas dan Tauriel. Kredit diberikan kepada Evangeline Lily yang memerankan Tauriel dengan manisnya. Adegan-adegan lucu khas Peter Jackson (sang sutradara) sangat banyak dijumpai di sini. Selain tingkah pola yang lucu dari beberapa karakter, kelucuan juga datang dari percakapan (verbal).
Sesuai dengan judulnya yang menampilkan kata "Smaug", di sini diperlihatkan secara detail bagaimana rupa dari sosok naga yang disebut dengan nama Smaug itu. Setidaknya penampilan Smaug bisa membuat penonton merasa takjub, kagum berbalut kengerian yang dalam tanpa dasar. Roman percintaan (antara Tauriel dan Kili) turut diselipkan oleh Peter Jackson ke dalam film ini. Sesuatu hal yang tidak ditemui pada film sebelumnya. Mungkin ada penonton yang tidak menyukainya (saya justru sebaliknya), namun hal ini patut untuk diapresiasi.
Dengan kisah pertualangan yang apik, jalan cerita bagus, ditambah dengan sinematografi yang super indah, The Hobbit: The Desolation of Smaug layak untuk ditonton. Sangat menghibur! Beberapa teman saya merasa keberatan dengan ending yang ada. Sebagian berkata nanggung dan ada juga yang bilang jelek. Sebenarnya film bagus tidak harus diakhiri dengan ending yang bagus dan membahagiakan. Wajar bila The Hobbit: The Desolation of Smaug memberikan ending yang menggantung. Sebab konklusi akhir serial film The Hobbit ini bisa didapat pada sekuel berikutnya, yakni sekuel pamungkas bertajuk The Hobbit: There and Back Again, rilis bulan Juli 2014 mendatang. So, harap bersabar. Hanya memakan waktu 7 bulan saja. Kita yakin Peter Jackson sanggup membuat segala sesuatunya berakhir dengan indah. Masih ingat dengan film The Lord of The Rings: The Return of the King, selaku pamungkas serial film The Lord of the Rings?
Semoga berkenan.
Tambahan:
- An Uxpected Journey dan The Desolation of Smaug mengambil cerita dari bukunya. Sedangkan There and Back Again merupakan pengembangannya.
- Bangsa Elf memiliki umur yang panjang, namun bukan berarti mereka tidak bisa tewas.
- Usia Orlando Bloom (yang memerankan Legolas) 2 tahun lebih tua dari Lee Pace yang berperan sebagai Thranduil.
- Ada cameo Peter Jackson pada 1 menit awal film.
- Kejadian unik dan lucu. Saat screening film ini di salah satu bioskop di kota Sao Paolo, Brasil, speakernya langsung jebol begitu adegan Smaug yang meraung. Sumber: IMDb.
Sunday, December 15, 2013
Thursday, December 12, 2013
LUNA SEA - A WILL
Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu itu datang juga. Sebuah penantian panjang terobati sudah. Tanggal 11 Desember 2013 kemarin LUNA SEA dengan resmi merilis album terbarunya yang berjudul A WILL. Merupakan album terbaru mereka setelah 13 tahun lamanya tak pernah merilis sebuah album pun (sebelumnya, album terakhir LUNA SEA adalah PERIOD, rilis tahun 2000). Lantas, bagaimanakah album A WILL dari band yang sempat mengunjungi Thailand dan Singapura awal tahun kemarin ini? Well, pada awalnya sedikit susah untuk dicerna, namun setelah didengar secara berulang kali sentuhan khas dari masing-masing personil LUNA SEA melalui lagu-lagu yang ada dapat dinikmati dengan indahnya.
Secara keseluruhan album ini berisikan 11 track lagu. Dimana 4 buah lagunya sudah terlebih dahulu disimak melalui versi singlenya. Ke-empat lagu tersebut adalah Rogue (04:30), The End of the Dream (04:01), RUN (04:30) dan Thoughts (04:08). Rogue kental dengan sentuhan rock & roll yang keluar dari petikan-petikan gitar miliknya Sugizo. The End of the Dream sebuah lagu dengan nada up-beat yang bagian chorusnya (tarikan tinggi Ryuichi plus vibran khasnya itu) terasa sangat catchy sekali. RUN, siapa saja pasti menyukai lagu yang dijadikan theme song serial drama TV Toshi Densetsu no Onna ini. Sepintas mirip dengan lagu The End of the Dream sih. Thoughts, sebuah lagu yang intronya mengingatkan saya dengan lagu Rosier, merupakan tembang unggulan yang bisa disimak dalam album ini. I really love this song!
Anthem of Light (04:16), lagu yang dipercayakan sebagai pembuka album, mampu menampilkan sisi glamor dan kharisma dari LUNA SEA itu sendiri. Sebuah lagu yang cukup megah. Pertama kali mendengar lagu MARIA (05:28), jujur, saya langsung jatuh cinta dengan lagu ini. Sedikit ballad dan tampil melankolis. Senandung yang diperagakan oleh Ryuichi memberikan keindahan tersendiri. Membuat saya sedikit penasaran dan bertanya bercerita tentang apakah lagu ini. Layak ditunggu translatenya. Oh iya, di sini bisa didengar gesekan biola yang dimainkan oleh Sugizo. Glowing (04:29), cukup berat serta bertenaga dengan tempo yang sedikit melambat. Walaupun hanya sebagai filler-track, saya suka dengan aksi solo gitar Sugizo di sini.
Berikutnya ada absorb (06:21). Sebuah lagu dengan durasi terpanjang yang bisa dijumpai dalam album ini. Biasa saja lagunya. Another filler-track, maybe? Metamorphosis (05:49) menampilkan sisi garang dan liar dari LUNA SEA. Musik (terutama kocokan-kocokan gitar Sugizo) pada bagian awal lagu sekilas mengingatkan saya dengan Blue Transparency. Shinya cukup intens memainkan pedal-drumnya. GIN NO TSUKI (05:35) juga merupakan lagu yang sangat asyik sekali untuk disimak. Akustik gitar yang catchy diimbangi dengan betotan bass dari J yang tegas. Dan lagi Sugizo menyumbangkan permainan biolanya di sini. Lagu terakhir sekaligus penutup album adalah Grace (05:11). Another ballad-song yang cukup anggun, dengan tambahan orkestra musik. Nice.
Overall, album A WILL, yang secara total berdurasikan 55 menit ini cukup oke untuk disimak. Jangan terjebak dengan masa lalu LUNA SEA. Segera move on. Dengarkan lagu-lagu dalam album ini dengan seksama. Sebab inilah sosok LUNA SEA sekarang! Ditunggu lagi rilisan-rilisan terbaru dari band yang terbentuk sejak tahun 1989 ini.
Semoga berkenan.
Secara keseluruhan album ini berisikan 11 track lagu. Dimana 4 buah lagunya sudah terlebih dahulu disimak melalui versi singlenya. Ke-empat lagu tersebut adalah Rogue (04:30), The End of the Dream (04:01), RUN (04:30) dan Thoughts (04:08). Rogue kental dengan sentuhan rock & roll yang keluar dari petikan-petikan gitar miliknya Sugizo. The End of the Dream sebuah lagu dengan nada up-beat yang bagian chorusnya (tarikan tinggi Ryuichi plus vibran khasnya itu) terasa sangat catchy sekali. RUN, siapa saja pasti menyukai lagu yang dijadikan theme song serial drama TV Toshi Densetsu no Onna ini. Sepintas mirip dengan lagu The End of the Dream sih. Thoughts, sebuah lagu yang intronya mengingatkan saya dengan lagu Rosier, merupakan tembang unggulan yang bisa disimak dalam album ini. I really love this song!
Anthem of Light (04:16), lagu yang dipercayakan sebagai pembuka album, mampu menampilkan sisi glamor dan kharisma dari LUNA SEA itu sendiri. Sebuah lagu yang cukup megah. Pertama kali mendengar lagu MARIA (05:28), jujur, saya langsung jatuh cinta dengan lagu ini. Sedikit ballad dan tampil melankolis. Senandung yang diperagakan oleh Ryuichi memberikan keindahan tersendiri. Membuat saya sedikit penasaran dan bertanya bercerita tentang apakah lagu ini. Layak ditunggu translatenya. Oh iya, di sini bisa didengar gesekan biola yang dimainkan oleh Sugizo. Glowing (04:29), cukup berat serta bertenaga dengan tempo yang sedikit melambat. Walaupun hanya sebagai filler-track, saya suka dengan aksi solo gitar Sugizo di sini.
Berikutnya ada absorb (06:21). Sebuah lagu dengan durasi terpanjang yang bisa dijumpai dalam album ini. Biasa saja lagunya. Another filler-track, maybe? Metamorphosis (05:49) menampilkan sisi garang dan liar dari LUNA SEA. Musik (terutama kocokan-kocokan gitar Sugizo) pada bagian awal lagu sekilas mengingatkan saya dengan Blue Transparency. Shinya cukup intens memainkan pedal-drumnya. GIN NO TSUKI (05:35) juga merupakan lagu yang sangat asyik sekali untuk disimak. Akustik gitar yang catchy diimbangi dengan betotan bass dari J yang tegas. Dan lagi Sugizo menyumbangkan permainan biolanya di sini. Lagu terakhir sekaligus penutup album adalah Grace (05:11). Another ballad-song yang cukup anggun, dengan tambahan orkestra musik. Nice.
Overall, album A WILL, yang secara total berdurasikan 55 menit ini cukup oke untuk disimak. Jangan terjebak dengan masa lalu LUNA SEA. Segera move on. Dengarkan lagu-lagu dalam album ini dengan seksama. Sebab inilah sosok LUNA SEA sekarang! Ditunggu lagi rilisan-rilisan terbaru dari band yang terbentuk sejak tahun 1989 ini.
Semoga berkenan.
Wednesday, December 11, 2013
FROZEN
Jangan remehkan film terbaru miliknya Walt Disney ini. Trailernya mungkin terlihat biasa. Demikian bila melihat poster filmnya. Tapi percayalah, cerita dari film animasi arahan sutradara Chris Buck dan Jennifer Lee ini begitu bagus sekali. Bisa saya katakan Frozen adalah film animasi terbaik Walt Disney pada beberapa tahun belakangan ini.
Frozen sendiri ceritanya mengambil (mengadaptasi) kisah tentang Putri Salju (The Snow Queen) yang sudah kita ketahui bagaimana detailnya. Namun kali ini dibuat dengan versi yang beda dan unik. Tersebutlah seorang putri raja bernama Elsa yang memiliki kekuatan sihir. Akibat salah paham dengan adiknya yang bernama Anna dan juga rakyat kerajaan yang takut dengan kekuatan yang dimiliki Elsa, Ia pun pergi meninggalkan kerajaannya. Di sebuah gunung Elsa mendirikan istananya sendiri dan merasa bebas tanpa terusik oleh siapapun. Namun sayangnya dia tidak mengetahui bahwa akibat ulahnya (yang tidak bisa mengontrol kekuatannya) itu keseimbangan alam terganggu. Kerajaan dilanda musim dingin; yang seharusnya sudah masuk musim panas. Anna pun berupaya untuk bertemu dan menolong serta menyadarkan sang kakak Elsa. Pertualangan pun dimulai. Di sini nantinya Anna akan bertemu dengan Kristoff, seorang pemuda yang terkesan urakan namun memiliki jiwa pemberani dan baik hati.
Film animasi yang dibalut dengan musikal ini menawarkan sesuatu hal yang asyik dibandingkan film-film animasi lainnya. Terasa old-skul namun justru di situlah letak kelebihannya. Lagu-lagu serta musik yang ditampilkan juga begitu menawan. Lihat saja bagaimana memukaunya Elsa pada bagian ini.
Bukan film animasi Walt Disney namanya bila tidak menawarkan kelucuan. Kelucuan bisa ditemukan melalui karakter boneka salju bernama Olaf. Dan juga seekor rusa miliknya Kristoff. Mampu membuat penonton tertawa renyah.
Alhasil, Frozen adalah film animasi yang anggun. Sebuah film menyambut Natal yang layak untuk ditonton oleh siapa saja. Baik itu yang muda maupun orang dewasa bahkan seluruh keluarga. Silakan buktikan sendiri jika tidak percaya.
Semoga berkenan.
Tambahan:
Di awal film ada sebuah film pendek Mickey Mouse yang berjudul Get a Horse. Kejutan yang menarik. Pada salah satu adegan di Get a Horse ada diperlihatkan sebuah karakter yang memakai kaos dengan gambar logo perisai Captain America. Salah satu taktik Walt Disney untuk mempromosikan film Captain America: The Winter Soldier yang akan rilis awal bulan April 2014 mendatang. Sebab Marvel Comics adalah perusahaan komik yang berada di bawah bendera Walt Disney. Wajar.
Frozen sendiri ceritanya mengambil (mengadaptasi) kisah tentang Putri Salju (The Snow Queen) yang sudah kita ketahui bagaimana detailnya. Namun kali ini dibuat dengan versi yang beda dan unik. Tersebutlah seorang putri raja bernama Elsa yang memiliki kekuatan sihir. Akibat salah paham dengan adiknya yang bernama Anna dan juga rakyat kerajaan yang takut dengan kekuatan yang dimiliki Elsa, Ia pun pergi meninggalkan kerajaannya. Di sebuah gunung Elsa mendirikan istananya sendiri dan merasa bebas tanpa terusik oleh siapapun. Namun sayangnya dia tidak mengetahui bahwa akibat ulahnya (yang tidak bisa mengontrol kekuatannya) itu keseimbangan alam terganggu. Kerajaan dilanda musim dingin; yang seharusnya sudah masuk musim panas. Anna pun berupaya untuk bertemu dan menolong serta menyadarkan sang kakak Elsa. Pertualangan pun dimulai. Di sini nantinya Anna akan bertemu dengan Kristoff, seorang pemuda yang terkesan urakan namun memiliki jiwa pemberani dan baik hati.
Film animasi yang dibalut dengan musikal ini menawarkan sesuatu hal yang asyik dibandingkan film-film animasi lainnya. Terasa old-skul namun justru di situlah letak kelebihannya. Lagu-lagu serta musik yang ditampilkan juga begitu menawan. Lihat saja bagaimana memukaunya Elsa pada bagian ini.
Bukan film animasi Walt Disney namanya bila tidak menawarkan kelucuan. Kelucuan bisa ditemukan melalui karakter boneka salju bernama Olaf. Dan juga seekor rusa miliknya Kristoff. Mampu membuat penonton tertawa renyah.
Alhasil, Frozen adalah film animasi yang anggun. Sebuah film menyambut Natal yang layak untuk ditonton oleh siapa saja. Baik itu yang muda maupun orang dewasa bahkan seluruh keluarga. Silakan buktikan sendiri jika tidak percaya.
Semoga berkenan.
Tambahan:
Di awal film ada sebuah film pendek Mickey Mouse yang berjudul Get a Horse. Kejutan yang menarik. Pada salah satu adegan di Get a Horse ada diperlihatkan sebuah karakter yang memakai kaos dengan gambar logo perisai Captain America. Salah satu taktik Walt Disney untuk mempromosikan film Captain America: The Winter Soldier yang akan rilis awal bulan April 2014 mendatang. Sebab Marvel Comics adalah perusahaan komik yang berada di bawah bendera Walt Disney. Wajar.
Sunday, November 24, 2013
Sebarkan Virus Underground di Palangka Raya
Yup, begitulah tajuk yang bisa dilihat pada rubrik KOMUNITAS, koran KALTENG POS, edisi hari Minggu, tanggal 24 November 2013. Dalam rubrik tersebut terdapat sekilas profile dari komunitas underground di kota Palangka Raya yang bernama PALANGKA RAYA METAL CORNER (biasa disingkat dengan PMC). Saya aktif di dalam komunitas ini. Dan kebetulan juga saya ikut mengetik artikel dalam media cetak harian tersebut.
Saat mengetik tulisan untuk rubrik ini, saya baru sadar bahwa kiprah PMC sudah mencapai 7 tahun lebih. Tentunya ini bukanlah sebuah waktu yang singkat. Banyak suka dan duka semenjak gabung dalam komunitas ini. Apalagi berbicara soal pengorbanan. Namun itu semuanya tidak menjadi sesuatu hal yang mengganjal baik di dalam hati maupun pikiran. Konsekuensi dari komunitas underground memang begitu. Contoh yang paling nyata adalah saat mengadakan DISTORSI MAXIMUM, sebuah event metal andalan miliknya PMC. Kadang kekurangan materi (akibat susahnya cari sponsor) harus digantikan dari kantong pribadi. Termasuk saya sendiri. Sadar akan kekurangan dana, saya menolak dikasih upah/honor/fee untuk menjadi MC (pembawa acara) dalam event tersebut. Yang penting acara sukses, saya sudah puas lahir batin.
Well, semoga dengan adanya profile singkat PMC di koran KALTENG POS tersebut dapat memperkenalkan lebih luas lagi akan keberadaan komunitas ini.
METAL NYAMAH MAHUTUS!
Saat mengetik tulisan untuk rubrik ini, saya baru sadar bahwa kiprah PMC sudah mencapai 7 tahun lebih. Tentunya ini bukanlah sebuah waktu yang singkat. Banyak suka dan duka semenjak gabung dalam komunitas ini. Apalagi berbicara soal pengorbanan. Namun itu semuanya tidak menjadi sesuatu hal yang mengganjal baik di dalam hati maupun pikiran. Konsekuensi dari komunitas underground memang begitu. Contoh yang paling nyata adalah saat mengadakan DISTORSI MAXIMUM, sebuah event metal andalan miliknya PMC. Kadang kekurangan materi (akibat susahnya cari sponsor) harus digantikan dari kantong pribadi. Termasuk saya sendiri. Sadar akan kekurangan dana, saya menolak dikasih upah/honor/fee untuk menjadi MC (pembawa acara) dalam event tersebut. Yang penting acara sukses, saya sudah puas lahir batin.
Well, semoga dengan adanya profile singkat PMC di koran KALTENG POS tersebut dapat memperkenalkan lebih luas lagi akan keberadaan komunitas ini.
METAL NYAMAH MAHUTUS!
Saturday, November 02, 2013
THOR: THE DARK WORLD
Thor: The Dark World tayang di Indonesia mulai hari Rabu tanggal 30 Oktober 2013 kemarin. Sedangkan untuk kawasan Amerika Utara akan dirilis tanggal 5 November 2013 mendatang. Berbahagialah kita yang tinggal di Indonesia. Mengapa Indonesia selalu selalu dapat jatah tayang paling duluan? Mungkin salah satunya dikarenakan antusiasme penggemar film Indonesia lebih heboh daripada di sana. Apalagi film-film superhero seperti ini biasanya meraup banyak pendapatan ketimbang di Amerika Utara itu sendiri.
Kembali ke laptop. Saya sudah menonton Thor: The Dark World. Secara keseluruhan saya suka dengan film arahan dari sutradara Alan Tylor (Game of Thrones) ini. Thor: The Dark World ceritanya lebih berisi dibandingkan film Thor tahun 2011 lalu. Menurut saya, film Thor sebelumnya hanyalah sebuah tempelan yang sengaja dibuat untuk melancarkan alur The Avengers. Makanya terkesan dangkal dan kurang menarik. Twist pada Thor: The Dark World tergolong oke. Memberikan surprise tersendiri bagi saya. Di sini juga bisa dijumpai candaan-candaan (berupa verbal) yang segar dan cerdas. Beberapa kali saya tertawa renyah dibuatnya. Untuk special effect tidak perlu diragukan lagi. Membawa kita ke suasana negeri dewa-dewi di atas awan dibalut sentuhan futuristik ala Star Wars. Kekurangan yang ada pada Thor: The Dark World mungkin adalah plotnya yang sedikit berantakan. Demikian juga karakter villainnya yang terkesan kacangan. Tidak memiliki kharisma layaknya peran antagonis seperti Loki yang diperankan oleh Tom Hiddleston.
Berbicara soal karakter Loki, bisa dikatakan Loki lah yang menjadi bintang dalam film Thor: The Dark World ini. Kredit diberikan kepada Tom Hiddleston yang memerankan Loki. Berkat dia filmnya lebih berwarna, lucu, konyol bahkan sampai dengan ngaco. Lantas bagaimana dengan Natalie Portman? Perannya sebagai Jane Foster biasa saja. Namun saya takjub dengan kecantikan dari perempuan yang sempat bermain di film V for Vendetta ini.
Oh iya, akan ada cameo dari Stan Lee di film ini. Juga ada cameo dari salah satu anggota The Avengers, yakni Captain America/Steve Rogers. Silakan ditunggu kemunculannya. Hadirnya Captain America berupa cameo di film ini sepertinya tidak lepas dari strategi Marvel (dan Walt Disney tentunya) untuk mempromosikan film Captain America: The Winter Soldier yang akan dirilis pada bulan April tahun 2014.
Bukan Marvel namanya bila tidak memberikan kejutan seperti biasanya, yaitu berupa bonus ending tambahan. Thor: The Dark World memiliki 2 buah ending tambahan. Yang pertama pada mid credit (di pertengahan) dan satunya lagi pada post credit (paling akhir setelah credit list selesai ditayangkan). Ending pada mid credit sepertinya berhubungan erat dengan film Marvel lainnya, Guardians of the Galaxy (rilis 1 Agustus 2014). Sedangkan ending pada post credit menandakan bakal ada sekuelnya. Sebab di situ diperlihatkan Thor telah menentukan pilihannya.
Kesimpulan akhir, Thor: The Dark World layak tonton. Semoga berkenan.
Kembali ke laptop. Saya sudah menonton Thor: The Dark World. Secara keseluruhan saya suka dengan film arahan dari sutradara Alan Tylor (Game of Thrones) ini. Thor: The Dark World ceritanya lebih berisi dibandingkan film Thor tahun 2011 lalu. Menurut saya, film Thor sebelumnya hanyalah sebuah tempelan yang sengaja dibuat untuk melancarkan alur The Avengers. Makanya terkesan dangkal dan kurang menarik. Twist pada Thor: The Dark World tergolong oke. Memberikan surprise tersendiri bagi saya. Di sini juga bisa dijumpai candaan-candaan (berupa verbal) yang segar dan cerdas. Beberapa kali saya tertawa renyah dibuatnya. Untuk special effect tidak perlu diragukan lagi. Membawa kita ke suasana negeri dewa-dewi di atas awan dibalut sentuhan futuristik ala Star Wars. Kekurangan yang ada pada Thor: The Dark World mungkin adalah plotnya yang sedikit berantakan. Demikian juga karakter villainnya yang terkesan kacangan. Tidak memiliki kharisma layaknya peran antagonis seperti Loki yang diperankan oleh Tom Hiddleston.
Berbicara soal karakter Loki, bisa dikatakan Loki lah yang menjadi bintang dalam film Thor: The Dark World ini. Kredit diberikan kepada Tom Hiddleston yang memerankan Loki. Berkat dia filmnya lebih berwarna, lucu, konyol bahkan sampai dengan ngaco. Lantas bagaimana dengan Natalie Portman? Perannya sebagai Jane Foster biasa saja. Namun saya takjub dengan kecantikan dari perempuan yang sempat bermain di film V for Vendetta ini.
Oh iya, akan ada cameo dari Stan Lee di film ini. Juga ada cameo dari salah satu anggota The Avengers, yakni Captain America/Steve Rogers. Silakan ditunggu kemunculannya. Hadirnya Captain America berupa cameo di film ini sepertinya tidak lepas dari strategi Marvel (dan Walt Disney tentunya) untuk mempromosikan film Captain America: The Winter Soldier yang akan dirilis pada bulan April tahun 2014.
Bukan Marvel namanya bila tidak memberikan kejutan seperti biasanya, yaitu berupa bonus ending tambahan. Thor: The Dark World memiliki 2 buah ending tambahan. Yang pertama pada mid credit (di pertengahan) dan satunya lagi pada post credit (paling akhir setelah credit list selesai ditayangkan). Ending pada mid credit sepertinya berhubungan erat dengan film Marvel lainnya, Guardians of the Galaxy (rilis 1 Agustus 2014). Sedangkan ending pada post credit menandakan bakal ada sekuelnya. Sebab di situ diperlihatkan Thor telah menentukan pilihannya.
Kesimpulan akhir, Thor: The Dark World layak tonton. Semoga berkenan.
Subscribe to:
Posts (Atom)




